
Semalaman Nisa dan Jino saling bercerita satu sama lain. Mengulik kisah lalu mereka dengan berbagai dilema yang ada. Hingga perjuangan cinta mereka telah sampai dititik seperti ini. Mulanya mereka menjalani kisah dengan terhalang jarak dan waktu. Lalu pertikaian dan kesalahpahaman, kemudian berujung tanpa restu orang tua. Pahit manis dijalani Nisa dan Jino dengan lapang dada dan kekuatan bertahan.
"Kamu ngantuk?" Jino membelai pucuk kepala Nisa.
Kelopak mata Nisa mulai layu. Untung besok masih cuti sampai lusa. Jadi Nisa bebas begadang sesuka hati.
"Lumayan."
"Yaudah tidur aja yuk?"
Tak ada sahutan lagi dari Nisa, gadis itu tak kuat menahan kantuk yang menyerang. Ia tertidur dalam dekapan Jino.
\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari di dapur Nisa berkutat dengan kesibukan ibu rumah tangga. Ia baru saja membeli sayur mayur beserta lauk pauk dari tukang sayur keliling langganan ibu-ibu komplek.
Bolak-balik ia menengok instruksi di Yutub untuk memasak ayam goreng serundeng, sayur asem, dan sambal terasi. Butuh waktu lebih lama untuk ia menyelesaikan semua menu tersebut. Biasanya tinggal makan sekarang harus masak. Jelas saja Nisa kuwalahan. Ingin sekali ia lari ke warteg depan komplek atau beli nasi padang di pinggir jalan komplek, kalau saja tekad dan naluri seorang istri dalam dirinya tak meronta-ronta.
"Aduh lengkuas yang mana sih? Daun salam apa lagi itu? Gambarnya kayak daun biasa. Ini lengkuas, jahe, kunyit gimana bedainnya? Pusing!" Nisa membanting ponsel ke atas meja. Tidak keras hanya cukup menimbulkan bunyi-bunyian berisik saja.
Akhirnya, sangking pusingnya membedakan mana daun salam dan daun jeruk, yang jelas beda jauh sekali. Nisa malah memasukkan daun jeruk ke dalam sayur. Lalu lengkuas, jahe, dan kunyit ia masukkan semua karena bingung. Entah akan jadi apa masakan itu nanti bila dimakan oleh Jino.
Bahkan bulatan tempong yang harusnya memakai kelapa parut malah ia beri potongan daging kelapa berbentuk dadu. Garam yang harusnya masuk berganti jadi gula. Benar-benar Nisa yang jenius dan kompeten untuk meracik sesuatu yang bisa saja berubah jadi racun alami.
Dari kamar Jino mengendus aroma aneh. Dibilang sedap ya lumayan, tapi baunya lebih menyengat ke jahe dan daun jeruk. Cowok itu segera memakai baju karena baru selesai mandi. Lalu menghampiri Nisa di dapur.
"Masak apa, Yank?"
"Sayur asem, tempong, sama ayam serundeng. Eh ya, sama mau bikin sambal terasi."
Seketika Jino merinding. Dulu ia ingat, waktu Nisa membawakan sambal terasi. Rasanya Jino cuma makan terasi saja sangking banyaknya terasi dimasukkan. Ayam serundeng yang digadang-gadang kelezatannya tampak tak menggairahkan sekali. Warnanya agak kehitaman, sepertinya agak gosong. Lalu bentuk tempongnya juga semrawut. Belum lagi sayur yang dicek Jino. Ia mencicipi sedikit, dan serasa makan sayur wedang jahe.
"Yank, ini sayur asem apa sayur jahe?"
"Kenapa? Enak kan?"
"Aduh, ini kamu masukin daun jeruk juga?" Jino tepuk jidat.
"Daun salam nggak ada, eh nggak tahu yang mana. Kumasukin aja yang daun seadanya. Intinya kan sama-sama daun."
Astaghfirullah. Jino mengelus dada. Agaknya ia memang tak boleh membiarkan istrinya mengelola dapur seorang diri. Bila tak mau ada yang masuk rumah sakit akibat masakan yang amburadul.
"Kalau kayak gini nggak bisa dimakan, Yank! Kamu cobain deh, rasanya ambyar!" omel Jino.
"Kamu tuh bukannya bersyukur udah dimasakin, malah ngomel. Yaudah kamu aja yang masak!" Nisa ngambek. Ia melempar spatula sembarangan. Dan berlalu masuk kamar.
"Haish, apa yang mau dimasak? Semua udah terlanjur jadi gini!"
Jino mematikan kompor. Ia meneguk air sekilas dan menyusul Nisa ke kamar.
__ADS_1
"Yank?" panggilnya mesra. "Sayang," ulangnya.
"Apa?!" sungut Nisa membuang muka.
"Jangan ngambek nanti makin cantik loh," rayu Jino duduk di sebelah Nisa.
"Udah dari lahir mau diapain lagi?!" sembur Nisa percaya diri.
"Sarapan yuk?"
"Katanya nggak mau?!"
"Kita makan sama-sama."
"Yaudah, tapi harus habis ya! Susah tahu masaknya," seru Nisa bangun dari tempat tidur.
Jino mengalah, ia rela makan makanan tak jelas itu meski selera dan nafsu makannya sudah hilang entah ke mana. Yang penting Nisa tidak marah dulu.
Susah payah Jino menelan nasi dan lauknya. Lidahnya seperti baru dimasuki sesuatu yang menakutkan. Masakan Nisa lebih mengerikan dari pertandingan benteng takesi. Mungkin begitu pikirnya. Suara ketukan pintu terdengar nyaring. Nisa buru-buru membukanya. Sedangkan Jino ambil kesempatan ke kamar mandi untuk memuntahkan isi mulutnya.
"Lagi makan? Masak apa kamu?" Nevan memicing curiga pada adiknya. Ia sangat tahu Nisa tak pandai masak. Diletakkannya kotak makan di atas meja. Alena yang menyuruh Nevan antar sarapan ke tempat adiknya. Firasat Alena sepertinya benar, Jino dan Nisa butuh sarapan yang tepat.
"Kak Nevan?" sapa Jino. Wajahnya pucat pasi.
"Lo habis keracunan makanan bikinan Nisa ya?" tuduh Nevan seratus persen benar adanya.
"Kamu sendiri udah coba?!" Nevan melotot. Nisa menggeleng.
"Cobain!" perintah Nevan. Mau tak mau Nisa langsung mengambil suapan menu yang ada di piring Jino. Tak sampai lima detik, ia mencari wastafel untuk mengeluarkan semuanya.
"Gimana? Enak?" sindir Nevan.
"Kan Nisa masih belajar Kak," tukas Nisa berusaha membela diri. Ia mengusap bibirnya dengan tisu.
"Belajar sih belajar, tapi jangan paksa suamimu juga. Kamu nggak tengok itu muka Jino sampe kayak orang mau diopname di rumah sakit gitu!"
"Ya, maaf." Nisa menunduk. Ia hanya ingin belajar jadi istri yang baik, tapi malah merugikan begini. Hampir saja Nisa menangis kalau saja Jino tak lekas memeluk dari samping.
"Udah, nggak apa, Yank."
"Kalian makan ini aja. Kalau mau belajar masak, tunggu Alena mendingan. Jangan belajar sendirian jadinya malah kacau. Jadi ibu rumah tangga nggak semudah ngerjain tugas kampusmu. Malah lebih susah dari selesaikan skripsi. Paham?!" Nevan berceramah geram.
Nisa mengangguk mengerti.
"Yaudah makan sana. Gue cabut dulu. Oh ya, Jino, kalau lo belom dapat kerjaan, besok malem ke rumah gue aja. Kemaren gue tanyain temen, ada job di kafe deket kantor gue."
"Siap Kak. Makasih Kak." Jino bersemangat. Meski Nevan itu tukang marah ke Nisa, tapi ia paham bahwa Nevan sebenarnya hanya ingin mendidik Nisa supaya jadi lebih baik lagi.
Begitu Nevan pergi, Nisa duduk menelungkup muka di atas meja. Ia sedih dan merasa bersalah. Jino menepuk-nepuk bahu Nisa.
__ADS_1
"Udah, makan yuk? Suapin ya?" Jino membuka kotak makan yang dibawa Nevan. Ada rendang dan capcay juga tempe mendoan yang krenyes. Menggunggah selera sekali.
"Yank, ayo makan dulu." Jino berusaha membangkitkan kembali semangat istrinya yang redup beberapa saat lalu.
"Maaf ya?" lirih Nisa.
"Nggak apa. Aaaaa?" Jino menyuapi Nisa.
"Sementara ini masak yang gampang-gampang aja dulu kalau kamu tetep pengen masak."
"Yang gampang apa? Semua bahan-bahan bumbu-bumbu bikin kepalaku mumet tahu."
"Tempe tahu goreng kan gampang, terus sayur bayem juga lebih simpel."
Nisa menghela napas pendek. Menyandarkan punggung di kursi. Mulutnya masih mengunyah makanan dengan malas. Ternyata benar, jadi istri itu tidak mudah. Baru urusan masak saja dia sudah lesu duluan. Bagaimana nantinya. Nisa lupa, selama ini dia biasa dengan hidup yang serba praktis. Cucian di-laundry, makan disiapkan atau pesan antar, beberes rumah tak pernah. Nisa harus memulai segalanya dari titik nol. Atau ia akan kehilangan jati diri sebagai seorang istri. Begitu tekad dan niatnya dalam hati.
"Kenapa, Yank? Masih mikirin ucapan Kak Nevan?" Jino tak tega melihat Nisa melamun sendu.
Nisa menggeleng. "Aku akan berusaha jadi istri yang baik buat kamu. Kamu yang sabar ya kalau misal aku masih banyak salah dan belum bisa ini itu?"
Jino tersenyum. Ia mengecup sekilas pipi Nisa. Gadis itu merona malu. "Kita belajar sama-sama. Bangun rumah tangga kan nggak bisa cuma dari satu pihak aja. Harus dua-duanya biar tiangnya kuat dan nggak gampang roboh."
"Bangun yang lain gimana?"
Jino bingung. "Maksudnya?"
"Bangun tidur terus mandi."
"Memangnya lagu."
"Yank, kan udah sah nih,"
"He'em? Terus?"
"Kapan kita malam pertama?"
Pertanyaan Nisa membuat kerongkongan Jino tersedak makanan. Nisa mengambil air putih untuk Jino.
"Pagi-pagi jangan bahas itu, Yank! Bikin nggak fokus!" kata Jino disela batuk.
"Kenapa memangnya? Kan udah halal?"
Jino menimbang sesaat. Benar juga apa yang dikatakan Nisa. Jino celingak-celinguk memastikan keadaan aman terkendali. Ia tak mau gagal lagi dan berakhir di kamar mandi bertemankan sabun.
"Sekarang?"
"Boleh. Siapa takut."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1