FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
S2. Bab. 24 - Bantuan Dadakan


__ADS_3

Nisa dan Jino tiba di rumah sekitar pukul sepuluh pagi. Diana sudah menunggu bersama Cokro di teras depan rumah.


"Mamah sama Papah ngapain di sini?" Nisa kaget.


Diana langsung merebut Airon dari gendongan Nisa. Ibu dua anak itu seketika menimang-nimang Airon sembari seolah mengajak bercanda. Bayi mungil yang sejak naik taksi menangis kini terdiam bahkan tertawa dengan lucunya.


"Nisa! Jino! Kalian benar-benar ya!" Diana setengah marah. Ia memelankan suara supaya Airon tidak terkejut dan kembali menangis.


"Mamah kenapa sih? Ngomel mulu, cepet putih tuh rambut nanti, Mah," cibir Nisa sembarangan.


"Diam kamu! Tadi Rendra telepon Nevan pas Mamah jengukin Alena. Nevan kasih tahu Mamah semuanya. Kamu mau sok jadi jagoan? Kalian nikah aja baru berapa hari?! Mau sok ngurusin bayi kemarin sore!" omel Diana khawatir.


"Terus maunya Mamah gimana? Mana tega Nisa sama Jino telantarkan Airon."


"Kalian kan bisa langsung telepon Mamah. Wong Mamah masih di sini. Pokoknya Airon akan Mamah urus."


"Mana bisa kayak gitu Mah?!" Nisa hendak protes. Tapi Cokro menyuruh Nisa untuk tenang dulu.


"Nisa, Papah mengerti kamu ingin jagain Airon. Tapi kalian itu belum cukup pengalaman, kasihan kalau sampai Airon kenapa-kenapa karena salah asuhan kan?"


Jino merasa apa yang dikatakan mertuanya memang benar adanya. "Tapi Pah, kami nggak mau merepotkan Mamah dan Papah," kata Jino sungkan.

__ADS_1


"Mamah nggak merasa repot kalau cuma urus bayi. Ngurus Nisa sama Nevan yang eror aja Mamah sanggup kok!" Diana melirik putrinya.


Nisa dan Jino saling pandang penuh pertanyaan. "Jadi maksud Mamah gimana?" tanya mereka serempak.


Hampir saja bibir lamis Diana kembali berkoar, kalau saja Cokro tak segera mengambil alih panggunh yang mereka jalani.


"Airon biar kami bawa ke Jakarta. Kalian fokus saja membina rumah tangga dulu. Papah sama Mamah jiga sudah siapkan rumah di dekat rumah Nevan buat kalian. Jadi kalau ada apa-apa lebih dekat."


"Rumah ini gimana, Pah?" Nisa bingung.


"Bisa disewakan saja nanti ke orang. Kan lumayan buat pemasukan tambahan. Kalian bisa koskan atau kontrakkan ke orang. Terserah gimana baiknya. Lagipula letaknya lumayan stratgis juga."


Nisa dan Jino manggut-manggut.


"Kali ini jangan membantah orang tua nanti kualat loh," nasehat sang papah. Nisa jadi teringat petuah Rendra tadi. Benar juga, tidak baik memulai sesuatu dengan kebohongan. Ujungnya pasti akan merugikan atau malah dapat balasan dari Yang Kuasa.


"Mah, sebenarnya-"


Tak sempat menyelesaikan kalimat, dering ponsel Diana berbunyi. Wanita itu tak bisa mengangkat karena sibuk dengan si bayi. Anehnya, wajah seram yang biasa ditunjukkan oleh Diana kini perlahan pudar dan tak lagi terlihat. Agaknya Airon benar-benar menghipnotis ibu galak itu dengan amat baik. Mungkin efek sudah lama tak merasakan lagi mengurus bayi nan lucu serta menggemaskan.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Di sinilah Jino dan Nisa sekarang, rumah baru yang dikatakan orang tua Nisa jaraknya hanya dua rumah dari tempat Nevan. Jino tadinya menolak dengan alasan tidak enak hati. Namun, setelah Cokro meyakinkan bahwa rumah tersebut memang hak Nisa sebagai hadiah pernikahan akhirnya ia pun menerima dengan lapang dada dan perasaan haru.


Setelah melakukan diskusi bersama Nevan juga, diputuskan bahwa Airon akan diangkat anak oleh Diana dan Cokro. Seban Nisa dan Jino menyadari mereka belum layak dan akan kesulitan dapat hak asuh, menimbang usia pernikahan yang baru selang berapa lama. Belum ada pengalaman sama sekali. Belum ada persiapan apa-apa.


Usai Diana dan Cokro pamit langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta, Nisa dan Jino duduk melamun di atas kasur barunya.


"Perasaanku masih bingung campur nggak percaya." Jino membuka percakapan.


"Sama. Mamah kok bisa berubah ya? Aku aja kaget"


"Sama. Aku lebih kaget lagi."


"Tapi bener sih, ternyata memang di balik kesusahan pasti ada kemudahan."


Jino berpindah posisi. Ia sengaja tidur di pangkuan Nisa. Rasanya beban dalam dadanya perlahan mulai terkikir sedikii demi sedikit. Bebannya mulai berkurang.


"Tapi dipikir-pikir lucu juga ya? Dulu kita kayak musuh nggak jelas. Sekarang malah bisa satu rumah kayak gini." Nisa bernostalgia.


Keduanya menghabiskan malam saling bercerita dan mengeluhkan masa lalu mereka. Bagaimana mulanya kebencian Jino dan ketidaksukaan Jino pada Nisa yang menurutnya aneh. Hingga keduanya terjebak dengan perasaan yang sama.


Kisah panjang mereka menjadi kilas balik kenangan yang tersimpan dalam hati masing-masing.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=


Note : untuk beberapa episode ke depan, aku akan ulas balik nostalgia mereka. ^^


__ADS_2