FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
Bab.18 - Sang Mantan


__ADS_3

Alena baru saja merapikan kotak makan yang sudah kosong. Nevan tak pernah tega membiarkan masakan istrinya tersisa barang secuil. Meski kadang keasinan, atau malah kehambaran. Ia tak ingin membuat Alena sia-sia memasak untuknya.


"Lumayan, hari ini aku irit uang jajan," celetuk Nevan setelah meneguk minuman di botol. Alena mengusap tisu di sekitar bibir suaminya. Sudah seperti mengurus bayi besar saja.


Seseorang menghampiri keduanya, membawa sebuah nampan berisi es cendol. "Permisi .... "


Sapaan Alfian membuat Alena tersentak. Sedang apa dia di sini? Pikir Alena. Ia melirik kilat ke kanan, suaminya baru saja terbatuk akibat tersedak minuman, karena melihat sosok mantan pacar istrinya.


"Tidak perlu kaget begitu, cafe ini salah satu cabang milik pamanku. Seminggu lalu, aku baru saja dipindah dari cafe yang lama ke sini," katanya menjelaskan.


Ia ingat Alena sempat ingin minum es cendol. Saat menyadari keberadaan Alena, Alfian langsung membuatkan menu baru andalannya tersebut.


"Kamu kan pengen minum ini, jadi kubuatin khusus buat kamu." Alfian menyodorkan minuman buatannya pada Alena.


"Nggak usah! Ngapain bikinin segala! Nggak ada yang pesen! Sana pergi! Gangguin orang lagi mesra-mesraan aja!" usir Nevan sambil mengibaskan tangan.


Alena melotot, tak suka Nevan bertidak kekananakan di depan banyak orang begini. Ia mengaduk minuman dan menyeruput isinya. Sejak dulu, hasil racikan tangan Alfian, memang tak pernah mengecewakan lidah Alena.


Mereka dulu adalah sepasang kekasih semasa di Surabaya. Mereka bertemu di satu tempat kerja yang sama. Saat Alfian dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Bali, membantu pamannya. Ia pun terpaksa menyudahi hubungan mereka secara baik-baik.

__ADS_1


"Lo nggak kasih jampi-jampi diminuman bini gue, kan?" Nevan melirik sinis, lalu melanjutkan, "atau jangan-jangan lo kasih sianida lagi di minuman gue?" tuduhnya lagi.


Alfian hanya tersenyum tak menggubris. Sementara di bawah meja, hils Alena sudah lebih dulu menginjak sepatu fantopel Nevan. Pria itu meringis menahan ngilu.


"Makasih, Fin," ucap Alena.


"Lain kali kalau pengen makan apa aja, bilang ya? Aku pasti siapin buat kamu."


Nevan berdesis tak suka. Dalam hati dia merutuk, ingin sekali melempar gelas ke wajah sok polos di depannya. Bila bukan karena Alena ada di sini, sudah pasti Nevan melayangkan baku hantam tanpa sebab. Padahal, ia hanya tengah iri hati, karena Nevan kurang jago memasak. Kecuali nasi goreng, mie rebus, dan air hangat. Miris sekali.


"Btw, gimana kabarmu? Kandunganmu juga? Baik kan?" Alfian menarik kursi di sebelah dan duduk bergabung, tanpa meminta persetujuan. Membuat Nevan makin naik pitam.


"Yasudah, kita duluan ya? Nevan harus balik kerja, aku juga mau pulang." Alena mengajak Nevan berdiri.


"Tunggu sebentar." Alfian memanggil seorang pelayan. Seperti menyiapkan sesuatu. Ternyata benar, ada sekantung plastik makanan yang dibawakan sang pelayan. Alfian memberikannya pada Alena.


"Ini makanan kesuakaan kamu, chiken katsu dan capcay goreng."


Alena menerima dengan gusar. Tapi ia tetap berterima kasih. Lalu mengajak Nevan segera pergi. Sejujurnya Alena menyesal mengajak Nevan ke restoran ini. Ia pikir karena paling dekat dengan kantor Nevan, akan lebih efisien. Nyatanya malah menimbulkan prahara begini. Lihat saja bibir Nevan yang merengut.

__ADS_1


"Seneng ya?" sindir Nevan sinis.


"Pemberian orang kan, nggak boleh ditolak, Van. Namanya nggak menghargai."


"Oh ya?" Nevan berdesis tak suka.


"Kalau kamu nggak mau makan yaudah, biar aku yang habisin. Nggak usah repot deh," dumel Alena. Makin memupuk emosi Nevan.


Pria itu tak bicara lagi, langsung pergi begitu saja. Kecewa dengan sikap Alena yang menanggapi semua dengan biasa. Rasanya tidak adil, bila Nevan saja yang harus menjaga perasaan Alena. Ia teringat semalaman dikunci di luar rumah, hanya karena mengantarkan Inez. Hati Nevan terombang-ambing. Teringat Karina, mantan pacar yang memutuskannya, saat ketahuan berselingkuh dengan mantan pacarnya.


Nevan khawatir, kisah drama patah hatinya terulang kembali. Masih mending saat itu dia hanya menyandang jomblo atau bekas pacar. Tapi sekarang, bila ia kehilangan Alena, maka ia akan menyandang gelar duda atau duren. Memikirkan hal itu membuatnya mengacak rambut. Nevan frustrasi.


\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=


Yuhu......


Gimana? Masih mau lanjutin drama orang ketiga yang lebih greget? Atau stop aja? Cus komeng di bawah, aku tunggu pendapat kalian. #Authorygsokbaik #plakk


See u all. ^^

__ADS_1


__ADS_2