
Keesokan paginya, sekitar pukul sembilan lewat, Rasti baru selesai mandi. Ia mendengar suara seseorang sedang membuka pintu lemari. Dilihatnya Raka tengah membereskan pakaian dan memindahkannya ke dalam koper. Rasti bingung, ia tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu? Ia pun mendekati Raka untuk mencari tahu.
"Raka, kamu ke mana saja dari kemarin? Mama sama Papa telepon nanyain kamu terus tahu. Terus, ini apa-apaan? Kamu mau ke mana lagi?" tanyanya memberuntun.
"Gue mau ke mana itu bukan urusan lo!" hardik Raka.
"Bisa nggak sih, kalau ngomong sama aku tuh nggak usah pakai urat segala! Aku tanya baik-baik karena aku khawatir ya! Gimana pun juga kamu itu suamiku."
Raka mencelos, membuang napas kasar dengan perasaan kesal. "Ngapain elo khawatirin gue segala? lo pikir gue bocah TK apa? Lagian, berapa kali udah gue bilang, nggak usah ngurusin hidup gue! Ingat, pernikahan kita dari awal cuma kompromi. Cuma hitam di atas putih. Nggak ada perasaan apa-apa. Jangan lupakan itu!" tukasnya menekankan kata kompromi.
"Kamu pergi dengan Helen lagi? Apa kalian juga menginap di sini? Di mana hati nuranimu sebagai seorang suami, Raka?"
"Mau gue pergi dengan siapa kek itu bukan urusan elo. Gue juga nggak akan melarang elo misalkan mau punya pacar di luar sana. Whatever! Kita jalanin hidup masing-masing. Jangan dibikin ribet lah ya."
Selalu saja ucapan Raka berhasil mengiris batin Rasti di dalam sana. Ia sudah jemu dan bosan dengan semua rasa sakit yang ditorehkan padanya. Walau kini hatinya telah benar-benar mencintai dengan setulus jiwa, tetap saja tak mampu mengubah perasaan suaminya padanya. Raka tetap pria keras kepala, seenaknya sendiri, dan selalu bicara kasar padanya. Berulang kali Rasti memikirkan apa salahnya. Jawabannya hanya satu, ia menikah dengan pria yang tidak pernah mencintainya. Dan mungkin itu adalah kesalahan terbesar baginya. Ditambah, ia juga bingung, kenapa dirinya bisa jatuh hati pada seseorang sebrengsek Raka? Tak ada jawaban pasti di dalam hatinya.
Seseorang masuk tanpa permisi. Seolah kamar ini adalah miliknya sendiri. Helen menghampiri Raka dan mengapit lengan pria itu. Sebuah ciuman sengaja ia daratkan di pipi kekasih gelapnya. Tepat di depan mata Rasti. Benar-benar menambah garam di atas luka menganga yang Rasti rasakan. Ini bukan pertama kalinya mereka terlihat intim dan mesra di hadapan Rasti. Namun, sakitnya justru makin terasa menyayat-nyayat batin. Dengan berat hati Rasti hanya bisa memalingkan muka. Dua tangannya menggenggam erat tali kimono handuk yang ia kenakan, dengan perasaan membuncah. Campur aduk, ingin marah tak kuasa, ingin menangis tak mampu, ingin berteriak terlalu malu. Untuk ke sekian kali, Rasti hanya bisa mengalah dan pasrah.
"Udah belom, Beb? Mau kubantu?"
"Nggak usah, duduk aja sana."
__ADS_1
"Kamu ribut lagi sama istrimu?" Helen melirik Rasti yang sibuk memilah pakaiannya sendiri, berniat untuk ganti baju di kamar mandi saja nanti.
"Biasalah."
"Kenapa kalian nggak pisah aja sih? Sama aku lebih enak kan? Nggak ribet pakai status di atas materai? Have fun aja."
"Tunggu aja sampai nyokap bokap gue tanda tangani surat warisan. Baru gue kelarin semua drama ambigu ini."
Jawaban Raka menjadikan Rasti hilang fokus. Pakaian yang ia pegang terjatuh. Badannya terasa lemas, seakan semua persendian dan tulang-tulang dalam tubuhnya lunglai tak berdaya. Setitik air mata jatuh di pipi. Ia menyeka dengan susah payah. Satu tangan lain mengepal penuh amarah. Rasanya, sulit untuk menahan semua ini lagi.
Ia mendekati mereka berdua. Setelah memastikan tak ada sisa tangis di wajahnya. Ekspresinya penuh ketegasan sekaligus kepedihan yang menjerat tiada ampun. "Jangan cemas, Raka, daripada kamu lelah menunggu waktu perpisahan kita tiba, aku yang akan mengakhirinya sekarang!" pekiknya dengan pandangan menyala. Ada kobaran yang sulit dijelaskan maknanya di dalam mata berkilat itu. Seakan kerapuhan dan kesengsaraan baru saja ia luapkan.
Dan pintu pun tertutup. Raka membanting pakaian hingga berserakan semua. Helen kebingungan. Ia kira hal bagus bila Rasti meminta cerai dari Raka. Nyatanya, itu hal buruk bagi Raka.
Perjanjian tetap perjanjian. Pertama, orang tua Raka tak akan memberikan sepeser pun harta warisan padanya, bila Raka tak menikahi gadis pilihan mereka. Kedua, Raka tidak akan jadi ahli waris lagi bila sampai dirinya dan Rasti bercerai sebelum orang tuanya menyerahkan semua. Ketiga, Raka akan dicoret dari kartu keluarga, apabila ia sampai ketahuan berselingkuh oleh orang tuanya. Jelas saja, semua pasal perjanjian mereka amat merugikan Raka saat ini.
Kalau bukan karena kebaikan dan ketegaran hati Rasti, menyimpan semua kebusukan dan perselingkuhan suaminya dari sang mertua, mungkin sekarang Raka tak akan bisa menikmati segala sesuatunya. Ia hanya pria yang menyukai kebebasan, tidak suka ikatan apalagi kekangan. Tapi, ia juga tak bisa hidup tanpa kekayaan dan uang. Ini menjadikan dirinya terpaksa terbelenggu dengan keharusan menikahi gadis yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya, serta tidak ia cintai hingga detik ini.
Terlebih, tujuan bulan madu kali ini adalah demi hadirnya seorang buah hati. Atas permintaan orang tuanya pula, Raka terpaksa menuruti. Bagaimana ia bisa tidur dengan seseorang yang tidak ada di hatinya? Ia pun tak tahu. Padahal, selama ini, sudah banyak wanita bercinta dengannya tanpa ikatan hati sama sekali. Lalu, apa masalahnya dengan Rasti? Kenapa Raka begitu enggan menyentuh istrinya sendiri? Hal ini pun selalu menjadi pertanyaan bagi jiwa Rasti yang merana.
Rasti selesai memakai pakaiannya. Ia kembali ke luar. Raka terduduk di atas tempat tidur seorang diri. Bola mata Rasti menatap sekeliling, tak ada Helen lagi di sana.
__ADS_1
"Di mana pacar gelapmu?"
"Udah gue usir. Kita perlu bicara serius!" Raka bangkit berdiri. Ada kemarahan di matanya, tapi sekuat mungkin ia tahan. Agaknya, keadaan tengah berbalik saat ini.
"Aku lapar. Malas membahas apapun lagi. Kalau kamu mau bicara, kita sarapan dulu. Setelah itu, aku akan kemasi barang-barangku dan kembali ke Jakarta. Untuk bilang ke mama papa kalau kita nggak bisa mempertahankan rumah tangga lagi."
Raka melotot. "Lo ngancem gue?!" pekiknya emosi.
"Kenapa? Kamu merasa terancam? Bukannya itu yang kamu mau? Pisah dariku? Terus, bisa senang-senang sepuasmu sama selingkuhanmu? Aku baik kan?" balas Rasti sudah tak peduli. Goresan di hatinya terlalu dalam untuk diobati.
"Apa mau elo? Cepet bilang!"
"Kamu yakin mau tahu?"
"Nggak usah banyak basa-basi. Kali ini kita buat perjanjian lebih solid. Sebagai gantinya, lo nggak boleh ngadu ke nyokap bokap gue tentang semua ini."
"Oke. Tunggu di sini." Rasti berlalu menuju tasnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mencari kertas dan bulpoin. Lalu menuliskan sesuatu. Setelah itu ia sodorkan pada Raka.
"Ini yang kumau. Bisa?"
\=\=\=\=\=🌹Bersambung🌹\=\=\=\=\=
__ADS_1