FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
Bab.25 - Prahara


__ADS_3

Sesampai di rumah sakit, Alena langsung melesat kilat, meninggalkan Nisa bersama sang driver muda nan tampan. Wajah pemuda itu lumayan mirip dengan Sehun EXO, idol ternama di Korea. Sepertinya dia blesteran. Nisa tampak celingukan bimbang.


"Nona, ongkosnya?" tagih driver.


"Siapa namamu, Pak Supir?!"


"Jino," balas si driver kurang senang. Ia melirik Nisa dengan pandangan curiga.


"Oh ya, Jino. Bisa pinjem hp sebentar?"


Awalnya Jino tampak berpikir, tapi akhirnya ia pun meminjamkan ponsel pada Nisa. Sesaat pemuda itu terpana memandang wajah cantik dengan polesan lipstik nude tipis di bibir mungilnya. Ia pikir seperti tengah melihat boneka barbie hidup.


Nisa mengetik beberapa digit nomor dan menyimpannya di ponsel Jino. "Nih ambil. Ntar telepon aja ya!" Nisa menyodorkan kembali ponsel milik Jino, kemudian langsung ke luar menyusul kakak iparnya.


Jino sadar ada yang tidak beres. Ia bergegas turun dan mengejar Nisa. "Hei! Tunggu! Anda belum bayar!" teriak Jino, menjadi pusat perhatian sekeliling. Ia sempat ditegur petugas jaga, karena parkir mobil sembarangan. Setelah menepikan mobil di area yang tepat, Jino berlarian menghampiri Nisa. Beruntung gadis itu masih berdiri di lobi dengan tampang tak karuan.


***


Di depan pusat informasi rumah sakit, Alena berdiri tertatih menahan berat tubuhnya. Berjalan cepat tentu saja menguras energi Alena. Ditambah ia memang sedang hamil . Bukan hal sulit baginya menebak rumah sakit yang dimaksud Azizah. Sebab, temannya bekerja di sana. Itu sebabnya Alena langsung mengarah ke tujuan, tanpa perlu interogasi lebih panjang.


"Alena!" Azizah menghampiri Alena dengan langkah tergesa. Beberapa saat lalu, Alena mengirim pesan padanya, bahwa Alena sudah tiba di rumah sakit.


"Suamiku di mana, Mbak?! Siapa yang dia hamilin? Atau Kak Rendra yang udah hamilih perempuan itu?!" pekik Alena menahan tangis batinnya.


"Ngehamilin gimana maksudnya, Len?" Azizah tak mengerti arah perkataan Alena. Ia tampak menimbang ragu.


"Bukan gitu Len-"


"Udah kasih tahu aja, Mbak! Mereka berdua di mana sekarang?!"


Azizah tak berani melanjutkan penjelasan. Ternyata kemarahan Alena, lebih menyeramkan daripada hantu yang berkeliaran di malam Jumat kliwon. Ia pun langsung mengajak Alena menemui suami dan kakaknya.


Di kursi tunggu, tampak Nevan dan Rendra memasang ekspresi tertekuk lusuh. Keduanya termenung penuh kekhawatiran. Seorang dokter baru saja ke luar menghampiri. Nevan berdiri kaku.


"Gimana kondisi pasien, Dok?"


"Tidak apa, ibu dan calon bayinya tertolong," ujar dokter sembari tersenyum hangat.


"Terimakasih, Dok." Nevan bernapas lega.


Di sudut lorong terdekat Alena makin membara. Ia menghampiri suaminya dan kakaknya dengan pandangan setajam belati. Siap menghunus hingga berdarah. Kedua pria itu kaget mendapati kehadiran Alena bersama Azizah.

__ADS_1


"Siapa ayahnya?! Ayo jawab!" tuntut Alena. Jelas membuat bingung Nevan dan Rendra. Mereka saling pandang sebentar, sama-sama menampilkan wajah tak paham.


"Siapa?! Jawab!" Alena memaksa.


"Tunggu, Sayang. Kamu kenapa?" Nevan berusaha menenangkan keadaan. Meski ia masih belum mengerti maksud pertanyaan istrinya.


"Mbak Zizah udah cerita. Perempuan yang di dalem lagi hamil, kan?! Siapa yang hamilin?! Ngapain kalian repot-repot nungguin di sini, kalau bukan pelaku utama!" tuding Alena tanpa dasar yang pasti.


"Bentar deh. Zizah, kamu ngomong apa ke adikku?" Rendra meminta penjelasan Azizah. Ia yakin pasti ada kesalahpahaman di antara prahara ini.


"Sebetulnya gini, Ren. Aku hubungin Alena mau kasih tahu suaminya di sini. Tapi belum kelar ngomong, udah dimatiin teleponnya. Tiba-tiba Alena bilang udah sampai rumah sakit. Aku nggak sempat jelasin, dia udah uring-uringan duluan," jelas Azizah membeberkan kronologi sesungguhnya.


"Apa sih? Maksud Mbak Zizah gimana?" Alena makin pusing.


"Aku nggak sengaja nabrak orang, Sayang. Kebetulan, yang kutabrak lagi hamil gede." Nevan meluruskan benang kusut.


"Jadi, bukan kalian yang ngehamilin?" Alena linglung sekaligus lega.


"Gila aja! Kakakmu ini sampai tujuh turunan setia sama satu cewek, Len!" bela Rendra setengah membanggakan diri. Ekor matanya tanpa sadar melirik Azizah.


"Kalau Nevan tambah nggak mungkin lagi, Len. Suamimu kan bucin abadi," lanjut Rendra setengah mencibir.


Rendra kelabakan, merasa sudah tak bisa lari lagi dari kenyataan.


"Siapa?"


"Siapa?"


Alena dan Azizah hampir bersamaan mengutarakan kekepoan senada.


"Kak Nevan! Kak Lena!"


Suara Nisa terdengar nyaring, menjeda perbincangan empat orang di sana. Di belakangnya, Jino mengekori Nisa dengan tertatih. Tangan mereka bahkan diborgol bersamaan.


"Ada apa ini?" Azizah menunjuk borgol.


"Itu, Kak. Tadi aku dan Kak Lena naik GrupCar. Tapi lupa bawa uang. Driver ini bilang aku penipu karena nggak mau bayar. Bukan nggak mau sih, tapi nanti dibayar. Kami ribut di lobi. Sampai kena marah satpam jaga. Karena nggak mau ngalah, kami diborgol gini, tapi kami berhasil kabur."


Nevan dan Rendra menepuk jidat bersamaan. Tambah lagi persoalan aneh yang datang. Tak mau ambil pusing, Nevan merogoh saku celana, mengambil dompet kulit bermerknya. Mengeluarkan lembaran seratus ribuan dan menyerahkannya pada Jino.


"Nih ambil. Beres kan? Sekarang kalian ke pos satpam lagi dan minta maaf. Cepetan!"

__ADS_1


Nisa dan Jino tunggang langgang, ketika mendengar nada tinggi Nevan penuh ketegasan.


"Gara-gara kamu nih!" gerutu Nisa emosi.


"Kok saya? Anda yang nggak mau bayar tadi!" Jino tak mau disalahkan.


"Ralat ya, bukan nggak mau bayar, tapi utang dulu bentar!"


"Sama aja, Anda yang salah, karena nggak bertanggung jawab!"


"Idih, songong! Pokoknya kamu yang salah! Ingat, cewek selalu benar. Cowok selalu salah. Kalau cewek salah, balik ke poin awal," dumel Nisa makin sarkastis.


"Heran saya. Tampang sih cantik, tapi kok semrawut omongannya," keluh Jino.


Mendadak Nisa menghentikan laju langkahnya. Jino ikut berhenti.


"Kenapa?"


"Anu, pengen pipis." Nisa meringis.


"Hah?! Tahan! Lepasin borgol dulu!"


"Nggak kuat! Udah di ujung tanduk tahu!"


"Tahan! Saya nggak mau nemenin Anda ke toilet!"


"Ih, ge-er! Aduh! Kebelet!" umpat Nisa histeris.


\=\=🌹🌹\=\=


Sekilas sapa_


Hai, cuma mau menegaskan, bahwa cerita FN hanya sekadar untuk hiburan semata. Jadi jangan heran kalau ceritanya terlalu santai atau gini-gini aja ya. ^^


*Btw gais, thanks for like and comment. ^^


Salam hangat,


Depa CBS (Dee14007*)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2