
Yasmin kecil berlarian di pelataran rumah. Langkahnya menghampiri ayahnya yang baru pulang dari Jakarta. Lengan Nevan langsung membentang menyambut putri mungilnya yang semakin pintar.
"Daddy, Yasmin kangen," katanya seolah mengerti apa itu kangen diumurnya yang belum genap empat tahun. Sungguh perkembangan yang luar biasa.
"Siapa yang ajarin?"
"Momi tidul tapi bilang kangen daddy," bongkar gadis cilik itu sambil mengelus pipi ayahnya.
Pandangan Nevan beralih pada Alena yang sibuk menyembunyikan rasa malunya. Ia ketahuan mengigau oleh putrinya dan diadukan langsung di depan matanya. Bagus sekali, sekali mendayung Alena pun tenggelam ke dasar kolam kosong. Pipinya bersemu merah.
"Sini kopernya." Alena mengambil alih koper di sebelah Nevan. Tapi Nevan menariknya kembali. Ia langsung mengambil kesempatan untuk melayangkan kecupan manis di pipi Alena yang kian merona. "Miss you too, Beib," goda Nevan mengerling nakal.
"Ish apa sih, malu tahu dilihat Yasmin. Nanti ditiru," keluh Alena.
"Yaudah nanti lanjut di kamar aja ya?" bisik Nevan. Sebuah cubitan pelan mendarat di lengan Nevan.
"Oh iya, mana si tukang rusuh?" Nevan mencari adiknya. Ia sudah geregetan ingin dengar kronologi cerita tentang curhatan Jino yang tak sempat dibalas.
"Belum balik. Tadi ke luar sama Jino."
"Hah? Katanya mau nikah sama cowok lain?" Nevan bingung. "Tuh anak makin gede makin nggak jelas," dumelnya.
"Kamu kok tahu? Aku kan belum berani kasih tahu kamu?" Alena linglung.
"Jino cerita. Tapi nggak sempat kutanggapin, papih lagi bener-bener ambruk kemarin. Mana mamih juga rewel lagi nangis terus merengek kayak bayi baru lahir. Pusing aku sendirian di sana. Si Nisa disuruh nyusulin malah banyak alasan. Tiba-tiba mau nikah. Bener?"
"Masuk dulu deh. Kamu belum makan kan? Aku udah siapain rica-rica ayam sama sayur sawi. Nanti soal Nisa, kita bicarakan kalau anaknya udah di rumah aja ya?"
Nevan hanya menarik napas panjang. Firasatnya selalu tak enak kalau sudah membahas masalah adiknya yang super rempong itu. Sebenarnya Nisa ngotot ingin kos sendiri, tapi karena Nevan khawatir dengan tabiat Nisa yang sering tanpa pikir panjang itu, ia pun tak mengizinkan. Nisa tak bisa melawan, karena ia hanya punya dua pilihan, boleh kerja di Bali asal tinggal bersama Nevan dan Alena. Atau kembali ke Semarang membantu pakde dan budenya mengelola pusat oleh-oleh bandeng presto dan lumpia di sana.
Jelas saja Nisa ogah balik ke penjara umum, begitu menurutnya. Di sana apa-apa tidak boleh dan selalu dibatasi. Kebebasan Nisa sangat dikendalikan.
Usai mandi, Nevan langsung makan dan bermain bersama Yasmin di ruang televisi. Alena menyiapkan camilan brownis kukus yang ia buat siang tadi.
"As'salam'mualaikum wahai calon penghuni surga?" suara lantang Nisa membuat mereka mendongak kilat. Jino tersenyum di belakang Nisa.
"Wa'ailaikumsalam," jawab Alena sembari memotong brownisnya.
"Eh, Kakakku yang ganteng udah pulang? Sehat, Kak? Gimana kabar Gita? Katanya kalian ketemuan? Cie nostalgia sama mantan. Kak Lena-"
__ADS_1
Sebuah bantal sofa persegi baru saja mendarat di muka Nisa. Nevan bangkit dan langsung mendekati Nisa. Adiknya segera bersembunyi di balik punggung Jino.
"Sini kamu!" Nevan tak tahan ingin menjewer si tukang kompor. Namun, belum sempat jemari Nevan meraih telinga sang adik, Alena lebih dulu menjewer telinga suaminya. "Aduh, sakit, Sayang ... " rintih Nevan.
Nisa hanya menjulurkan lidah penuh kemenangan.
"Kamu ikut aku! Nisa, Jino, tolong ajak Yasmin main dulu di luar!" perintah Alena langsung dilaksanakan oleh Jino dan Nisa.
Alena menarik Nevan ke kamar dengan kekesalan yang sudah sampai ubun-ubun. Ia melepas jeweran dan meniup poninya kuat-kuat. Tanda bila ia tengah dilanda marah yang menggunung.
"Nggak sabar, Sayang? Yaudah ayok langsung aja? Mau berapa ronde?" Nevan berusaha mengalihkan topik. Tapi sebuah tendangan Tsubasa Ozora justru menjadi santapan hangat lutut Nevan.
"Kamu ketemuan sama mantanmu?! Hah?!"
"Nggak, bukan gitu ceritanya! Dengerin dulu ya, Sayangku?" rayu Nevan. Sebenarnya dalam hati ia dag dig dug der.
"Bagus ya, ambil kesempatan dalam kesempitan. Pantesan kamu mau marahin Nisa karena nggak nyusul. Supaya kamu bisa banyak waktu ketemuan sama mantanmu?! Terus Nisa yang jaga mamah papah?! Dasar buaya kolong langit!" murka Alena meluap-luap.
Nevan makin kelabakan untuk menjelaskan. Ia memang bertemu dengan mantannya, tapi itu tanpa disengaja. Itu pun juga karena Gita menjenguk papah Nevan di rumah sakit. Tapi sekarang dia hilang kata-kata sekadar untuk menjelaskan fakta.
"Kenapa diem?!"
"Kenapa pasrah? Bingung mau jelasin apa?!"
"Ngomong dong, Nevan!"
Nevan masih bungkam.
"Oke. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku aja! Yasmin kubawa!"
Nevan menarik lengan Alena hingga keduanya terjungkal ke atas kasur. Dua tangan Alena ditahan oleh Nevan supaya tidak banyak bergerak. Posisi Nevan di atas tubuh Alena, cukup mumpuni mengunci istrinya agar lebih tenang.
"Lepasin aku!" Alena meronta.
"Nanti kulepasin. Aku telepon mamah dulu, terus kamu tanya sama mamah. Aku yakin, kalau aku yang ngomong, kamu pasti nggak akan percaya gitu aja."
Alena terdiam di tempat. Nevan merogoh saku celana pendek selututnya, menarik ponsel dari dalam sana. Kemudian langsung menghubungi ibunya.
"Halo, as'salam'mualaikum? Udah sampai, Nak?"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Udah, Mah tadi jam setengah tujuh-an. Mah, Alena mau ngomong nih?"
Nevan me-loudspeaker suara dan menyerahkannya pada istrinya.
"Halo, Mah."
"Iya, Len. Kenapa? Gimana di sana? Yasmin udah mendingan?" tanya ibu Nevan, karena saat Nevan kembali ke Jakarta Yasmin memang tengah agak demam. Itu sebabnya Alena dan Yasmin tidak ikut menjenguk.
"Alhamdulillah, sudah Mah. Papah gimana, Mah?"
"Papah udah baikan kok. Udah di rumah ini."
" Syukurlah kalau begitu. Alena boleh tanya sesuatu nggak, Mah?"
"Tanya aja, Nak."
"Nevan katanya ketemu Gita atau siapa itu ya, Mah?"
Suara di seberang terdengar cekikikan. "Aduh, mantu Mamah cemburu ya?"
"Nggak, Mah, cuma tanya aja." Alena menahan malu setengah mati.
"Si Gita itu ke rumah sakit buat jenguk papah. Ya mereka ketemu kan karena Nevan jagain papah. Setahu Mamah sih cuma say hai aja. Soalnya datangnya juga sama keluarganya kok, nggak sendirian." jelas ibu Nevan panjang lebar.
Raut wajah Alena meluruh kikuk. Pandangannya meneduh kembali membuang segala prasangka buruknya. Ia baru saja merasa telah diprofokasi oleh adik iparnya. Atau lebih tepatnya dikerjai oleh Nisa. Setelah mengakhiri panggilan, Nevan merebut kembali ponsel dan melemparnya sembarangan ke bawah sana. Tidak akan pecah karena karpetnya berbulu halus.
"Udah puas, Sayangku?" Nevan menjawil hidung Alena gemas.
Alena menggeleng malu. Hingga dua tangannya merangkul leher Nevan. Memaksa dua wajah mereka bertemu dalam ciuman mesra.
"Mau kamu .... " Nevan berbisik lembut.
\=\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=\=
Tralalalatrililili ada yg kangen Nevan Alena?? Hoho
Visual sebagai Yasmin
__ADS_1