FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)

FIRST NIGHT (Season 1, 2, Dan 3)
Bab. 27 - Ekstra Part


__ADS_3

"Sayang! Aku pulang!" teriak Nevan lantang, ketika membuka pintu kamar. Tidak ada siapa-siapa.


Ia mencari ke seluruh penjuru tiap sudut rumah. Ruang tamu, ruang televisi, ruang makan, taman belakang, kamar, garasi, sampai gudang. Nihil. Istri dan putri kesayangannya tak ada terlihat batang hidungnya. Ia hanya mendapati adiknya, Nisa tengah bersenam ria di halaman belakang rumah bersama Jino.


"Nisa!" pekik Nevan histeris. Ia berhasil mematikan suara musik yang bergema dari speaker bluetooth.


Nisa menghentak kaki sebal. "Apa sih, Kak Nevan ganggu banget!" dumel Nisa bersungut.


"Mana kakak ipar sama keponakanmu?!"


"Maksudnya Kak Lena sama anaknya?"


"Anakku juga woi!" ketus Nevan melirik sinis pada Jino. Cowok yang dilirik sedemikian seram hanya merinding dan terdiam dengan cengiran aneh.


"Kak Lena sama si bunga melati lagi main ke tetangga sebelah!" Nisa menjelaskan seraya menunjuk rumah bertembok cokelat, di sebelah kiri kediaman Woohyun.


"Yasmin namanya bukan bunga melati! Dasar rempong!" protes Nevan tak terima nama anak kesayangannya diganti oleh Nisa.


"Yasmin kan artinya bunga melati, Kak. Sama aja. Ribet amat sih jadi orang."


"Memang ya, kamu ini bisanya cuma bikin dongkol doang!"


"Aduh, udah deh. Daripada Kak Nevan kehabisan energi buat ngomelin si cantik jelita nan baik hati ini, mendingan susulin nyonya besar sama tuan putri. Sebelum mereka diculik sama duren sebelah."


Seketika retina mata Nevan membulat segar. Tangannya mengepal-ngepal penuh emosi. Ia tahu rumah baru tersebut dihuni oleh seorang pria tampan, yang baru bercerai dari istrinya sebulan lalu. Mereka sempat ngobrol pagi kemarin waktu Jonathan kedatangan barang-barang dari rumah lamanya. Dengan sebal Nevan mendesis komat-kamit tak tentu. Ia berjalan cepat, melingkis lengan kemeja sampai di atas siku, merapikan rambut model barunya, lalu membenarkan kerah. Tak mau kalah tampan dari tetangga baru.


Di halaman depan rumah mewah berlantai dua tersebut, ia bertemu sang bibi. Karyawan rumah tangga itu memberitahu Nevan, bahwa istri dan anak Nevan sedang asik main di kolam renang. Jelas saja Nevan makin meradang. Langkahnya berlari secepat Iron Man beraksi. Meski nyatanya ia tak secepat itu.


Pemandangan tak mengenakan tersuguh di hadapan mata. Susah payah Nevan mengatur asupan udara yang kembang kempis tak karuan. Melihat Yasmin asik berkecipak di dalam kolam renang, diserai sorak sorai pemilik rumah. Belum lagi kedekatan sang istri, Alena duduk di tepi kolam bersisihan dengan Joshe, si pria keturunan bule-Indo. Parahnya, Joshe hanya memakai celana renang tanpa apa-apa lagi. Menggelikan bagi Nevan. Ia terbakar cemburu.


"Alenaaaaaaa!" pekik Nevan melengking, hampir-hampir mengalahkan suara tinggi Agnes Mo.


Sontak Alena menoleh ke sumber suara. Ia berdiri gusar menampilkan wajah sebiasa mungkin di depan suaminya. Lalu berhambur mendekati Nevan yang berkacak pinggang.


"Van! Udah balik? Tumben, jam segini udah sampai rumah. Udah makan?" Alena berusaha mengalihkan kemarahan Nevan.


Nevan berdesik layaknya kobra berbisa, siap menggigit mangsa yang tak berdaya.


"Ayo pulang! Sekarang!" teriak Nevan, hampir memekakkan telinga istrinya.


Alena bergegas membantu Yasmin keluar dari dalam air, ia berterimakasih pada Joshe telah mengajak Yasmin bermain seharian ini. Nevan makin kesal melihat keakraban mereka. Ia berdehem keras.


"Mommy, Yasmin masih ingin main! Uncle Joshe jago berenang! Nggak kayak Daddy!" celetuk Yasmin polos. Semakin membuncahkan emosi Nevan yang tak terima dihina oleh putri kesayangannya sendiri.


"Hei? Daddy juga jago renang tahu! Lihat ini otot-otot tangan kekar Daddy! Kalo cuma renang, gampang! Nanti Daddy ajarin."


Yasmin melirik lengan kokoh Joshe. Ia lebih merasa bahwa lengan itu memang lebih besar dan berbentuk atletis, ketimbang milik daddy-nya.


Alena hanya bisa menahan tawa, mendapati ekspresi bad mod suaminya. Nevan sepertinya sadar, urusa badan dan ketegapan, serta tingginya mereka jauh berbeda. Nevan lebih kurus dan kurang tinggi dibandingkan Joshe. Ia hanya mendengkus sekilas. Kemudian menggandeng istri dan anaknya, segera kembali ke rumah.


"Lain kali jangan main dengan orang sembarangan, Nak!" tegas Nevan, seraya melepas jaketnya untuk Yasmin yang mulai menggigil.


"Daddy cemburu?"


"Dari mana kamu tahu soal cemburu?"


"Mommy sering bilang begitu."


***


Nisa menggerutu kesal di luar. Ia baru saja kebagian jatah menjaga keponakannya yang super duper cerewet mirip dirinya.


"Aunti, apa Aunti nggak bosan?"


"Bosan kenapa?"


"Bosan datang ke sini."


"Maksudmu?"


"Yasmin bosan melihat Aunti datang ke sini."

__ADS_1


Astaghfirullah. Nisa hanya mengelus dada sambil beristighfar dalam hatinya sendiri. Sedangkan Jino sudah melepaskan tawa lebarnya penuh ejekan terselubung.


"Kalian jaga rumah ya!" Suara Nevan memecah kesensian Nisa. Ia bersungut melihat Nevan dan Alena sudah rapi dengan setelan jas hitam, serta gaun selutut berwarna putih.


"Kalian mau kemana?" Nisa seakan tak terima, ia bisa gagal kencan makan malam dengan Jino nanti.


"Bukannya Kakak udah bilang ya, kemarin sama kamu, Nis."


"Bilang apa?" Nisa lupa.


"Malam ini Rendra lamaran sama Azizah."


"Oh iya! Nisa ikut, Kak!"


"Nggak usah! Di rumah aja jagain Yasmin."


"Tapi-"


"Pokoknya nggak usah!"


Jino teringat sesuatu. Ia merogoh tas-nya dan menarik dua lembar voucher dari dalam sana. Langsung menyodorkannya pada Nevan.


"Ini voucher menginap semalam di hotel, Kak. Aku nggak tahu mau ajak siapa. Jadi buat Kak Nevan sama Kak Lena aja."


Nisa hendak merebut kilat, tapi didahului kakanya. Gadis itu mencibir sebal.


"Kenapa kamu nggak ajak aku?!" protes Nisa lamgsung dapat jeweran dari kakaknya.


"Aduh! Sakit, Kak!"


"Makanya, otakmu dicuci biar nggak mikir macem-macem mulu! Belum sah kok mau sok-sokan ke hotel berdua! Dirazia baru tahu rasa!"


"Halah, bilang aja Kak Nevan mau hajar habis-habisan Kak Lena malam ini, kan! Alibi, sok ngomelin aku segala!"


Nevan langsung membekap mulut lancang adiknya yang pedesnya mirip Boncabe.


"Daddy jangan jahat sama Mommy!" Yasmin salah paham. Ia pikir ayahnya berniat memukul ibunya sampai babak belur.


"Nggak, Nak. Justru Daddy sama Mommy mau sayang-sayangan. Siapa tahu nanti Yasmin bisa punya adek, kan?"


"Yasmin boleh ikut? Biar bisa lihat adeknya?"


Kepolosan Yasmin menimbulkan keheningan di sekitar.


"Nggak boleh, Nak. Nanti adeknya malah nggak mau jadi."


"Kenapa?"


"Karena bikinnya harus berdua! Kalo bertiga, bukan adek yang jadi, malah adek yang bengkak merana di dalem celana!" Nisa bicara ngawur.


Nevan melayangkan jeweran lagi. Sementara Yasmin hanya melongo bingung tak memahami. Sebab, sebelum Nisa berhasil menyelesaikan ucapan, Jino lebih kilat menutup telinga Yasmin dengan dua tangannya. Ia tak mau anak kecil terkontaminasi kegilaan Nisa yang level akhir.


"Aunti ngomong apa, Om? Yasmin nggak denger."


"Aunti lagi nyanyi lagu Burung Kakak Tua, Yasmin."


Yasmin manggut-manggut saja.


Kenyataannya, Nevan tengah mengomeli Nisa karena bicara sembarangan di depan anak kecil.


"Kamu ini kalau ngomong jangan ngasal! Ada Yasmin! Kalau denger bahaya!"


"Halah, kalian kemarin malam anu-anu pintu nggak dikunci kan? Yasmin hampir lihat tahu!"


Nevan memicing bingung.


"Nak, kemarin malam lihat apa di kamar Daddy sama Mommy?" tanya Nevan setelah menyuruh Jino menyingkirkan tangan Jino dari telinga putrinya.


Yasmin tampak berpikir keras. Ia teringat sesuatu. "Yasmin lihat Daddy ***** Mommy. Yasmin mau bawain minum, tapi Aunti Nisa malah ajak Yasmin bobok di kamarnya. Daddy haus ya kemarin?"


Seketika tak ada suara lagi bisa terlontar dari mulut Nevan. Ia hanya menggaruk kepala meski tidak gatal. Jino mengajak Yasmin main game, untuk mengalihkan topik. Nisa melirik sinis ke arah kakaknya yang selalu saja teledor. Alena menarik lengan Nevan untuk cepat pergi. Ia juga menahan malu setengah mati.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Nevan dan Alena saling bungkam. Masih tersisa perasaan campur aduk yang memalukan.


"Gimana ini, Van?"


"Apanya?"


"Kamu sih, nggak kunci pintu dulu, main sosor aja!"


"Kamu juga keenakan, jadi lupa ingetin."


"Kok aku? Kamu sendiri keenakan nggak?!"


"Enak sih, hehe."


"Kesel! Untung Yasmin nggak lihat yang lainnya."


"Udah dong, Sayang. Jangan dibahas."


"Kenapa?!"


Nevan melirik celananya yang sudah agak timbul. Merasakan sesuatu di dalam sana berkedut-kedut ingin bangun. Ia pun putar arah.


"Lhoh kok ke sini? Bukannya lurus?"


"Langsung ke hotel aja ya?!"


"Mau ngapain?! Kasian Kak Rendra nungguin!"


"Biarin aja ntar telepon aja kita nggak bisa dateng, ada halangan."


"Halangan apaan?!"


Nevan tak menjawab. Alena bingung, Rendra baru saja menelepon. Namun, Nevan merebut kilat dan mengangkat.


"Halo, Bro!


"Lo di mana?! Udah ngumpul semua nih."


"Gue ada urusan mendadak sama Lena. Besok aja kita ke sana ya?"


"Urusan apaan?"


"Penting pokoknya! Udah ya, gue masih di jalan menuju TKP ini!" Nevan mematikan ponsel.


"TKP apaan?" Alena makin tak mengerti.


"Van? Ini acara penting loh?"


"Kan baru diskusi aja, lamaran betulannya kan besok."


"Ya, tapi-"


"Lebih penting burungku ini minta dikasih makan."


"Hah?" Alena melongo. Nevan hanya meringis.


"Nevan!!!!!!!!!!" teriak Alena menyadari maksud suaminya.


\=\=\=\=\=\=\=END-Sekian\=\=\=\=\=\=


Halo, lama ya up-nya? diriku sedang banyak orderan cover, jadi ya gini ketunda mulu buat bikin ekstra part. But, karena dah selesai, ya semoga menghibur kerinduan pembaca.


Btw, thanks for like and comment.


See u on next story. #lambai2syantik.


Oh ya, jangan lupa kunjungi Wp-ku ya, baca Dirgantara juga gak kalah seru loh. Ada manis asem manisnya deh pokoknya. (Wp : @Dee14007)


Sekian dan terimakasih.


Salam hangat,

__ADS_1


Depa (Dee14007)


\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2