
Alena sedang menata sarapan di meja makan. Ia sengaja membuat pancake madu pesanan suaminya. Di sampingnya Nisa memandangnya dengan sorot penuh indikasi terselubung. Gadis yang baru menginjak bangku kuliah semester dua itu, meletakkan piring yang baru dilap dengan tisu bersih.
"Kak Lena ... Nisa boleh nanya nggak?"
Alena mengangkat satu alis curiga. Ekspresi adik iparnya sudah membuat kepalanya berputar-putar. Dia memang baru pertama kali bertemu langsung dengan adik suaminya ini. Tapi sudah seperti kenal lama. Nisa tipikal anak yang mudah bergaul dan pandai mengambil hati orang-orang di sekitar. Walau terkadang bicaranya suka melebihi batas umurnya. Atau kadang polahnya sering membuat pusing tujuh keliling keluarganya.
Pernah suatu waktu, semasa sekolah. Nisa ketahuan memanjat pohon mangga di belakang sekolahnya. Bahkan ia tak segan menantang seorang cowok untuk ikut naik, bila benar-benar ingin jadi pacarnya. Ujungnya, si cowok digigit semut merah dan terjungkal jatuh sampai lengannya patah. Alhasil, Nisa diskors selama seminggu karena ulah nekatnya tersebut.
"Kenapa Nis? Kamu nggak akan nanya gimana caranya aku bisa hamil, kan?" Alena menunjuk perutnya yang sudah membesar.
"Ish. Kak Lena berlebihan. Kalau soal itu, Nisa sih nggak perlu tanya juga udah tahu." Nisa mengibas tangan, percaya diri. "Ngomong-ngomong, berapa ronde Kak Nevan kuat bertahan, Kak Len?"
Uhuk uhuk. Alena tersedak sesuatu.
Pancake yang baru dicicipi Alena terasa bersarang, mengganjal di tenggorokan. Diraihnya gelas berisi air putih, untuk segera melarutkan makanan yang mengganggu kerongkongannya. Nisa membantu menepu-nepuk punggung kakak iparnya dengan telaten.
"Ampun deh. Kamu bener-bener ya, Nis. Hampir bikin aku muntah tahu. Apa nggak ada pertanyaan lain yang lebih bermutu?!" protes Alena menjitak adik iparnya dengan spatula.
Nisa langsung pasang tampang polos tanpa dosa dan rasa bersalah. Ini akibat dia keseringan nonton drama Asia, yang isinya 19 plus plus.
"Cuma kepo aja Kak Len. Habisnya, cepet banget jadinya. Padahal belum lama nikah. Kak Nevan tokcer juga ya, Kak."
Alena mengelus dada, pusing menyergap kepala. Mendengar ocehan Nisa yang makin tak karuan arahnya, ia jadi ingin lari maraton berkilo-kilo meter. Guna menjauh dari si mulut tanpa tedeng aling-aling ini.
__ADS_1
"Tapi kata temenku yang nikah muda nih ya Kak, biasanya suaminya sekali main langsung tepar. Apa iya Kak Nevan juga selemah itu?" Nisa mengetuk dagunya dengan telunjuk.
Kali ini Alena hanya melotot saja. Percuma bila ia membalas kalimat absurd bocah di depannya. Akan jadi panjang nanti urusannya. Bisa-bisa tak selesai sepanjang pagi. Perut Alena rasanya linu tiap kali berlebihan memikirkan sesuatu. Apalagi jika yang dipikirkan adalah kata-kata aneh dari adik iparnya. Bisa gila dia.
"Kak Len, jawab dong. Kan ini bisa jadi ilmu reproduksi tambahan buatku," dalih Nisa pintar mencari alasan.
Alena menarik napas singkat. "Gini ya, Nis. Nggak semua hal bisa kamu tanyakan sesuka hati. Ada saatnya kamu juga perlu menjaga sopan santun. Aku tahu kamu selalu ceplas-ceplos, tapi jangan sampai kelewat batas. Ingat, mulutmu harimaumu," jelas Alena memberi petuah bijak.
"Yaelah Kak Lena, baper banget deh jadi orang. Nisa kan cuma nanya."
"Iya, tapi pertanyaanmu kurang pantas, Nisa adik iparku tersayang." Alena berusaha menyabarkan diri. Selama ini belum ada satu pun makhluk di bumi, yang berhasil membungkam kata-kata Nisa. Ya, kecuali someone...
"Terus, Nisa harus nanya soal kenapa kalian bisa saling suka? Ketemu pertama di mana? Bla bla bla. Monoton banget Kak. Pengalaman mengajarkan segalanya. Nisa suka pertanyaan yang menantang. Biar pengalaman Nisa tambah mumpuni."
"Kamu ngomong apa sih, Nis? Pengalaman mumpuni? Makin nggak jelas ini anak," cibir Alena menggelengkan kepala, tak habis pikir.
"Mau ke kantor, Kak?" sapa Nisa sok ramah pada kakaknya. Padahal hanya basa-basi cari perhatian. Supaya Nevan tidak melaporkan pada keluarga di Semarang, tentang keberadaan Nisa di sini.
"Nggak! Mau berenang di laut! Udah tahu pake nanya," kesal Nevan.
"Aduh, Kak Nevan tempramen banget deh. Ingat dong, calon papah tuh harus penyabar." Nisa sengaja menekankan kata penyabar.
"Halah, kamu pikir aku nggak tahu maksud terselubung sok baikmu, Nis. Biar aku nggak bilang ke om tante kan, kalau kamu di sini?!" Nevan memberuntun argumen nyata yang ia tangkap dari gerak-gerik adiknya.
__ADS_1
"Pokoknya besok kamu balik ke Semarang! Jangan bikin stres kakak iparmu di sini," gerutu Nevan, seraya menerima piring berisi pancake yang disodorkan oleh istrinya.
"Kak, menurut Kak Nevan. Kira-kira di umur berapa ya, cewek lebih baik menikah?" Nisa mengalihkan topik pembicaraan.
Nevan mengangkat satu alis bingung. Ia yakin pasti ada udang di balik tepung.
"Kenapa? Kamu mau nikah muda?! Jangan ngarep aku restuin! Papa mama juga pasti ngelarang keras. Lagian, kakak yakin nggak ada cowok yang tahan ngadepin polahmu!" ejek Nevan di sela kunyahannya.
Alena hanya menahan senyum, melihat dua kakak beradik bersitegang begini. Dua-duanya sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah. Yang satu banyak pertanyaan aneh, yang satunya banyak cecaran panjang. Rumah yang tadinya sepi senyap, sekarang jadi lebih berisik semenjak kedatangan Nisa.
"Jangan ngeremehin Nisa dong, Kak. Pacarku lebih oke ya dari Kak Nevan. Yang jelas bukan galauers, diputusin pacar langsung mabuk. Kayak siapa ya?" sindir Nisa menuding Nevan dengan telak.
Hampir saja Nevan melempar sendok ke arah adiknya. Untung Alena menahan lengan suaminya. "Sudah-sudah. Pagi-pagi kok sarapan urat sih. Makan dulu biar kenyang. Nisa juga duduk dan makan. Kalian kalau ngumpul bener-bener nyaingin Tom and Jerry." Alena menenangkan keadaan.
Nisa melengos ketika menerima pelototan dari kakaknya. Ia menarik kursi, berniat duduk dengan gaya ala putri raja. Jiwa jail Nevan muncul, ia belum terima dengan sindiran adiknya barusan. Ditariknya mundur kursi yang hendak diduduki Nisa. Tepat saat Nisa hampir duduk dengan nyaman. Alhasil gadis itu terdampar di karpet berbulu di bawah sana, sambil mengaduh kesakitan.
"Kak Nevan!" teriak Nisa mengepal dua tangan.
Nevan langsung mencium kening istrinya kilat. Kemudian berlari tunggang langgang, menuju mobil di halaman depan. Bila tidak segera kabur, bisa habis lengannya dicakar si macan betina. Nisa bisa berubah buas bila amarah datang.
"Kak Nevan! Jangan kabur!"
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Gimana? Makin absurd kan? #peace
Thanks for like and komen ya gais. ^^