
Nisa kini bekerja di salah satu perusahaan properti ternama di Bali. Ia jadi semakin menyukai Pulau Dewata karena jauh dari omelan Pakde, Bude, Mamih, dan Papihnya. Sayangnya, karena keanggunan dan tampangnya yang memang lumayan, Nisa pun jadi banyak yang naksir. Hal ini membuat dirinya mulai agak goyah dengan perasaannya terhadap Jino.
Bahkan sekarang Jino jadi sering diabaikan begitu saja. Secerewet apapun Nisa di rumah, ia menjelma bagai bunglon betina ketika di kantor. Karakter asal jeplak dan ceplas-ceplos ia tangguhkan dan sembunyikan. Sehingga para gadis jones semakin iri melihat image baik yang ditampilkan nyata oleh Nisa.
"Yank!" teriak Jino. Satu tangannya melambai pada Nisa. Gadis itu mendengkus kesal. Pasalnya ia sudah peringatkan Jino untuk tidak menjemputnya lagi.
Seorang pria di sebelah Nisa tampak memicing curiga. Ia adalah Rasya, atasan sekaligus salah satu kandidat gebetan Nisa yang ia elu-elukan masuk jajaran cogan termumpuni tahun ini. Wajah tampan, dompet penuh, kerjaan mapan, rumah punya sendiri, dan paling penting adalah dia baru saja sebulan resmi jadi joren alias jomblo keren. Siapa yang tidak akan kepincut pesona karunia Tuhan seindah ini? Dikirim secara gratisan tanpa perlu biaya paket atau lain-lain. Sudah langsung ada di tempat.
"Siapa itu? Cowokmu?" tanya Rasya mengangkat dagu. Arahnya menunjuk sosok Jino. Untung ia tak terlalu jelas Jino memanggil Nisa dengan sebutan 'yank.'
Kasihan sekali Jino, penampilannya kuyu dengan topi sedikit robek di sisi kanan. Ia memang selalu sederhana dan apa adanya. Mobil kerjanya sebagai taxi online pun juga hasil pinjam milik kakak iparnya yang baik hati.
Nisa tak acuh. Ia meminta Rasya masuk mobil lebih dulu, sementara ia akan menyusul nanti. "Aku samperin driver-nya dulu ya. Tadi terlanjur pesen. Biar ku-cancel aja," dalih Nisa sangat pandai lidah manjanya berkelit. Sepertinya itu turunan dari mamihnya yang juga pintar sekali merayu sang papih.
Tanpa menaruh curiga secuil pun, Rasya berlalu menuju area parkir. Langkahnya tegap bak model papan bawah sedang belajar cat walk secara otodidak tentunya.
__ADS_1
"Kamu ngapain sih ke sini?!" protes Nisa begitu kaki jenjang dengan rok mini warna marunnya berada tepat di depan Jino.
"Jemput pacar aku lah."
"Udah kubilang jangan pernah jemput aku di sini! Ngeyel banget sih jadi cowok! Sana pulang!"
Jino tak mendengarkan ocehan Nisa. Baginya itu hal biasa. Namun, ia lebih tertarik pada paha mulus di bawah sana. Matanya mendelik tak suka. Buru-buru Jino melepas jaket, kemudian melilitkan di pinggang Nisa. Gadis itu meronta ingin melepaskan ikatan jaket yang berhasil menutupi area pribadinya.
"Apaan sih?!"
"Nanti kamu masuk angin! Banyak buaya darat di pinggir jalan tahu!"
Jino mengangkat bahu cuek. "Ayo pulang?" ajaknya.
"Aku bareng temen. Kamu pulang aja duluan." Nisa melepas lilitan jaket di pinggang rampingnya.
__ADS_1
"Temen?"
"Iya. Kenapa?"
"Oh nggak apa-apa kok. Yaudah hati-hati di jalan ya?"
Nisa hanya melengos tanpa menggubris. Ia melempar jaket Jino ke pemilik seakan itu barang rongsokan tak berguna. Jino hanya menarik napas dalam. Kemudian ia masuk ke dalam mobil. Mematut diri di kaca spion. Sesekali membenarkan topinya. "Kita lihat saja nanti. Pacarmu boleh ganti-ganti, cowokmu boleh sana-sini, gebetan boleh itu-ini. Tapi siapa yang berani nikahin kamu, dia yang menang! Maksudnya, cuma aku!" ocehnya percaya diri.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
Hai gais? Apa kabar? Ada yang kangen dengan First Night? Menimbang diriku bahagia karena baru dapat kabar tentang kesempatan kontrak dengan Mangatoon, maka dengan senang hati aku akan membuat First Night Season 2. Uhuiiiy.
Tetap dukung author ya, biar makin semangat menulis. Makasih man-teman semua.
Kuy, like dan komennya ditunggu sangat ya gais. Makin sering kalian komen, makin seneng author lanjutin loh. Hehe. ^^
__ADS_1
Btw, dikarenakan diriku baru ke luar dari RS, maka part. selanjutnya kemungkinan akan ku up lagi mulai tanggal 1 Maret. ^^
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=