
Alfaro mengajak Jino ke kafe dekat tempat kerja si calon bos. Sudah hampir lima belas menit, yang ditunggu akhirnya muncul juga. Gadis mapan dengan wajah antagonis jiwa melankolis dan senyum minimalis itu berjalan anggun menjuju meja paling pojok dalam ruangan. Langkahnya berwibawa bak sosialita tengah berjalan di karpet merah. Sepatu hak dua belas senti menambah indah kaki jenjang yang terbalut celana jeans putih semata kaki.
Kehadirannya langsung disambut hangat oleh Alfaro. Keduanya cipika cipiki dan berbasa-basi sebentar. Setelah ambil posisi duduk berhadapan dengan Jino dan Alfaro, ia meneliti dari ujung rambut hingga dada Jino. Sebab bagian kaki terhalang meja.
"Coba berdiri," katanya angkuh.
Alfaro mencolek lengan Jino, menyuruhnya untuk menurut. Melihat badan Jino yang cukup tinggi dan sehat, ditambah wajah cute mematikan yang menggoda selera para kaum hawa, sang gadis pun manggut-manggut. Ia menyuruh Jino kembali duduk.
"Umur?"
"26 tahun," jawab Jino agak gugup. Tatapan si gadis sungguh nyaris menikam ulu hatinya. Bukan kagum atau suka, tapi lebih ke ngeri. Kecantikan bak dewi itu belum mampu mengikis perasaan Jino terhadap Nisa.
"Lumayan. Udah tahu kerjaan lo apa?"
Jino mengangguk ragu. "Hanya garis besarnya saja, Kak."
"Panggil aja gue Ranni. Maharanni Setyadewi Raharja."
Mendengar nama belakang disebut, Jino teringat pada seseorang. Tapi ia menepis kilat, toh banyak nama sama di bumi ini. Hanya kebetulan biasa bila beberapa orang punya nama sama atau mirip atau sejenis.
"Tugas kamu cuma satu. Bersikap sebaik mungkin di depan keluargaku besok. Tentunya sebagai pasanganku." Ranni menarik sesuatu dari dalam tad Hermes warna hijau gelapnya, sebuah kertas ia letakkan di atas meja. "Ini surat perjanjian kontraknya. Baca dan pahami baik-baik. Kalau setuju langsung tanda tangan di atas materai itu." Ranni menyodorkan bulpoin hitam pada Jino.
__ADS_1
Cowok itu langsung mengambil alih kertas dan bulpoin. Ia membaca poin-poin yang tertera di sana.
*1. Bersedia menjadi pasangan pura-pura selama waktu yang ditentukan
Tidak boleh memiliki pacar atau ada skandal dengan perempuan lain selama terlibat perjanjian.
Bersikap baik dan sopan sesuai aturan pihak pertama
Tidak boleh menceritakan rahasia ini pada siapapun yang tidak diperlukan
Pihak kedua akan mendapatkan sejumlah uang senilai Rp. 25.000.000,- bila semua tugas berhasil dijalankan sampai tanggal yang ditentukan pihak pertama*.
"Ini nggak salah ketik?!" serunya histeris.
Alfaro menepuk pundak temannya, untuk menenangkan Jino. "Semangat, bro! Lo pasti bisa! Inget tujuan lo dapetin duit buat apa?!" katanya menggurui.
"Kenapa? Kurang? Lo mau berapa? Lima puluh? Tujuh puluh? Seratus?"
__ADS_1
Hampir saja Jino pingsan mendengar tawaran yang diberikan. Bila bukan karena Alfaro menyodorkan segelas capuccino untuk diminum Jino, mungkin ia harus pulang dengan membopong temannya yang shock.
"Udah tanda tangan aja, keburu melayang tuh duit," kata Alfaro mengompori.
"Oh ya, lo harus yakin bisa profesional ya. Jangan sampai ada perasaan gimana-gimana nantinya. Gue nggak tertarik sama berondong juga!" tegas Ranni mengingatkan.
"Baik, Kak. Eh, Ranni maksudnya." Jino gugup. Ia pun akhirnya menandatangani surat kontrak tersebut. Hatinya berbunga-bunga membayangkan uang tabungan akan segera bertambah banyak. Lumayan untuk tambahan persiapan masa depan yang ia impikan bersama gadis kesayangannya.
Perlahan wajah cantik dan senyum menawan Nisa membayang di pikiran Jino. Ia semakin semangat untuk segera meminang kekasihnya. Walaupun ia harus menahan rindu untuk beberapa waktu ke depan. Entah sampai kapan, Nisa belum memberikan kepastian sama sekali. Namun Jino tetap keukuh bahwa Nisa pasti kembali padanya.
"Gue lupa nanya satu hal. Lo lagi jomblo kan?"
Jino garuk kepala. Ia bingung hubungannya dengan Nisa sekarang disebut apa. Dibilang pacaran tapi aneh, dibilang bukan juga belum ada kata putus. Ia hanya menarik napas dalam. "Lagi break."
"Oke. Fine. Al udah kasih nomor lo ke gue. Lo juga udah ada kan?"
Jino mengangguk. Tadi sebelum Ranni datang, Alfaro menyuruhnya menyimpan nomor Ranni.
"Good. Besok sore lo dateng ke tempat yang gue kasih tahu." Ranni menyimpan kontrak yang sudah ditandatangani Jino. Kemudian mengeluarkan amplop cokelat dan menyodorkannya pada Jino. "Itu DP buat lo. Jangan main-main atau kabur, gue orangnya pendendam sampai ke akar. Paham?"
Jino mengangguk lagi. Kalau bukan untuk Nisa, ia tak akan mau terlibat sengketa model begini. Atau lebih tepatnya ia merasa jadi aktor dadakan yang harus kejar tayang mengikuti arahan sutradara. Bukan gaya Jino. Sejujurnya ia kurang pandai berpura-pura. Tapi mau bagaimana lagi, tekadnya bulat akan segera merebut Nisa kembali. Ia yakin usahanya tak akan sia-sia. Meski terdengat amat konyol sekali pun, Jino tak peduli. Ia akan lakukan apapun sebagai bentuk pembuktian cintanya pada Nisa.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=