
Pengajian baru saja selesai, semua tamu berpamitan pulang setelah beberapa orang mencoba menguatkan hati keluarga yang ditinggalkan. Jaka meminta Jino untuk bicara empat mata dengannya. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Kedua orang itu duduk di teras depan rumah. Makan pun tak berselera, minum pun terasa pahit bahkan tak mengurango dahaga yang terasa menghimpit tenggorokan.
Jino masih melamun menatap malam yang gulita. Langit mendung hanya sebiji dua biji bintang dapat dilihat mata.
"Begini, No. Besok mobil itu mau aku jual."
Jino terperangah mendengar kalimat Jaka barusan. Bencana apa lagi yang akan menimpa batin Jino sekarang? Usai kakaknya pergi, kini satu-satunya alat untuknya mengais rezeki pun hendak raib dari pegangannya. Jino masih diam, mendengarkan ucapan Jaka selanjutnya. Ia memang tak ada hak atas mobil itu. Sebab, mobil tersebut hanya pinjaman alias titipan dari Jaka.
"Biaya persalinan kan sudah nggak semuanya ditanggung BPJS lagi, Hesti juga operasi sesar kemarin. Biayanya lumayan membengkak karena terlanjur dibawa ke rumah sakit swasta juga. Rumah ini juga sudah jatuh tempo pelunasan sisanya. Kalau nggak segera dirampungin, nanti malah disita balik." Jaka membuang napas sebentar, sebelum melanjutkan kembali ucapannya. "Makanya mobil aku tawarin ke temen. Lumayan ada yang mau beli sedikit lebih mahal dari harga pasaran. Biar sisa cicilannya dia yang lanjutin."
"Iya, Kak. Nggak apa. Nanti Jino cari kerjaan lain," lirih Jono. Pikirannya sudah kosong melompong.
"Kamu tinggal di sini aja ya sama Nisa? Bantu jagain keponakanmu juga. Nggak apa kan, No?"
Jino mengangguk saja. Nisa curi dengar dari balik jendela yang tepat menghadap kursi mereka duduk. Pintunya ada di sisi kanan tepat di samping Jino duduk. Gadis itu menghela napas kuat, berusaha menetralisir kekacauan di benaknya. Ia mengendap pelan masuk ke kamar sembari menggendong bayi mungil yang belum sempat diberi nama.
"Kasihan kamu. Tapi Tante pasti akan jagain kamu." Nisa menimang bayi Hesti dan Jaka. Ia jadi makin ingin cepat punya anak sendiri. Tapi saat ini bukan saatnya memikirkan hal demikian. Suasana duka masih menyelimuti, mana mungkin Nisa akan dengan tega memaksa Jino untuk melanjutkan malam pertama mereka yang tertunda.
Dering ponsel Nisa berbunyi. Ada telepon masuk dari Risma, teman baiknya di Semarang. Nisa menidurkan bayi kecil di tempat tidur, dan mengangkat telepon sembari berlari ke dekt jendela. Agar suaranya tidak terlalu berisik dan mengganggu si bayi yang tengah tertidur pulas.
"Halo, Nis. Kamu baik-baik aja kan?! Aku lihat di Instagram storymu, kamu baru nikah udah berduka. Yang kuat ya, Nis. Semoga suamimu tenang di surga-Nya."
"Heh, kamu ngomong apa sih, Ris?! Ngawur! Siapa yang bilang Jino udah nggak ada?!" Nisa meninggikan suara tanpa berteriak. Ia hanya menekanan kata-katanya saja.
__ADS_1
"Lhoh, jadi siapa yang meninggal?"
"Kakak iparku! Lagian kamu kalau ngomong disaring dulu napa! Aku juga nggak mau jadi janda kempling duluan!" Nisa merinding sendiri tak berani membayangkan. Ia tak mau kehilangan Jino secepat itu atau selambat apapun. Setidaknya harapannya, ia ingin menua bersama suaminya.
"Eh tunggu bentar deh, jangan bilang kalian berdua belum uhuk-uhuk?"
"Belom, kenapa?"
"Waduh."
"Namanya juga lagi berkabung, mana sempat sih mikirin kayak gitu!" Nisa setengah kesal.
"Yaudah deh, Nis ditahan aja dulu. Percaya deh, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Setelah kesedihan pasti akan ada saatnya kebahagiaan datang. Pisang goreng aja jadi camilan enak setelah melewati panasnya wajan kan? Kamu pasti bisa melewati semua ini, Nis. Tetap semangat ya!" Risma setulus hati memberi motivasi pada sahabat karibnya. Ia merasa bersalah juga tak bisa ada di dekat Nisa ketika Nisa dalam kesusahan begini.
"Thanks ya Ris. Semoga kamu cepetan nyusul nikah."
"Aku ambilin makan ya? Kamu kan dari pagi belum sempet makan. Nanti sakit, aku ikutan sakit loh."
"Nanti aja, belum laper."
Nisa mendekati Jino. Digenggamnya jemari Jino penuh perasaan sayang dan pengertian. "Kita makan sama-sama ya? Aku juga lapar, kamu pasti lapar kan?" rayu Nisa tak menyerah begitu saja. Ia sedih melihat Jino bermuram durja dan tidak mau makan sama sekali. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bahkan tampak kering kerontang.
"Kamu makan aja duluan, aku mau istirahat aja," tolak Jino malas.
__ADS_1
Nisa berpikir sejenak. Ia ambil inisiatif pergi ke dapur dan menyiapkan makan malam. Tadi Alena dan Nevan membawakan nasi kotak untuk mereka. Kakaknya dan iparnya sangat pengertian, mereka tahu kalau Nisa, Jino dan Jaka pasti belum makan.
"Mau makan, Nis?" Suara Jaka masih serak akibat sisa tangis.
"Iya, Kak. Mau makan juga ya? Biar Nisa siapin sekalian." Nisa langsung mengambil tambahan piring. Memindahkan nasi beserta lauk dalam kotak ke atas piring. Ia juga menyiapkan segelas air putih di atas meja, lalu segelas lagi diletakkan di atas nampan bersama sepiring makanan untuk Jino.
"Makasih. Oh ya, tolong jagain Jino dan si kecil ya sementara waktu?" pinta Jaka menahan kesakitan jiwanya. Ia masih belum percaya kalau istrinya baru saja pergi untuk selamanya.
"Kak, jangan berpikir kalau Kak Hesti ninggalin kita buat selamanya. Beliau hanya sedang menunggu kita di tempat yang lebih baik dan indah. Jadi, Kak Jaka juga harus tetap semangat! Nggak apa menangis sekarang, tapi besok harus senyum lagi. Karena Kak Hesti pasti bahagia kalau lihat orang yang disayangi bahagia."
\=\=\=\=\=\=\=
"Yank, makan yuk? Sepiring berdua kan romantis," tawar Nisa setengah merayu. Jino tak bergeming, hanya menggeleng saja.
"Emh, ayam sambal matahnya enak banget, Yank! Aku tadi nggak selera jadi napsu makan!" racau Nisa sengaja memanasi. "Aish, lebih enak kalau makannya sama kekasih halal ya? Berpahala," imbuhnya melirik Jino.
Cowok itu langsung turun dari tempat tidur dan duduk bersila di atas karpet. Ia menghadap Nisa, sedetik kemudian Nisa menyuapkan sesendok makanan ke mulut Jino. Jino mengunyah makanan susah payah. Melihat senyum cerah Nisa, hati Jino bergemuruh hebat. Gadis itu laksana nutrisi yang mengisi kehampaan nilai gizi dalam tubuh Jino.
"Nah gitu dong." Nisa menyuapi lagi.
"Kamu juga makan, Yank," Jino mengambil alih sendok, gantian dia yang menyuapi Nisa. "Lihat senyum kamu aja aku udah kenyang, Yank," lanjut Jino mencubit gemas pipi Nisa.
"Aku juga kenyang kalau kamu yang suapin."
__ADS_1
Pintu kamar sedikit terbuka. Jaka mengintip dengan pandangan penuh haru. "Maaf ya No, Nis, aku titip si kecil dulu," gumamnya lirih. Kemudian menutup kembali pintu dan berlalu pergi menuju kamarnya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=