FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab. 5 - Siasat


__ADS_3

Rendra menemui Rasya setelah cowok itu kembali dari Surabaya. Hampir saja sebuah tinju melayang dari kepalan tangan Rendra, namun Rasya menangkisnya lebih dulu. Ia meminta rekannya untuk tenang dan memberinya kesempatan menjelaskan.


"Duduk dulu, Ren. Gue jelasin kejadian yang sebenernya," tukasnya santai seraya mengajak Rendra duduk di kursi pojok kafe.


Keduanya pun mulai membahas persoalan Nisa. Wajah Rendra tampak kaget dan tak habis pikir sementara temannya mengatakan sebuah kebenaran.


***


Hari ini Jino absen dari kerja. Ia memilih untuk menemani Nisa yang masih shock. Alena dan Yasmin juga membantu menghibur Nisa.


"Aunti harus makan. Kalau nggak makan nanti Aunti kulus. Kalau kulus nanti Aunti cacingan." Yasmin bicara dengan gaya khas anak-anak yang pintar tapi polos. Dengan lembut putri kecil Nevan dan Alena itu mengelus lengan Nisa.


"Ayo dong, Nis makan ya?" bujuk Alena.


Jino hanya terdiam di samping peraduan Nisa. Jemarinya menggenggam tangan sang kekasih penuh sayang. Antara iba, kesal, marah, dan sedih. Perasaan Jino berkecamuk dalam lara yang terpendam. Bukan karena apa yang menimpa Nisa, namun ia menyesal merasa telah gagal menjaga gadis yang ia sayangi.


"Nis. Kita nikah yuk?" selorohnya tanpa tedeng aling-aling. Otaknya sudah buntu dan kusut melihat trauma yang dialami Nisa.

__ADS_1


Yasmin menatap Jino seksama kemudian beralih melihat Alena. "Momi, nikah itu apa?" tanyanya dengan pandangan bingung.


Alena mengurut kening, bingung menjelaskan. Anaknya selalu saja punya pertanyaan yang belum saatnya ia dengar jawabannya. "Anu nak, ehm, begini, nikah itu seperti momi dan daddy, jadi teman selamanya," jawabnya spontan.


"Momi dan daddy nikah? Yasmin mau juga nikah sama momi, daddy, aunti, om Jino. Yasmin mau jadi teman semuanya."


Alena menepuk jidatnya sendiri. Ia salah lagi dalam mengemukakan penjelasan pada Yasmin. Alhasil ia pun mengajak Yasmin ke luar dan bermain di halaman saja. Sebelum ada banyak lagi pertanyaan jebakan dari Yasmin. Bisa-bisa semua hal yang dikatakan mereka ditiru oleh Yasmin.


Di balik selimut Nisa terlihat sedikit bisa tersenyum. Ucapan Yasmin berhasil mengalirkan energi positif baginya yang dilanda dilematis. Jino mendapati senyum itu menyala sebentar. Ia makin mengeratkan pegangan tangannya. "Kamu jangan cemas. Bagaimanapun kondisi dan situasimu dulu, sekarang, atau nanti, aku akan tetap ada buat kamu. Aku akan kerja lebih keras lagi. Biar bisa bahagiain kamu. Ayo kita nikah?!" Jino bicara dengan lantang.


Nisa melempar selimut sembarangan. Ia bangkit dan terduduk memeluk bantal. Menatap dalam wajah serius Jino yang tak gentar sedikit pun. "Kamu tuh bodoh atau naif sih?! Masih mau nikahin barang bekas kayak aku? Nanti nyesel baru tahu rasa! Terus kalau udah nikah nanti kamu ungkit lagi?!" kesal Nisa.


"Halah omongan cowok semua sama. Manis diawal pahit ujungnya. Keliatan enak diawal tapi bikin sakit diabetes akhirnya! Basi!"


"Sebegitu nggak percayanya kamu sama aku?"


"Iya. Aku nggak percaya sama semua cowok lagi!" Nisa memukul bantal penuh dendam. Bayangan Rasya hadir menghantuinya. Ingin sekali ia menuangkan sianida dalam minuman cowok berbulu domba tersebut. Tapi bagaimana bila nanti Nisa hamil? Siapa yang akan menjadi ayah dari anaknya? Memikirkannya saja membuat Nisa ingin menjerit sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Gimana caranya biar kamu percaya?" Jino mulai putus asa. Keseriusannya dipandang sebelah mata oleh pujaan hatinya sendiri. Selama ini Jino selalu berusaha yang terbaik untuk membuat Nisa tersenyum. Tapi memang benar, urusan finansial Jino kalah telak dengan Rasya yang tajir melintir dari lahir. Kerap kali ia minder bersaing terang-terangan dengam cowok blesteran Jerman itu.


"Kamu maunya gimana, Nisa?" lirih Jino.


"Aku mau si bedebah itu tanggung jawab. Titik. Harus dia bukan orang lain!" tegas Nisa menggebu penuh amarah.


"Kamu cinta ya sama dia?" Jino menelan kepedihan di batinnya.


"Nggak!"


Jino menautkan alis tak mengerti. Nisa ingin Rasya bertanggung jawab tapi Nisa bilang tidak cinta. Apa sebenarnya tujuan Nisa?


"Kalau dia mau nikahin kamu, apa kamu yakin bakal bahagia sama dia?"


"Justru aku mau buat dia sengsara dan menyesal seumur hidupnya, karena udah berani mempermainkan seorang cewek kayak aku!"


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ini makin drama banget ya. hehe sementara komedinya ku simpen dulu buat nanti. Lagi pengen yang agak drama-drama dulu. #peace


__ADS_2