FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
S2.Bab.20 - Akhirnya Nikah Juga


__ADS_3

"Yaudah, Mamah izinin! Tapi inget, ya Jino, kalau sampai ada apa-apa sama Nisa atau calon cucuku? kamu langsung Mamah cut! The end*!" Diana masih berseru heboh.


"MAMAH!" Nisa melotot. "Kalau Mamah cut-cut Bebeb Jino sembarangan, aku juga bisa cut Mamah. Aku suruh Papa cari Mamah baru aja."


"NISA, KAMU TUH YA*!!"


Jino terperanjat bangun dari tidur singkatnya. Rupanya ia bermimipi dengar ancaman sang calon mertua. Hingga suara pramugari terdengar, mengatakan bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat.


****


satu bulan kemudian...


Setelah usaha dan perjuangan serta kebohonga panas itu, akhirnya Nisa dan Jino mengantongi restu untuk segera melangsungkan pernikahan. Mereka pulang ke Bali dan mengadakan pesta sederhana untuk mengikat cinta suci mereka. Nisa tampak cantik sekali dengan gaun bermodel mermaid yang buntutnya mengibas panjang, menyapu pasir-pasir pantai. Sementara Jino juga tampak gagah dengan setelah jas formal dan dasi kupu-kupu.


"Congrats, ya, Nis!" Nevan menyalami sambil kedip-kedip kelilipan. "Akhirnya married juga, hahaha. Nggak usah buru-buru punya babby. Kamu ngurus diri sendiri aja masih kalang kabut!" seru Nevan setengah mencibir.


Nevan beralih pada Jino dan memeluknya erat, kemudian berbisik. "Semangat menjebol segel ya, bro. Jangan lupa minum jamu sama telor dulu. Satu lagi, baca bismillah sebelum perang. Biar barokah."


Di samping Nisa ada mamah dan papanya yang tersenyum bahagia melihat kedua mempelai. Eh, tapi ternyata senyum Diana tampak tertahan. Dia dongkol, tentu saja. Siapa juga yang tidak kesal ketika impian punya menantu kaya raya lenyap begitu saja. Pupus sudah harapannya Nisa dipinang anak mentri atau pengusaha ternama. Minimal kan anak cucunya nanti bakal aman tujuh turunan.


"Mamah, senyum dong!" Nisa cengengesan sambil menarik pipi Mamanya. Kurang ajar memang salah satu keahlian Nisa. "Aku udah nikah, lho, Mah! Udah jadi nyonya besar sekarang."


Diana nyengir kuda, tapi malah jadinya kayak boneka chaki. Kedongkolan di hati Ibu sosialita ini memang sudah berakar. Bagaimana tidak? Seharusnya pernikahan Nisa adalah yang termewah, termegah, termahal, dan ter-ter yang lainnya. Jadi bisa dia banggakan sekalian saat arisan. Tapi, anak nakal ini malah memilih Jino, pake tanam saham duluan pula. Alamak!


Kenapa dulu ini anak nggak kuruqiyahin aja dulu ya?! Biar jin dan roh jahatnya pada mabur semua! seru Diana dalam batinnya.


"Mah, aku janji bakal bahagiain Nisa, ya, jadi Mamah jangan khawatir." Jino mengelus pelan pundak Mamah Mertuanya. Sebetulnya bukan pelan, tapi takut-takut. Takut digarot, atau sedikitnya takut kena semprot.


"Seneng ya kamu bisa ngalahin saya?!" Diana malah menjawab ketus, padahal Jino bertanya dengan nada selembut tisue paseo. "Ingat, ya Jino, saya mengawasi kamu!" Diana memainkan tangan membentuk dua jari dengan tatapan menghunus.


Jino menciut, Diana makin garang. Papa mertuanya berdeham lalu memilih tak ikut campur. Nevan dan Alena mengikik tertahan.


"Mamah, aaaaaa...." Nisa mendelik kemudian mengambil sepotong kue pengantin lalu menyuapi sang Mamah.


Kening Diana berkerut, tapi dia menuruti juga kemauan Nisa dan membuka mulutnya lebar-lebar. Nisa tersenyum, kemudian menyuap lagi dengan potongan kue yang lebih besar. "Lagi, lagi, aaaaa...."


"Nisa, mulut Mamah nggak muat!" Diana sewot setelah sebelumnya megap-megap menelan gumpalan cake yang disuapi anaknya. "Kamu tuh, niat nggak sih!"


"Niat, kok, Mah!" Nisa memberengut. "Niat banget bikin mamah keselek kalo masih galakin Bebeb Jino."

__ADS_1


"Kamu tuh, ya, jadi anak kok nggak ada sayang-sayangnya sama Mamah!" Diana sewot, "Mamah, tuh kayak gini demi kebaikan kamu!"


"Kebaikan Mamah buatku itu ... kalau Mamah nggak ikut campur lagi urusan pernikahan aku." Nisa masih lanjut menyuapi Mamahnya. "Sekali-sekali Mamah tuh harus percaya, kalau aku juga bisa hidup tanpa Mamah. Alias bisa mandiri."


"Tapi Mamah tuh-"


"Mamah tuh harus menerima Bebeb Jino sebagai menantu sekarang." Nisa memotong ucapan Mamanya.


"Kamu, tuh kapan sih nggak ngelawan Mama?" Diana makin berang. "Susah banget dibilangin."


"Aku sebenernya sayang sama Mama, apalagi kalau Mama bisa sayang sama Ayang Jino." Nisa mencubit genit suaminya.


****


Jam sudah menunjukkan delapan malam ketika Nisa baru kelaur dari kamar mandi, sementara Jino sedang sibuk bermain game cacing zone di ponsel. Acara sederhana yang mereka gelar sudah selesai sejak pukul empat sore. Memang tidak terlalu lama karena hanya keluarga dekat yang datang. Kini sepasang pengantin baru yang berhasil halal berkat penipuan kepada ibu mertua itu bermalam dirumah Nevan.


Sebenarnya Diana tadi menawarkan mereka untuk ikut bermalam dengannya di hotel dekat tempat acara. Namun Nisa menolak ide itu, karena bisa-bisa Jino menjalani sidang susulan terkait kehamilan tipu-tipu Nisa.


"Yank, kamu yakin Mamah nggak marah?" Jino melirik Nisa yang sudah mengenakan piyama tapi masih mengeringkan rambutnya.


Nisa cuma manggut-manggut tapi bodo amat. "Kalau pun Mamah marah, buat apa? Toh, kita juga udah nikah."


"Iya, tapi tadi kan Mamah maunya kita di hotel bareng dia." Jino menjelaskan. "Kita ganggu Kak Nevan sama Kak Alena juga kan kalau numpang."


"Ehhh, jangan. Nggak usah." Jino menahan Nisa. "Dari pada marah-marah, mending kita .... "


Nisa menunggu kelanjutan kalimat Jino yang menggantung. Wajah cowok itu terlihat senyum-senyum tak jelas sambil menaikkan sebelah alis. Nisa gagal paham, tapi Jino masih melirik-lirik manja. Jemarinya mulai menoel-noel kulit seputih susu milik Nisa. Rasanya lembut sekali ketika dibelai.


“Kita apa?” Nisa bertanya setelah hampir lima menit mereka cuma saling menatap tanpa kejelasan.


Jino menggandeng tangan Nisa, kemudian menuntunnya sambil merebahkan perempuan itu di ranjang. Dengan penuh kelembutan Jino menggenggam jemari Nisa, menautkan tangan mereka berdua.


“Aku bersyukur akhirnya kita bisa nikah.” Jino tersenyum lembut, dan rasanya Nisa seperti meleleh di tempat.


Nisa membalas senyuman Jino dan menatanya penuh kasih sayang. “Nisa juga seneng banget, akhirnya kita halal, walau …. ”


“Walau?” Jino menunggu lanjutanya.


“Walau harus pura-pura hamil. Hehe.” Cewek itu malah tertawa. “Tapi Mamah memang sesekali harus digituin, Yank.”

__ADS_1


“Yaudah, biar kita enggak merasa bersalah, gimana kalau ….” Jino menggantung ucapannya lagi.


“Kalau?”


“Aku bikin kamu hamil beneran, Yank?” Jino merapatkan duduknya, kemudian mengelus punggung Nisa dengan lembut.


Nisa cuma tersenyum manis. “Yuk, kan udah boleh.”


Cewek itu diam-diam merasakan darahnya berdesir begitu Jino yang kini resmi menjadi suaminya menyentuh punggungnya. Padahal itu baru punggung, masih rata dan tertutup pakaian. Entah apa yang akan dia rasakan kalau sampai tangan suaminya berpindah ke bagian depan yang tidak serata punggung. Mengingat adanya tonjolan-tonjolan atas milik perempuan, Nisa malah penasaran. Sebenarnya bagaimana, sih, rasanya kalau gunungnya di pegang oleh sang suami. Dia sudah siap untuk menyerahkan segalanya, bahkan cenderung tak sabar menunggu.


“Yank, aku cinta banget sama kamu.” Jino berbisik romantis.


Saat bibir Jino baru mengecup pipi Nisa, sementara cewek itu sudah kepedean dan malah memejamkan mata, tahu-tahu pintu terbuka lebar.


“Aunty!” Suara lucu itu memenuhi ruangan. “Aunty Nisa, main yuk!”


Tubuh mungkin yang tingginya tidak sampai satu meter itu berlari masuk tiba-tiba dan menginvasi seluruh ruangan. Kaki mungilnya tak lelah berputar-putar, sementara Jino langsung menggeser duduknya dari Nisa detik itu juga.


“Aunty, main yuk!” bocah lucu itu sekarang malah naik ke atas kasur, lalu duduk manja di pangkuan Nisa.


Jino menarik napas, kemudian masuk ke kamar mandi lalu terdengar pancuran air dari dalam.


“Yank, kamu mandi lagi?” Nisa berteriak sambil mengusap-usap rambut bocah lucu itu. “Yank, aku dicuekin nih?”


“Kan ada Yasmin, Yank!” Jino berteriak dari dalam kamar mandi, suaranya jadi satu dengan kucuran air. “Aku mau lemesin yang tadi tegang dulu, Yank! Jangan berisik ya.”


Nisa tampak memutar bola mata sepintas. Tak memahami maksud perkataan suaminya. "Kamu mau lemesin apa, Yank?" Nisa penasaran.


Tak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Kecuali sayup terdengar Jino seperti menahan rintihannya.


"Nasib! Udah sah masih aja mainan sabun!" rutuk Jino frustrasi.


Dan malam pertama mereka pun belum berhasil terlaksana. Jino yang tegang, Nisa yang malang, Yasmin yang senang.


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


By : Depa & Bluebellsbery


Yuhu. Thanks atas like dan komennya ya gais. Aku seneng bacanya dan makin semangat. Tapi maap kalau belum bales. Tetep dukung FN ya, supaya viewersnya makin nambah dan penggemarnya makin nambah pula. Thanks u gais. ^^

__ADS_1


Kepo nggak gimana rumah tangga mereka? Hehe. Like dan komen terus ya. #senyum


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2