FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[SEASON 3] - Bab. 5


__ADS_3

Rasti mengajak Raka menuju resto hotel di lantai dasar. Tepat menghadap ke arah panorama lautan biru yang membentang indah dari kejauhan. Karena letak lokasi hotel memang agak di bagian atas. Tidak di dasar atau pinggir jalan pas. Jadi, masih bisa melihat keindahan pantai yang seperti lukisan alam secara nyata ini.


Keduanya memesan makanan. Sambil menunggu hidangan siap oleh pelayan, Rasti mengalihkan pandang ke sekeliling. Ikatan rambutnya agak kendur, ia membenarkannya. Sesaat Raka sempat dibuat terhenyak menatap geraian rambut istrinya yang panjang tersibak oleh semilir angin. Namun, cepat-cepat ia enyahkan pikiran melantur itu.


Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Raka sibuk main game di ponsel. Sampai pelayan datang mengantar pesanan. Keduanya mulai sibuk berkutat dengan sarapan pagi yang lumayan hampir kesiangan.


"Apa makanan kesukaanku?" tanya Rasti membuka obrolan ringan.


"Mana gue tahu. Lo yang demen, gue yang ditanya."


"Ehem. Kok manggilnya masih lo gue sih? Mau di-cancel perjanjiannya?"


Raka memberengut seraya membuang napas kasar. "Iya iya. Sensi amat jadi cewek. Kamu... hais, lidah gue berasa ketekuk-tekuk! Shit!" umpatnya belum terbiasa. Rasanya geli sendiri ketika memulai sesuatu yang tak biasanya ia lakukan. Sementara Rasti berusaha menahan senyum susah payah.


Ia terngiang obrolan semalam dengan Alena. Tak semata-mata dilandasi dendam kesumat ia berani ambil keputusan seperti ini. Ia dapat saran dan nasihat berarti dari temannya itu. Kalau dipikir-pikir, benar juga apa yang dibilang Alena padanya. "Laki-laki itu nggak akan bisa berubah kalau dibiarkan terus. Makin kita kasih kebebasan, ya makin kita nggak dihargai di matanya. Kamu harus berani atur strategi lebih tegas. Taklukan dulu dengan kelemahannya, logikanya. Baru hatinya. Aku yakin, kamu pasti bisa!"

__ADS_1


Ucapan Alena terus terngiang di kepalanya. Alena memang sengaja menelepon Rasti semalam. Ia tak bermaksud mengadu domba sepasang kekasih halal. Hanya saja, ia tak suka ada temannya diperlakukan semena-mena seperti dikhianati begitu. Dan akhirnya, Rasti yang dirundung penat pun menceritakan semua kronologi rumah tangganya pada Alena. Dari sana lah ia berhasil menyusun sebuah strategi rahasia. Dan Alena pun berjanji siap membantu kapan pun Rasti butuh pertolongannya.


"Kamu suka warna merah. Suka makanan nggak pedas. Suka main game kalau bosen. Suka koleksi jam tangan mahal. Ah, satu lagi, suka lupa sama istri sendiri. Aku hafal kan?" sindir Rasti. "Sekarang gantian kamu."


Raka terbatuk mendengar kalimat terakhir Rasti barusan. "Maksudnya?" katanya seraya meneguk segelas air mineral.


"Aku suka warna hijau. Suka pantai. Suka keindahan. Suka hal-hal romantis. Suka makanan pedas. Dan suka kamu... Catat itu baik-baik. Aku nggak akan mengulanginya lagi.


Sebentar Raka terdiam. Rasti sangat blak-blakkan. Ia merasa aneh, seakan di hadapannya adalah Rasti orang lain. Caranya mengatakan bahwa ia menyukai Raka terkesan sangat berani tapi juga natural. Entah kenapa, jantung Raka sedikit berdebar mendengar hal tersebut. Ia pikir, Rasti akan selamanya menurut dan pasif sebagai istri. Perubahan yang amat mendadak sekali.


Rasti hanya mengangkat bahu cuek. Lalu melanjutkan makan. Ia sengaja mengoleskan mayones di dekat bibir. Kemudian meminta suaminya membersihkannya.


"Apaan? Kamu kan punya tangan, bersihin sendiri ngapa!"


Rasti menggeleng, senyum manis terkembang di sudut bibirnya. Alhasil, Raka pun cuma bisa mengalah. Ia meraih tisu dan membantu mengusapnya hingga bersih. "Udah, puas?! Manja banget," keluhnya sebal.

__ADS_1


"Suatu saat, kamu akan rindu kemanjaanku kayak gini. Jadi, sebaiknya jangan mengumpat apapun lagi. Bersyukurlah. Setidaknya, istrimu ini bisa menerima kamu apa adanya."


"Memangnya gue minta?"


"Kalau pasangan harus minta dulu baru dikasih, itu namanya bukan pengertian, tapi tuntutan. Dalam pernikahan nggak ada kayak gitu. Harus saling mengerti satu sama lain."


"Kenapa elo, eh kamu, nggak jadu filosof aja sih. Teorinya panjang banget kayak jalan raya."


Lagi-lagi Rasti tersenyum sambil geleng kepala. "Kamu itu kelihatan strong di luar aja ya. Jauh di dalam, kamu nggak sekuat kelihatannya."


"Maksudmu apa?!"


"Raka, kalau kamu terus memandang semua perempuan sepertiku sama seperti seseorang di masa lalumu, sampai dunia hancur pun kamu nggak akan pernah bisa menikmati kesempatan hidup yang diberikan Tuhan ke kamu."


Sendok dan garpu di pegangan tangan Raka terlepas. Jatuh ke pirinh dan menimbulkan dentuman singkat. Ia menengadah menatap wajah istrinya penuh keheranan. Seolah bertanya dari mana kamu tahu?

__ADS_1


\=\=\=\=\=🌹Bersambung🌹\=\=\=\=\=


__ADS_2