FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
Bab.7 - Malam Pertama?


__ADS_3

BAGI YANG SUDAH PERNAH MEMBACA VERSI ASLI, HARAP JANGAN BINGUNG. KARENA ADEGAN 18+ TELAH SAYA HILANGKAN. UNTUK KEPENTINGAN KONTRAK DENGAN MANGATOON. HARAP PENGERTIANNYA TEMAN-TEMAN. ^^


\=\=\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=\=\=


Nevan tak mampu memejamkan mata secara utuh. Kelopak matanya terus saja mengerjap dan memaksa tetap terjaga sepanjang malam. Entah sudah berapa kali, ia melirik jam di pojok dinding. Ia merutuk dalam batin, merasa sulit bernapas dan mengatur pikiran jernih. Hampir dini hari, jarum jam menunjuk angka satu kurang lima belas menit.


Ya Tuhan. Gadis ini benar-benar bikin aku stres! Gimana bisa dia selelap ini, sementara ada aku di sampingnya! Apa dia nggak normal?! Wait, nggak mungkin kan, cuma aku yang kelewatan mikir mesum! Argh sial! Alena seksi banget!


Hati Nevan bicara sendiri. Ia tampak frustrasi dan sangat kelabakan. Sejak tadi tanpa sengaja lengan Alena memeluk dada bidang Nevan dengan erat. Dagu runcingnya bertengger manja di bahu Nevan. Lebih mendebarkan lagi adalah ketika satu kaki jenjang nan mulus Alena, tiba-tiba bergeser sampai di atas paha Nevan. Wajar saja naluri lelakinya meronta-ronta, saat merasakan 'adik kecilnya' sepertu tergesek kaki istrinya. Terlebih, pakaian tidur Alena yang tersingkap hampir menampilkan pakaian dalamnya. Nevan sungguh luar biasa, bila sanggup menahan hasratnya meski berkeringat dingin sekalipun.


Tangannya pelan-pelan menarik laci nakas di sebelah tempat tidur. Ia harap bisa menemukan obat penenang di sana. Nihil. Hanya ada beberapa lembar kertas di dalam sana. Alena menggeliat, tangannya tanpa sadar berpindah menyentuh 'milik' Nevan yang berharga di bawah sana.


Argh! Shit! Aku nggak tahan lagi! Wait! Apa salahnya? Bukankah kami sudah menikah? Aku suaminya. Artinya aku berhak atas istriku.


Ia berusaha menimang dengan bijak. Menenangkan diri sendiri sebisa mungkin. Nevan hanya pria biasa, punya kelemahan juga sama seperti pria lainnya. Maklum saja jika ia tak sanggup membendung keinginan 'dewasa' dalam dirinya.


Perlahan Nevan memiringkan badanya. Menyingkirkan lengan Alena hati-hati. Namun sayangnya, gadis itu lebih dulu membuka matanya. Alena bergerak sedikit. Kemudian melebarkan retina matanya begitu tahu kedua wajah mereka tak berjarak sedikit pun. Ia bangkit terkejut.


"Kamu ngapain Van?!" jeritnya seolah lupa, bahwa ia sendiri yang telah menyuruh Nevan tidur bersamanya.


Nevan terhenyak bingung. Ia gelagapan tak tahu musti bicara apa.


"Nyebelin banget kamu! Jangan dekat-dekat!" Spontan Alena mendorong kuat Nevan, sampai membuat suaminya menggelinding ke lantai.


Pria yang mengenakan piama biru bergambar Pikachu itu mengelus punggungnya sesaat. Terasa agak linu, tapi masih bisa diatasi.


Alena baru sadar posisinya sekarang adalah istri Nevan. Ia menoyor kepalanya sendiri, menyadari kebodohannya. Kemudian diulurkan tangannya pada Nevan untuk membantunya berdiri.


"Maaf, nggak sengaja .... " lirihnya merasa bersalah.


Hap


Bruk


Dengan sekali gerakan cepat Nevan menerima uluran tangan istrinya. Lalu cepat-cepat ia mendorong tubuh Alena, dan menindihnya kilat. Lensa mata mereka beradu pada titik yang sama. Membiarkan pandangan keduanya saling bicara satu sama lain.


"Aku menginginkanmu, Len ... "


Alena malu, pipinya sudah merah bak semangka tanpa biji. Sungkan menatap pandangan luruh Nevan, ia pun memalingkan muka ke arah samping. Tapi Nevan menyentuh pipinya, kembali menghadapnya.


"Boleh nggak?" tanya Nevan dengan nada tanpa paksaan. Ia hanya ingin Alena menerima dan melayaninya sebagai suami dengan keikhlasan dirinya. Bukan atas dasar tuntutan pribadi maupun status.

__ADS_1


Sebentar Alena menimbang bimbang. Namun tetap saja badan dan otaknya tak berada di jalur yang sama. Kulitnya lebih dulu merasakan kehangatan dari sentuhan Nevan. Sejujurnya, Alena mulai kepanasan dengan posisi macam itu. Ia baru percaya apa kata Kamila.


Kalau pria dan wanita berada dalam satu kamar dan tidur berdampingan, bohong kalau kamu nggak pengen sesuatu juga. Ini berlaku seandainya kamu punya rasa sama dia.


Kalimat temannya membayang diingatan Alena. Ia merasakan dengan jelas detakan jantungnya yang makin tak beraturan.


Apa iya aku suka sama Nevan? Sejak kapan? Nggak mungkin!


Batinnya berargumen tak pasti.


"Len ... ?" panggil Nevan menyadarkan lamunan Alena.


"Nev ... aku-"


"Kenapa? Kamu nggak mau?"


"Bukan begitu, hanya saja apa kamu sungguhan suka sama aku?"


Nevam tersenyum, sedetik kemudian bibirnya mengecup lembut bibir Alena. Gadis itu tersentak di hatinya, lemas tak berdaya.


"Kamu mau jawaban atau bukti?"


"Bukti?"


Alena tertegun mendengar jawaban Nevan. Benar, ia adalah istri Nevan. Suka atau tidak. Punya rasa atau belum, sudah jadi kewajibannya melayani keinginan sang suami. Jiwa Alena meremang redup, layu menyesali keegoisannya.


"Kamu suka sama aku? Atau hanya ingin tidur-"


Ucapan Alena menggantung, lagi-lagi Nevan mengunci bibirnya dengan sebuah ciuman hangat. Sehangat senja yang menyapa sang waktu.


"Jangan diteruskan. Aku akan menunggu. Sekarang tidurlah ... maaf sudah menyakiti perasaanmu, Len." Nevan menjauhkan tubuhnya. Ia tak ingin Alena menyalahartikan perbuatannya, dan malah makin memperkeruh kebencian Alena nantinya. Padahal Alena sudah tak marah pada Nevan.


"Tunggu!" satu tangan Alena menahan lengan Nevan.


"Aku mau .... "


***


Aneh. Ini perasaan yang tak terjangkau oleh nalar Alena. Sentuhan Nevan terasa begitu hangat menyengat serta menjamahnya. Bahkan semakin lama, semakin terasa panas bergairah. Lensa mata Alena mengatup sendu, membiarkan dirinya dikuasai Nevan sepenuhnya. Ia tak mampu melawan sorot penuh hasrat milik Nevan. Bulatan mata bening berkilau itu menelusup masuk, menggetarkan batin Alena. Seperti mengikat sebuah makna yang tak perlu diluruskan lagi. Perasaan sayang yang terpendam.


Alena pasrah menerima cumbuan mesra dari suaminya. Ia tak ingin lagi membohongi dirinya, bahwa ia menikmatinya. Tak bisa lagi menolak jiwanya yang meronta. Alena membiarkan dirinya hanyut bersama Nevan malam ini. Menikmati setiap perlakuan manis Nevan padanya, membuat tubuhnya lemas berarah.

__ADS_1


Jiwa mereka bagai terbang dalam dunia indah, pada belahan waktu lain. Alena tak peduli lagi tentang apapun. Yang ia tahu, sekarang ia adalah istri sah Nevan Satya Utama. Ia berhak memberikan dirinya seutuhnya pada suaminya. Keduanya melupakan malam pertama mereka yang lalu. Malam pertama yang masih penuh misteri bagi dua insan dimabuk asmara itu. Hingga usai segala yang tercurahkan dengan kehausan nyata. Nevan memeluk Alena penuh sayang.


"Maaf, Sayang ...?" ucapnya lirih.


Dipeluknya Alena penuh perasaan haru. Nevan mengecup bertubi seluruh wajah istrinya. Kening, mata, pipi, hidung, dagu, terakhir bibir Alena menjadi santapan terbaiknya sepanjang sejarah hidup Nevan.


Nevan mempererat Alena dalam peluknya. Dinginnya AC di kamar telah kalah oleh pelukan Nevan.


"Terimakasih, Sayang .... " bisik Nevan, kemudian mengecup hidung Alena lagi, kali ini semakin mesra.


***


Sinar mentari telah menampakkan rona kuning terangnya. Alena menggeliat merasakan pegal dan lelah pada tubuhnya. Ia tak menemukan Nevan di sampingnya. Pipinya memerah mengingat kembali kejadian semalam. Ia bangun dan duduk, tapi perutnya terasa linu dan nyeri. Bahkan mahkotanya terasa masih sakit sekali. Alena memegangi perutnya, dan melilitkan selimut menutupi seluruh bagian dirinya yang tanpa busana. Ia berdiri mencari pakaiannya.


Alena ternganga saat menoleh ke atas tempat tidur lagi, melihat ada noda merah di atas seprai putihnya.


"Sudah bangun, Sayang?" sapa Nevan, baru keluar dari kamar mandi.


Alena tak menjawab, sibuk menerka-nerka arti semua ini. Nalarnya mulai membandingkan insiden malam lalu dengan kejadian tadi malam. Jelas berbeda sekali. Waktu itu Alena cuma merasa pegal di leher dan lengannya. Tapi sekarang, Alena merasakannya hampir di semua bagian tubuhnya.


"Ada apa?" Nevan penasaran.


"Bukan apa-apa!" pekik Alena menahan malu. Ia buru-buru masuk ke kamar mandi dan mengguyur diri dengan air dingin.


Nevan menghampiri peraduan. Matanya terbelalak melihat bercak-bercak merah di atas tempat tidur. Padahal ia ingat betul, dalam kejadian insiden lalu seprai di kamar Rendra tak menyisakan apapun, selain hanya berantakan. Sekuat mungkin Nevan mengumpulkan semua ingatan yang tersisa, ya benar ia hanya melepaskan bajunya dan baju Alena, lalu tertidur pulas.


"Jadi ... ini benar-benar first night kami?" gumamnya takjub.


\=\=&&&\=\=


Note :


Setelah googling, sebenarnya gak semua perempuan itu akan berdarah di malam pertama. Itu hanya mitos belaka, misal ada yg bilang perempuan gak berdarah pas malam pertama artinya gak virgin. No gais. Itu gak bener. Karena selaput dara setiap perempuan itu berbeda.


Info ini cuma sedikit pengetahuan buat kita, biar gak memandang sebelah mata dengan hal tersebut. Lagipula, laki2 yg baik gak akan mempertanyakan hal itu kalau bener2 tulus sayang dan menerima perempuannya apa adanya.


Maaf jadi ceramah pagi-pagi. #tutupmukapakaipanci


Btw, kalau suka sama ceritaku jangan sungkan kasih dukungan ya? cukup dengan like dan komen, aku dah senang kok. Apalagi kalau dishare ke teman2nya biar pada ikutan baca, #modus 😂😂


Pai pai, ditunggu ya episode selanjutnya. #senyum

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=♤♤♤\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2