FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
Bab.11 - Pingsan


__ADS_3

Sore itu Alena asik berguling-guling di kasur. Layar laptop yang menyala, tak dihiraukannya sama sekali. Beberapa potong roti gandum berselai kacang, serta segelas susu cokelat hangat, juga ia abaikan di atas meja. Tingkat kebosanannya makin memusingkan kepala. Rasanya jenuh bukan main tengah melandanya.


Sangking frustrasinya, ia pun jalan-jalan di sekitaran rumah. Matanya menangkap dua orang anak tetangganya tengah bermain badminton. Alena tertarik ingin ikutan.


"Boleh ikut main?" seloroh Alena memasang ekspresi penuh harap.


"Boleh, Kak."


Si anak berbaju kuning menyodorkan raket untuk dipinjamkan ke Alena. Namanya Rino. Sedangkan di ujung sana adalah saudara kembarnya, Namanya Rani.


"Ayo, Kak, lawan Rani! Kalau kalah, Kakak harus traktir kami mie ayam, ya?" tantang gadis manis berponi itu.


"Siapa takut!" balas Alena percaya diri.


Keduanya pun beradu, saling melempar operan dan smash. Sambil sesekali melompat menangkis kok. Baru lima belas menit bertanding, Alena merasakan badannya panas dingin. Tidak seperti biasanya, ia gemar ikut senam zumba dua minggu sekali. Berlatih dua jam lebih tak terlalu melelahkannya. Anehnya sekarang napasnya kembang kempis, padahal belum genap satu jam.


Kepala Alena berdenyut nyeri. Tenggorokannya kering kerontang, rasanya sudah seperti bumi padang pasir. Bola matanya berkunang-kunang. Ia memaksakan diri terus menangkis kok. Hingga pada smash terakhir, tubuhnya limbung tergolek di aspal jalanan.


"Kak!" teriak Rino dan Rani bersamaan. Keduanya berlarian menghampiri Alena yang pingsan tak berdaya.


"Ada apa?!"


Daniela-ibu Rino dan Rani- tergopoh berlarian ke luar rumah, ketika mendengar teriakan kencang anak-anaknya. Wanita paruh baya bermata sipit itu makin panik, saat melihat Alena tergeletak lemas. Cepat-cepat ia meminta bantuan tetangga lain untuk mengangkat Alena ke mobil. Kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat.


***

__ADS_1


Nevan baru tiba di rumah sakit, setelah beberapa saat lalu Daniela menghubungunya. Wajahnya menyiratkan perasaan tak tenang. Ia khawatir terjadi hal buruk pada istrinya. Terbersit penyesalan dalam benak Nevan. Seharusnya ia mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Setidaknya, bila terjadi sesuatu dengan Alena di rumah, ia tak akan menanggung sendirian. Untung saja Alena pingsan di rumah tetangganya. Bagaimana bila ia tak sadarkan diri di rumah, saat Nevan tak ada? Kemelut hati Nevan merasa bersalah.


Daniela sudah undur diri dan pulang bersama anak-anaknya. Dokter memanggil Nevan ke ruangan, selagi Alena belum membuka mata.


"Istri saya sakit apa, Dok? Apa parah?" cemas Nevan.


Ibu dokter di depannya hanya tersenyum simpul, menampakkan gigi-giginya yang putih bersih, senada dengan blazer putihnya.


"Hanya kelelahan dan stres. Dalam masa awal kehamilan ini biasa terjadi. Jadi se-"


"Apa, Dok?! Kehamilan?! Maksud Bu Dokter, istri saya hamil?!"


Nevan terperanjat. Bahkan belum sempat membiarkan dokter menjelaskan lebih detail tentang kondisi Alena. Ia terlanjur kalang kabut bercampur haru biru. Antara rasa tak percaya dan bahagia yang menyatu.


"Ke-gu-gu-ran, Dok?!" Nevan terbata.


"Sebaiknya istri Anda jangan melakukan pekerjaan berat dulu sementara waktu. Minum susu dan vitamin, serta mengatur pola makan yang baik. Istirahat juga harus cukup dan tidak boleh terlalu banyak pikiran," tambah dokter mengingatkan.


Usai bicara dengan dokter, Nevan segera menengok istrinya ke kamar inap. Alena masih terlelap lesu. Riasan di wajah cantiknya tak kentara, hanya tinggal pucat pasi.


Nevan membulatkan tekad. Mulai sekarang ia harus lebih tegas. Bila tak mau hal tak diinginkan mengelabui istri dan calon bayinya. Dirogohnya ponsel dalam saku, mencari nomor Rendra. Nevan ke luar ruangan sebentar, setelah Rendra mengangkat panggilan teleponnya.


"Ada apa?" tanya Rendra di seberang sana.


"Ren, lo bantuin gue bilang ke Anita, ya?"

__ADS_1


"Soal apa?"


"Alena harus berhenti kerja."


"Lo mau diamuk sama bini lo yang gahar? Lo kan tahu gimana keras kepalanya adek gue?"


"Masalahnya, Ren .... "


Nevan mengela napas panjang, sebelum melanjutkan kalimatnya. Rendra menunggu sambil merapikan beberapa map, yang bercecer di atas meja kerjanya.


"Alena hamil."


Brak


Semua tumpukan laporan yang hampir tersusun rapi, berantakan jatuh di lantai. Rendra kaget, tak menyangka akan secepat ini jadi seorang paman.


\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=


Hai hai, apa kabar semuanya? Sehat ya?


Yuk, dukung terus First Night biar pembacanya makin banyak, dan daku makin semangat lanjutin ceritanya. Hehe.


Btw, kalau misal telat up itu karena dari pihak Mangatoon kadang lama buat acc. #peace


\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2