
Sejak bertengkar dengan Nevan siang tadi, Alena berpikir keras. Bagaimana caranya agar bisa mengambil hati suaminya kembali. Ia bahkan tak jadi memakan makanan pemberian Alfian. Ia sumbangkan makanan tersebut, pada anak jalanan yang ia temui di dekat lampu merah.
Hanya ada selintas ide absurd di kepala Alena. Satu hal yang bisa meluluhlantakkan kemarahan Nevan, adalah gairah seksualnya. Artinya, Alena harus bisa memancing hasrat suaminya. Anggap saja ia sekaligus mencari pahala untuk menyenangkan Nevan.
Seperti biasa, Alena sudah bersiap dengan kaus oblong di atas lutut, tanpa celana. Begitu mendengar suara deru mesin mobil berhenti, ia pun bergegas ambil posisi. Berdiri di tengah pintu pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Satu tangan memegang perut, satu lagi menopang leher. Rambut panjang sedikit bergelombangnya dibiarkan tergerai ke samping. Sudah sangat mirip dengan model papan atas. Entah apa yang ada dipikirannya, sampai mau bertindak setengah konyol begini. Seolah ia sedang melakukan pemanasan ala modeling.
Membayangkan ekspresi Nevan, Alena senyum tak jelas. Pasti suaminya akan senang dan langsung melupakan pertengkaran siang lalu. Nevan memang selalu mudah naik hasratnya bila bersama Alena.
Nevan membawa kunci cadangan, ia antisipasi bila Alena ngamuk lagi dan menguncinya dari luar.
Cklek.
Terdengar suara pintu dibuka. Dalam hitungan detik, ia terbirit berlari menuju ruang tengah dan ambil posisi seperti dalam drama yang ia tonton. Berbaring setengah miring di sofa empuk. Menopang kepala dengan satu tangan. Menaikkan sedikit kausnya, hingga terekspose pangkal pahanya yang putih mulus. Dia benar-benar merasa sudah gila sekarang. Jika bukan demi menyenangkan dan memberi kejutan khusus untuk suami tercintanya, ia pasti tak akan melakukan hal konyol hasil dari riset buku, tips dan trik rumah tangga harmonis dan romantis.
Derap langkah itu makin kentara menuju ruang tengah, Alena mengatur oksigen sebisa mungkin. Berusaha tak terlihat grogi. Menyembunyikan perasaan malu, yang sebenarnya sudah menumpuk menggunung di kepala.
Dan sosok makhluk tampan menyembul masuk dari balik tirai pintu ruangan.
Hingga ....
Pria itu terbengong di tempatnya berpijak.
"A ... pa ... yang ... se ... dang ... kau... la ... kukan?" ucapnya terbata.
Alena melebarkan retina kaget sekaget kagetnya. Tanpa sanggup memberi jawaban, ia kabur tancap gas menuju kamar.
Blamm.
Dibantingnya pintu kamar keras-keras dan langsung mengunci.
Sementara itu Rendra masih belum bisa kembali pada kesadarannya. Sebagai seorang pria normal, mendapati pemandangan menggiurkan, tentu saja bukan hal mudah untuk melawan insting kelelakiannya. Terlebih, bagaimanapun juga Alena adalah adik tirinya. Pria kharismatik ini tercekat dalam takjub. Tanpa sadar dadanya bergemuruh mengucap seuntai istighfar agar tak makin terbius.
"Kenapa? Gue denger suara pintu dibanting kenceng amat?" keluh Nevan menyusul kakak iparnya. Ia bingung melihat pria di dekatnya, mematung dengan semburat merah di pipi.
"Kenapa lo, Ren? Sakit?" selidik Nevan mengernyitkan dahi.
"Kagak! Gue keknya nggak jadi nginep dah!"
__ADS_1
Rendra sempoyongan menahan kepalanya yang mendadak pusing. Ia mengurut kening setengah menahan stres. Bila saja Rendra ada di dunia anime, mungkin setetes darah telah mengalir dari hidungnya. Tak menyangka Alena bisa membuat kakak tirinya sampai kelimpungan.
"Lo kenapa sih, bro?" Nevan makin bingung. Pasalnya, malam ini mereka berniat kerja rodi menyelesaikan sisa lemburan di kantor. Menggarap desain bangunan apartemen yang deadline-nya makin mepet.
Keduanya sepakat akan merampungkam di rumah Nevan saja. Agar Alena tidak sendirian malam-malam.
"Gue balik!" kata Rendra mengangkat satu tangan. Seperti orang sedang menyerahkan diri.
"Rendra ke luar dan menutup pintu. Ia masih sempat termenung di depan teras. Mengelus dada. "Astaghfirullah ... astaghfirullah ... astaghfirullah .... " tukasnya berkali-kali.
***
Alena lekas menghampiri suaminya. Ia sudah memakai celana seperempat seperti biasa.
"Kak Rendra udah pergi?" tanyanya celingukan.
"Barusan. Mukanya aneh banget kek orang habis lihat hantu aja," pungkas Nevan.
Alena menggaruk tengkuk padahal tak gatal sama sekali.
Alena kikuk ditatap dengan pandangan sayu oleh suaminya. Ia meneliti diri sendiri, apa ada yang tak beres? Pikirnya membatin.
"Maaf soal tadi siang?" lirih Alena merasa menyesal.
"Cuma maaf?" Nevan mencari kesempatan. Wajah was-was istrinya benar-benar menggoda imannya. Ia sampai tak ingat lagi, sejak kapan ia jadi kecanduan pada istrinya. Alena bukan hanya memberi kehangatan peluk untuk Nevan yang merana. Tapi juga berhasil menghangatkan hatinya yang sempat gulana akibat dikhianati sang mantan.
Waktu mereka memang singkat untuk saling jatuh cinta setelah menikah. Tapi agaknya, mereka bisa dengan mudah beradaptasi, sebab masa pengenalan mereka memang sudah lumayan kentara.
Nevan maju selangkah. Alena mundur selangkah.
Keduanya terus melangkah hingga terpojok dan Alena terjungkal ke sofa. Namun lengan kokoh Nevan lebih dulu merengkuhnya.
"Jangan cemas. Selama perut indahmu aman. Kita bisa meneruskannya," bisiknya di telinga Alena. Gadis itu merinding merasa telinganya ditiup hangat.
Sepasang suami istri larut sejenak dalam buaian. Alena melenguh pelan menikmati sentuhan bibir Nevan di lehernya. Ia berusaha membantu Nevan membuka satu-persatu kancing kemejanya. Bibir Nevan kembali menelisik menyapu lembut, bibir sensual milik istrinya. Sensasi yang selalu mampu membuatnya terlena.
"Van!" teriak Rendra berjalan pelan. Ia mematung di ambang pintu tengah lagi.
__ADS_1
Brak.
Nevan terjatuh ke lantai beralas karpet bulu. Suara seseorang membuatnya hilang fokus dan keseimbangan. Dari arah ruang tamu, Rendra berdiri terpaku. Ia terpaksa kembali, karena ingin meminjam kunci mobil dan mengambil alih pekerjaan yang akan mereka selesaikan. Entah berapa lama Rendra menimbang di luar hingga sadar dari kekhilafan otaknya.
"A ... pa ... aku ... meng ... ganggu ?" ia terbata untuk kali kedua malam ini.
Alena sudah melesat kilat, begitu melihat sosok kakaknya datang kembali. Masih teringat momen memalukan beberapa saat lalu. Entah dia sanggup bertemu Rendra lagi atau tidak setelah ini.
"Argh! Memalukan sekali!" rutuk Alena memukul kepala.
Ia menyandar di balik pintu kamar. Badannya seketika lemas tak bergairah. Untung saja permainan liar mereka belum sampai ditahap buka-bukaan. Parahnya lagi, Nevan juga lupa mengunci pintu luar. Penatnya seharian kerja menjadi penyebab ia kurang fokus.
Nevan membenarkan pakaiannya yang acak-acakan. Berdiri dengan sigap, berpura-pura tak panik. Ia memijat tengkuk dan duduk tenang di sofa.
"Jadi nginep?" tanya Nevan mengalihkan perhatian.
"Kagak. Gue mau ambil kerjaan kita, biar gue yang kelarin. Sama kunci mobil lo sekalian. Mobil gue kan, ditinggal di kantor. Besol lu naik taksi aja."
Nevan segera merogoh saku celananya, meraih kunci mobil dan menyerahkannya pada Rendra. Begitu juga kertas-kertas panjang yang teronggok di dalam sebuah tabung hitam.
Rendra putar balik setelah menerima semua yang ia pinta. Ia menoleh sekilas. "Lain kali, kalau mau main tuh kunci pintu dulu. Nggak sabaran amat lo, bro," cibir Rendra dan berdecak.
Nevan hanya meringis mendengar petuah dari sobatnya.
"Gue balik dulu. Kunci pintunya!" Rendra mengulangi peringatannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=&&&\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ini absurd banget sih. #peace
Btw, yuk bantuin dukung Author biar bisa sama2 daoat hadiah dari Mangatoon kita. Caranya gampang kok, kalian tinggal klik gambar ini :
trus habis itu kalian klik deh kata2 kalian kesan2 baca First Night gimana? singkat juga gpp kok ^^
__ADS_1