FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
[Season 2] Bab. 12 - Piknik Malam


__ADS_3

Di ruang tengah, Jino tengah asik bermain rumah-rumahan dan boneka bersama Yasmin. Sedangkan Nisa baru selesai mandi dan ganti baju di kamar. Ia duduk bersila di sofa sembari menyantap makan malam.


Dari kamar utama, Alena dan Nevan muncul bersamaan. Keduanya baru saja bangun tidur setelah melakukan ritual suami istri.


"Lapar, Sayang," rengek Nevan manja. Tangannya bergelayut manja di lengan Alena.


"Iya kusiapin dulu. Kamu main sama Yasmin dulu sana."


Alena menuju dapur, ruangannya memang hanya dibatasi meja panjang saja tanpa dinding penyekat. Jadi masih bisa saling melihat satu sama lain.


"Jino nggak makan? Nisa, kamu kok makan sendirian aja?" tegur Alena ketika melewati sofa.


"Udah dari tadi kusuapin."


Faktanya, Jino hanya dua kali menerima suapan dari Nisa. Sedangkan Nisa sudah tambah tiga kali. Entah dia benar-benar lapar atau memang doyan.


"Lhoh! Sayur sawi sama rica-ricanya kok tinggal kuah doang?" Alena panik. Seingatnya ia masak sepanci sayur dan sepiring besar ayam rica-rica, ditambah perkedel kentang yang hanya sisa dua biji saja.


"Tadi Yasmin makan nambah terus, Kak." Nisa melempar alasan. Mengkambinghitamkan keponakannya yang masih asik dengan boneka slime.


"Yasmin kan nggak doyan makan pedes?" Alena makin cemas.


Sejak beberapa saat Nevan sudah mencium bau-bau ulah terselubung Nisa. Ia langsung duduk di dekat adiknya dan menjewer telinga Nisa. Gadis itu protes disela kunyahan. "Aduh, Kak, sakit tahu!"


"Kamu abisin semua lauk, terus salahin Yasmin?!" omel Nevan.


Nisa hampir tersedang, untung Jino cepat tanggap dan langsung menyodorkan segelas air pada Nisa. Nevan merebut paksa. Sengaja membiarkan adiknya terbatuk karena makanan yang tersangkut di kerongkongan.


Yasmin tak tega melihat tantenya terbatuk-batuk. Ia pun menyodorkan gelas berhias sedotan pada Nisa. Nisa yang tak fokus asal sedot saja. Ternyata isinya cairan slime yang belum jadi. Ia pun berlarian mencari wastafel untuk dimuntahkan kembali.


"Anak pintar!" Nevan mengajak Yasmin tos.


"Pesan makanan aja ya?" Alena memberi solusi. Ia hendak ke kamar mengambil ponselnya.


"Mau kubelikan nasi goreng di dekat komplek, Kak?" tawar Jino. Sebenarnya ia juga menahan lapar sejak tadi.


"Eh iya, nasgornya Uda Koko ya? Enak tuh, boleh deh. Tapi minta acar yang banyak ya?" Nevan beranjak. Ia berlalu sebentar untuk ambil dompet. "Tunggu bentar, gue ambilin duitnya dulu."


\=\=\=\=\=\=\=


Di halaman samping, Alena sengaja menggelar tikar. Ceritanya mereka piknik dadakan malam hari. Padahal sudah hampir jam sebelas lewat. Sayangnya, kali ini Nisa hanya mampu jadi penonton saja. Perutnya terlalu penuh, tak mampu diisi lagi. Padahal melihat semua makan, ia jadi ingin juga.


"Ohya, Gimana soal kalian? Soal nikah itu?" Nevan teringat curhatan Jino. Sejak datang ia ingin tanya tapi kelupaan terus.


"Iya Kak, aku mau nikah sama Jino besok di KUA!" seru Nisa percaya diri. Tak memberi kesempatan Jino menjelaskan.

__ADS_1


"Heh bocah, kamu pikir nikah segampang goreng tempe?" Nevan menoyor adiknya.


"Apa sih Kak, kan niat kami baik. Menghindari zina dan dosa tahu," tukas Nisa penuh penekanan. Gayanya sudah seperti ustazah di acara dakwah pagi saja.


"Bilang papah mamah dulu sana. Setuju apa nggak. Terus, Jino, lo yakin mau nikahin manusi setengah alien ini?" cibir Nevan melirik geram pada sang adik.


Jino mengangguk yakin. "Iya Kak."


"Mending istiqharah dulu deh. Gue khawatir lo salah jalan," sindir Nevan.


Nisa yang tak terima langsung meniju lengan kakaknya. "Gini-gini antrian panjang tahu! Memangnya Kak Nevan, bukan diantriin malah ikut antri. Masih mending Kak Lena mau. Eh itu pun terpaksa juga sih ya," balas Nisa tak mau kalah. Ia hampir dapat jeweran kakaknya lagi, kalau tak segera menghindar di balik punggung Jino.


"Udah-udah, kalian ribut terus kayak tikus sama kucing nggak kelar-kelar. Nis, tolong tengok Yasmin bentar gih, masih tidur apa nggak di kamar," pinta Alena.


"Oke, kakak iparku yang malang. Pasti susah ya jadi istri kakakku yang bucin dan manja ini," ledek Nisa.


"Minta dilempar ke laut anak ini!" Nevan ingin mengejar adiknya, tapi Alena menahan.


"Kak, aku serius sama Nisa. Boleh nggak sementara habis nikah kita numpang dulu di sini. Sambil aku nyicil rumah."


Wajah Jino agak memelas. Bukan hal mudah baginya berkata sedemikian jujur dan terang-terangan. Tapi agar Nisa tetap nyaman dan hubungan mereka aman, ia harus membuat pilihan meski sulit. Ia berani mengutarakan, sebab Nevan sudah seperti saudaranya sendiri. Ia tahu Nevan masih punya simpati dan empati untuk dirinya dan sang adik.


Melihat kesungguhan Jino ingin membahagiakan Nisa, Nevan menepuk bahu Jino. "Nggak usah dipikirin soal itu. Yang penting jagain Nisa baik-baik. Walaupun dia agak kurang-kurang waras, tapi ya terima aja apa adanya," nasehat Nevan.


"Tapi harus dapet restu dulu dari ortu."


"Siap Kak."


"Satu lagi, kalau nanti punya anak, jaga bener-bener. Siapa tahu si Nisa khilap trus digadein buat beli album Kpop," gurau Nevan memecah ketegangan.


"Kak!" teriak Nisa dari pintu samping.


"Apa?" Alena terkejut.


"Yasmin!"


Semua berlarian ke dalam. Si kecil Yasmin duduk memeluk boneka sembari menghadap televisi dengan raut bingung. Padahal televisi sudah dimatikan.


"Kenapa, Nak?" Alena memeluk putrinya.


"Itu Kak, tadi pas kucek, kok celananya merah-merah. Apa jangan-jangan Yasmin datang bulan?!" Nisa masih shock.


Nevan langsung menjitak kepala adiknya. "Mana mungkin anak seumur Yasmin datang bulan! Ngaco!"


Alena langsung mengecek pakaian belakang Yasmin. Setelah ia endus dan telusuri karpet berbulu di bawah sana, rupanya itu hanyalah bekas tumpahan sirup Marjan. Yasmin mendudukinya saat bermain, waktu dibopong Nevan ke kamar, pun semua belum sadar.

__ADS_1


sangking paniknya, Nisa malah menggendong Yasmin yang terbangun dan menurunknnya di sofa tengah.


"Jadi bukan ya?" Nisa masih merinding.


"Bukan. Ini cuma sirup."


"Aduh syukurlah. Kirain haid atau keguguran," celetuk Nisa makin ngawur. Ia langsung dapat tendangan dari Nevan.


\=\=\=\=\=\=


"Udah malem, Yank bobok yuk?" Nisa merengek manja. Jino baru saja berpamitan akan pulang ke kos.


"Yang bener aja, masa belum sah udah mau bobok bareng?" Jino memerah.


"Ish kenapa memangnya?"


"Nggak boleh, Yank. Nanti jadi gimana?"


"Jadi apa?"


"Jadi pengen!"


"Pengen apa?"


"Pengen cepet halalin kamu, Yank!"


"Mau dong di-"


Sebuah lemparan sendal melayang mengenai lengan Nisa. Nevan dari tadi jengah mendengar ocehan dua pasangan absurd ini. Ia yang sedang mengecek email dari laptop di ruang tamu jadi kurang konsentrasi.


"Ish, apa sih Kak Nevan! Iri banget!" ketus Nisa.


"Jino! Balik sekarang! Sebelum lo juga kena lemparan sandal gue!" ancam Nevan.


Buru-buru Jino menuju mobilnya dan melambai sambil mengudarakan kissbay. "Kangenin aku ya?"


"Selalu!" balas Nisa. Kembali sebuah sandal terlempar.


"Nisa! Masuk!" teriak Nevan emosi.


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


Jangan heran ya kalau FN semakin gaje. Sebab diriku bikin cerita ini memang niatnya untuk sekadar hiburan semata. Syuku2 kalau bisa menghasilkan kan. Hehe. Thanks for like and komen. ^^


\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2