FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab. 6 - Jino Patah Hati


__ADS_3

Malam ini kediaman Alena menjadi agak penuh. Rendra datang bersama Rasya untuk menyelesaikan kesalahan yang dibuat oleh Rasya. Jino juga masih ada di sana. Ia tak sudi melihat wajah rival yang berhasil menghancurkan cita-citanya menikahi sang pujaan. Bukan karena cowok itu tak punya nyali untuk menantang cowok sekelas Rasya Aditama Raharja. Ia hanya berusaha mengalah demi membiarkan keadaan Nisa kembali tenang seperti sedia kala.


"Jadi gimana? Aku belum kasih tahu Nevan soal Nisa. Aku nggak mau dia emosi disaat papah mamah butuh dia di sana." Alena membuka obrolan.


Mereka berempat duduk berhadapan. Rendra dan Rasya di kursi panjang. Alena memangku kepala Yasmin. Gadis kecil itu agaknya sudah sangat mengantuk. Kemudian Jino berdiri di ambang pintu tengah dengan bersandar tembok. Dua tangan terlipat di dada. Telinganya fokus mendengarkan percakapan tiga orang tersebut.


"Gini, Kak. Saya memang dari awal ingin melamar Nisa. Tapi dia susah diajak komitmen."


Raut muka Alena sedikit mengeras. "Maksudnya? Terus kamu tidurin dia gitu? Nggak punya hati banget sih jadi manusia!"


"Bukan gitu, Kak."


"Bukan?! Terus apa?!"


Suara tinggi Alena membuat Yasmin terbangun. Rendra meminta tolong Jino membawa Yasmin masuk lebih dulu. Agar perbincangan lebih lancar. Jino pun menggandeng Yasmin dan mengantarnya ke kamar.


"Gini Len, Rasya udah ngaku salah. Tapi dia nggak beneran melakukannya sama Nisa." Rendra berusaha menengahi dengan tenang.


"Maksud Kak Rendra apa?"


Rasya pun membongkar seluruh kedoknya dengan suara amat pelan. Ia tak ingin Nisa sampai mendengar rencana nekad yang ia susun dengan rinci. Jelas saja Alena langsung terlonjak berdiri dari duduknya.


"Apa sih ini maksudnya?! Nggak ngerti aku!" Alena mengurut kening frustrasi. Ia merasa tengah ada dalam sinetron tak jelas yang sering tayang di televisi. Dengan kisah drama simpang siur dan berputar-putar. Sangat menjemukan dan menyebalkan sekali.


"Kak, saya justru ingin minta dukungan supaya bisa menikahi Nisa. Saya baru kenal Nisa sebulan. Tapi saya sudah punya rasa lebih sama dia. Saya nggak mau kejadian buruk dengan mantan saya terulang lagi. Kali ini saya ingin benar-benar serius." Rasya menekankan kalimat terakhir yang barusan ia katakan dengan ketegasan dan ritme sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Aku nggak tahu. Yang jelas aku nggak suka cara kamu. Nevan pun pasti nggak akan bisa terima. Kalau kamu beneran cinta sama Nisa, usahakan dia dengan cara yang baik. Bukan memanipulasi keadaan begini. Itu malah bikin Nisa trauma!"


Dari sudut tertentu, Jino mendengar percakapan mereka. Ia menarik napas lega mengetahui kebenaran yang nyata. Kesabarannya membuahkan hasil. Setidaknya dengan begini ia masih punya kesempatan mendapatkan kepercayaan Nisa.


Mendengar sayup-sayup dari luar, Nisa yang tak tahan pun akhirnya muncul dengan piama polkadot kesayangannya. Rambutnya hanya digulung dengan ikatan asal. Poni depan favoritnya terlihat acak-acakkan.


"Nisa-"


Kalimat Jino ditahan oleh jemari lentik sang gadis. Ada aroma belum mandi terendus di hidung eksklusif Jino. Untung dia sayang, kalau tidak pasti sudah berkomentar dengan omelan.


"Diem! Jangan berisik!" tuntut Nisa. Gadis itu sengaja mengunci tubuh Jino yang kuwalahan menahan diri. Posisi mereka benar-benar hampir menempel satu sama lain. Jino menahan napas sejenak.


"Kamu nggak mandi dari kapan sih?" bisik Jino tak tahan.


"Hah? Kok tahan? Depresi apa males mandi?!"


"Dua-duanya sih. Kenapa? Nggak suka?"


"Bukan gitu. Tapi-"


"Sstt! Udah diem!" Kali ini Nisa pindah posisi di sebelah Jino. Keduanya mengendap pasang telinga kuat-kuat. Ingin tahu lebih lanjut diskusi apa yang tengah ada di meja bundar Alena.


"Pokoknya aku nggak mau ikut campur. Kasih tahu Nisa yang sebenernya!" Alena sudah duduk kembali dengan lebih tenang.


"Kak, please, saya mau nikahin Nisa, Kak." Rasya setengah memelas penuh harap.

__ADS_1


Nisa tak tahan lagi. Ia menampakkan diri dan langsung membuat suasana jadi hening sesaat.


"Oke kita akan nikah!" ujarnya lantang.


Jino terpaku di tempat. Ia lunglai menyandar tembok setelah mendengar pernyataan Nisa. Tanpa sadar badannya merosot hingga terjongkok. Hatinya remuk redam bagai disayat belati. Atau perutnya mendadak perih seperti usai dioperasi cesar akibat usus buntu. Jino makin lemah tak berdaya. Sebagai seorang lelaki penyayang, ia telah kalah telak pada kenyataan. Bahwa Nisa lebih memilih bersama pria lain ketimbang memperjuangkan cinta bersama Jino. Sungguh kemalangan tak terduga.


"Om Jino mau pipis?" suara Yasmin kecil membuyarkan pikiran kosong Jino. Entah bagaimana Yasmin bisa kembali dan menghampiri Jino.


Jino memeluk Yasmin sebagai pelampiasan lukanya. "Om Jino patah hati, Yasmin," katanya menahan sesak.


Yasmin meloloskan diri dari pelukan Jino. Ia berlarian perlahan menuju laci di bawah televisi. Meraih seonggok selotip cokelat dan kembali pada Jino. Disodorkannya perekat itu dengan tampang tak bersalah.


"Momi pakai ini kemalin."


Jino makin ambyar. Yasmin teringat Alena merekatkan patahan pensil mainan milik Yasmin dengan benda tersebut. Ia pikir semua hal akan menyatu kembali dengan lakban.


Jino pun tersungkur dan merobek paksa selotip dan menempelkannya sembarangan di dada. "Ngenes amat nasibku ... " lirihnya mengiba.


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


Hmm. Apakah ini akan jadi akhir kisah Nisa dan Jino? Belum tentu ya, apapun bisa terjadi sebelum janur kuning melengkung dan ada kata SAH. #tuingtuing


Kuy komeng di bawah, sapa tempe komeng kalian menginspirasikuh. ^^


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2