
Semalaman suntuk Jino terjaga di kamar kosnya. Ia sulit tidur entah kenapa gerangan yang mengganggu waktu rehatnya. Yang ia ingat hanya kata-kata Nisa, bahwa gadis itu besok sore akan kembali ke Semarang. Bagaimana bila Nisa melupakannya? Bagaimana bila tak ada Nisa lagi yang mengusiknya? Bagaimana bila Nisa benar-benar pergi dan lama akan kembali? Atau bahkan tak kembali lagi? Semua pikiran itu cukup menyita isi kepala Jino. Ia frustrasi di saat seharusnya ia berbahagia hati. Sebab tak akan ada lagi gangguan berisik yang menyebabkan emosinya naik turun.
Tapi dipikir-pikir Nisa memang cantik dan manis. Meski wataknya agak absurd, tetap saja gadis itu baik. Gadis seperti Nisa bukankah mudah bila ingin dapat cowok lebih baik dari Jino?
Pintu kamar terdorong dari luar. Alfaro menyembul menatap wajah Jino penuh tanya.
"Kenapa lo? Tiap gue samperin, muka lo kayak telaga warna. Berubah mulu kayak pelangi."
"Berisik. Jangan ganggu gue dulu deh."
"Ye, gue bawain ayam geprek nih sama es teh. Mau nggak?" tawar Alfaro mengayunkan plastik yang ia pegang.
"Maulah."
Alfaro menyerahkan bungkusan plastik pada Jino. Jino langsung menyambut tapi ia letakkan makanan dan minuman itu di atas meja kecil samping nakas. Kemudian Alfaro ikut duduk bersila di dekat Jino.
"Si Nisa lagi ya?"
Jino membuang karbondioksidanya sekuat mungkin. Berusaha menetralisir pikiran tak jelas yang menyelimuti batin gamangnya.
"Kenapa nggak lo pacarin aja sih tuh cewek? Kan lumayan, ada yang mau sama lo harusnya bersyukur, bro."
"Lo mau ngasih solusi, menghibur, atau ngehina gue sih?!"
"Semuanya sih." Alfaro meringis. Udah mirip kayak kuda kelaparan.
"Gue kok galau ya, bro."
"Galau napa?"
"Si Nisa besok sore mau balik ke Semarang."
"Cie, ada yang nggak rela dan takut kehilangan nih," sindir Alfaro.
"Gue juga bingung, harusnya kan gue seneng ya? Tapi ini kok malah kelabakan? Apa yang salah sama gue? Jangan-jangan gue kena pelet lagi?" Jino mulai ngawur. Alfaro menoyornya supaya lekas sadar.
"Percaya amat lo gituan? Musrik woi! Kagak bener tuh! Yang ada lo mulai jatuh cinta kali sama doi?"
"Gue jatuh cinta sama makhluk antartika buangan dari segitiga bermuda itu? Nggak mungkin. Mustahil!"
"Ati-ati kalau ngomong. Ntar lo kena getahnya. Belom tahu kan rasanya jadi bucin sejati? Biasanya, seseorang kerasa berarti kalau udah nggak ada di smaping kita."
Tumben sekali Alfaro bicara bijak. Mungkin efek dia habis dapat pujian dari atasan dan tak perlu merevisi kerjaannya lagi. Atau gara-gara geprek level lima yang pedesnya ngalahin omongan tetangga nyinyir, makanya dia jadi agak naik level juga taraf kebijakannya.
"Gue kesel sama dia. Tapi juga rasanya was-was."
"Nah itu tandanya lo mulai sayang."
"Dari mana lo tahu? Gue aja nggak merasa."
"Lo pasti belom pernah kasmaran kan? Dasar jones abadi lo." Alfaro berdiri setelah menepuk pundak sohibnya. Ia hendak kembali ke kamarnya sendiri dan melaksanakan ritual tidur dengan nyenyak.
"Menurut lo gue harus gimana?"
"Samperin sebelom terlambat."
\=\=\=\=\=\=\=
Di depan rumah Nevan, Jino menunggu bingung. Ia ingin sekali mengetuk pintu tapi tak berani. Sampai Alena muncul menggendong bayi mungilnya. Ia menyapa ibu muda itu dengan senyum semanis sakarin.
"Pagi, Kak?"
"Kamu ngapain di situ? Perasaan nggak ada yang pesen taksi online?"
"Anu Kak, mau ketemu Nisa."
__ADS_1
"Lhoh? Nisa kan udah berangkat subuh tadi."
Jino terperangah. Ia ingat betul semalam Nisa bilang berangkat sore. Kenapa tiba-tiba jadi subuh?
"Tapi katanya sore Kak?"
"Si Nisa mah biasa suka lupa. Tadi aja hampir telat kalau nggak dibangunin sama Nevan."
Entah kenapa seperti ada yang patah dan berguguran di dalam hati Jino. Ia bahkan tak sempat memberi salam perpisahan atau mengucapkan hati-hati di jalan semoga selamat sampai tujuan. Tanpa basa-basi, dengan tampang lesu Jino masuk mobil dan melajukannya pelan. Pikirannya mengawang tak tahu ke mana.
"Gue kenapa sih?! Kok kayak orang habis ditinggal pacar?!" keluhnya memukul setir mobil.
Ponselnya berdering nyaring. Tadinya Jino malas mengangkat. Namun, melihat nama yang tertera di layar, ia langsung memberhentikan mobilnya di tepi jalan bebas. Kemudian mengangkat panggilan masuk tersebut penuh semangat membara.
"Halo, kamu di mana?!" Jino cemas.
"Cie, yang nyariin calon bini? Kangen ya bang?"
Jino mengulum senyum samar. Kesal sekaligus lega juga. "Katanya udah balik ke Semarang? Tadi Kak Lena yang kasih tahu."
"Cie, sampai dicariin ke rumah calon kakak ipar. Takut banget ya kehilangan aku?"
Ingin rasanya Jino melempar bom atom ke sembarang tempat. Supaya emosinya tersalurkan tanpa sisa.
"Jadi, kamu di mana?"
"Di hatimu nggak ada?"
Jino gigit jari. "Aku tanya serius!" omelnya.
"Aku juga serius. Coba cek, ada nggak di hatimu?"
"Jangan ngajakin bercanda dulu Nis. Aku betulan tanya, kamu di mana?"
"Hah? Serius?!"
"Cie, ngarep nih ye?"
Jino melempar topi ke jok samping. Bicara dengan Nisa memang bikin spot jantung tak karuan.
"Kamu udah di Semarang?"
"Maunya aku di mana? Di sampingmu?"
Astaghfirullah. Jino urut dada. "Serah deh, matiin aja teleponnya!"
"Ish gitu aja ngambek. Ntar sayang loh."
"Sayang gimana?"
"Sayang sama aku lah, masa sama tetanggamu."
"Kembali ke topik. Kamu udah di Semarang kan?"
"Udah. Udah di atas jok empuk malah."
"Jok empuk?"
"Iya, naik GrupCar."
"Oh, kenalan nggak sama supirnya?"
"Boleh?"
"Malah nanya."
__ADS_1
"Boleh nggak? Sebagai calon istri yang baik, harus izin dulu sama calon suami."
Jino mesem tapi ditahan. Hatinya jadi merekah kembali penuh bunga-bunga bermekaran. Apakah dia baru saha terkena sindrom kasmaran?
"Terserahmu."
"Nggak konsisten."
"Maksudnya?"
"Kalau aku kenalan sama supirnya trus jatuh cinta lagi trus lupa sama kamu, gimana?"
"Memangnya segampang itu?"
"Bisa aja kan?"
Jino berpikir sejenak. "Jangan deh."
"Jangan apa?"
"Ya, jangan kenalan."
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Melarang itu harus punya alasan jelas."
"Aku nggak ngelarang kok. Cuma memperingatkan."
"Memperingatkan gimana?"
"Kamu mau kenalan? Yaudah sana kenalan aja."
"Cie, ada yang ngambek nih?"
"Aku nggak ngambek. Biasa aja."
"Yang bilang kamu siapa? Jadi beneran?"
Bicara dengan Nisa memang harus punya stok kesabaran super ekstra. Gadis itu pandai berucap, sepandai ia menarik simpati dan empati seorang Jino yang belum pernah terjebak urusan hati sebelumnya.
"Yaudah kamu hati-hati di jalan aja. Jaga diri baik-baik di sana."
"Udah? Gitu doang?"
"Lhah terus apalagi?"
"I miss you, I love you, will you marry me nggak ada gitu?"
Jino menahan senyum yang makin susah ditahan.
"Ntar aja."
"Kapan?"
"Kalau kamu di sini."
"Kode keras nih? Aku otw ke sana lagi sekarang?"
"Jangan! Kuliah dulu yang bener!"
"Siap calonku."
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1