
Rendra mengamati temannya yang duduk di jok samping. Ia fokus mengemudi, tapi juga tak bisa beralih dari wajah tertekuk Nevan. Mobil Rendra masih diservis, terpaksa Nevan yang antar jemput.
"Kenapa lagi lo?" selidik Rendra ingin tahu.
"Si Nisa dateng. Kacau banget. Ngejengkelin tuh anak!"
Rendra tersenyum mengejek. "Bukannya bagus ya, Alena ada yang nemenin di rumah? Ya, kecuali lo cemas digangguin si Nisa pas lagi *****," seloroh Rendra setengah mencibir.
"Sialan lo, Ren. Argh! Bisa gila gue lama-lama ngadepin bocah ajaib satu ini. Kalau ngomong suka ngelantur, jago ngoceh kek burung beo. Giliran tidur sendiri kagak berani. Heran gue, ngidam apa dulu nyokap gue?! Bisa ke luar si Nisa!" dumel Nevan panjang lebar.
Seulas cengiran tersungging di sudut bibir Rendra. "Lo ambil sisi positifnya aja deh, bro. Kalau ada Nisa di rumah kalian, lo bisa lebih meminimalisir hasrat berlebih sama bini. Lumayan buat jaga-jaga kandungan Alena. Nggak baik juga keseringan main," kata Rendra mengingatkan.
"Lo pikir gue maniak?! Seminggu sekali dapet jatah aja udah bersyukur banget gue. Seenggaknya burung gue nggak nganggur kek punya lo. Lama-lama keriting di dalem sangkar!" balas Nevan puas mengejek si lajang stadium akhir. Rendra ingin sekali meninju Nevan.
"Nganggurnya berkelas, bro. Nggak asal masuk sana-sini. Spesial cuma buat bini gue yang sah dunia akhirat ntar!"
"Kapan? Boro-boro bini. Gebetan aja kagak ada. Dideketin malah sok nolak. Banyak maunya lo."
"Lo kan tahu sendiri, hati seorang Rendra Irawan ini buat siapa?"
Nevan menoleh, melihat Rendra dengan pandangan tegas berkilat. "Gila lo! Jangan bilang, lo masih mendem cinta pertama lo?!" Nevan shock.
Rendra hanya mengangkat bahu sekilas. Sementara Nevan berdecak tak percaya. Ia bertepuk tangan, takjub dengan kekuatan hati Rendra, yang belum tergoyahkan selama bertahun-tahun.
"Mau sampe kapan lo nungguin dia?" Nevan penasaran.
"Sampe Yang Kuasa acc proposal permintaan hati gue buat dia."
***
__ADS_1
Jam menunjuk pukul sembilan malam lewat, waktu setempat. Nevan memeluk erat istrinya, seolah tak mau melepaskan. Alena berusaha membebaskan diri tapi sia-sia saja.
"Kamu kenapa sih, Van?"
"Aku nggak mau tidur sendirian!" tukas Nevan manja.
"Ya terus? Mau tidur bertiga bareng Nisa?! Eh berempat sama Kak Rendra juga?" Alena mulai kesal. Bingung harus pilih yang mana. Ia pun tak mau meninggalkan suaminya memeluk guling merana. Tapi juga tak tega dengan adik iparnya, yang menunggu di ruang tengah sambil nonton televisi.
"Pokoknya kamu nggak boleh ke mana-mana!" Nevan menginstruksi.
"Kasihan si Nisa, Van."
"Tenang aja, Len. Ada Rendra di luar. Mereka nggak bakal aneh-aneh. Nisa ganas, Rendra woles. Aman terkendali."
Sebenarnya Rendra tidak ada niatan sama sekali menginap di rumah Nevan dan Alena. Namun, karena Nevan memaksa, dengan ancaman akan menyebarkan fakta gadis pujaan Rendra, ia pun mengalah.
Nevan tahu, Nisa paling sungkan dengan Rendra. Gadis itu pernah kepincut Rendra sejak pandangan pertama. Ia akan selalu jaga image bila di dekat Rendra. Ah, harus diralat, tidak ada satu pun makhluk di bumi yang bisa menjinakkan tingkah Nisa, kecuali Rendra.
"Kak Rendra, kenapa belum punya pacar? Nggak bosan apa ngejomblo terus?" Nisa membuka obrolan.
"Belom minat. Masih ngumpulin duit dulu."
"Banyak duit, tapi nggak punya gandengan. Apa nggak mubazir ya, Kak?"
Rendra bangun. Duduk di pinggiran sofa dekat Nisa.
"Mau dipacarin apa dihalalin?"
"Dihalalin dong."
__ADS_1
"Nah tuh tahu. Nikah juga butuh biaya kan? Masa depan nggak boleh cuma sebatas angan-angan. Tapi kudu disiapin mateng-mateng sejak dini."
Nisa mengangguk mengerti. "Pacar Nisa masih kuliah sama kayak Nisa. Tapi udah berani ngajakin nikah. Nisa bingung, Kak," curhat Nisa memeluk bantal persegi di atas pangkuannya.
"Kamu yakin sama dia?"
Nisa menggeleng.
"Terus ngapain bingung?"
"Nisa nggak tahu, Kak. Kata kak Nevan, nggak bakal ada cowok yang mau sama Nisa kalau Nisa masih suka sembarangan. Sekarang giliran ada yang mau, Nisa was-was. Kalau ditolak, bakal ada yang lebih baik nggak ya?"
"Nis. Nikah tuh bukan cuma soal sama-sama mau. Tapi juga sama-sama yakin dan siap. Milih jodoh nggak boleh asal comot. Kita nggak tahu kan, Yang Kuasa lagi nguji kita atau memang udah datengin jodoh kita? So, harus lebih selektif. Kita nikah buat seumur hidup. Bukan cuma sehari dua hari."
Lagi-lagi Nisa mengangguk mengerti. Tidak salah ia cerita pada Rendra. Cowok ini lebih bisa memahami isi hati dan pikiran Nisa, ketimbang Nevan kakaknya sendiri.
"Memangnya siapa yang ngelamar kamu? Temen deket? Atau cuma kenalan?" Rendra ingin tahu.
"Itu Kak, ada temen pokoknya."
"Temen dari mana?"
"Dari dunia mimpi."
Astaghfirullah. Batin Rendra menggumam menahan sabar. Ia merengut. Lalu kembali rebah ke karpet dan menarik selimut. Sia-sia ceramahan panjangnya barusan. Rendra serius menanggapi, tapi Nisa entah betulam atau tidak soal ceritanya.
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
Ahaiy, aku sekaligus up 3 bab loh (Bab 20-22). Karena udah lama ketunda buat posting kemaren2. #peace.
__ADS_1
Jangan bosan dukung FN ya gais. Terimakasih gais. ^^