
Malam semakin larut. Jino masih belum mau ke luar kamar atau mengangkat telepon siapa pun termasuk Nisa. Ia sedang butuh menenangkan diri. Memikirkan baik-baik segala perkataan Diana sore tadi. Semakin dipikirkan tetap saja semakin menyayat perasaan Jino.
Sebuah pesan masuk di aplikasi Whatsapp Jino. Ia mengecek sebentar meski agak enggan menyentuk ponsel.
-Aku tunggu di depan pintu kamarmu sampai kamu bukain.- Nisa.
"Keras kepala banget!" dumel Jino. Tapi ia tetap beranjak untuk membukakan pintu. Nisa langsung menyerobot masuk tanpa aba-aba. Sebelum ia kehilangan kesempatan dan Jino mengunci diri lagi.
"Kamu boleh ya ngambek sama Mamah. Tapi jangan sama aku! Aku ini pendukung setia perjuanganmu mendapatkanku tahu!" oceh Nisa percaya diri.
Tanpa sadar berkat kata-kata Nisa barusan, seulas senyum tipis terlukis di sudut bibir Jino.
"Aku lapar, Yank. Ke luat yuk? Cari ketoprak atau soto betawi gitu," ajak Nisa.
"Memangnya ada tukang soto hampir tengah malem gini?"
"Ish ish ish. Jangan lupa ya, ini kota metropolitan. Makin malem makin rame."
"Masa sih?"
"Buruan yuk. Keburu kelaperan banget nih. Nungguin kamu beberapa jam aja udah berasa kayak seabad lamanya," keluh Nisa manyun.
Akhirnya mereka berdua memutuskan makan di pimggir jalan dekat hotel. Sambil makan, seperti biasa keduanya terlibat candaan dan cekcok yang tiada ujung. Mulai dari pembahasan masa kecil Nisa yang tomboi sampai perbincangan hobi Jino sambil bernyanyi. Dulu dia punya cita-cita jadi juara Indonesian Idol, tapi hanya sebatas angan-angan saja.
"Soal Mamah nggak usah dipikirin ya?" Nisa membuka topik penting.
"Pasti kupikirinlah."
"Jangan diambil hati. Mamah lagi emosi aja paling itu."
"Mamahmu nggak salah sih, Yank. Memang aku aja yang belum cukup pantes buat kamu."
__ADS_1
Jino bicara sembari menusuk-nusuk lontong di piringnya dengan malas. Sejak bahasan soal Diana, selera makan Jino kembali lenyap tak berbekas. Nisa mengerti perasaan Jino. Ia langsung meluncurkan sesendok makanan ke dalam mulut Jino. Memberi suapan dengan penuh cinta.
"Harus strong dong! Kita harus bersatu padu melawan penjajahan! Kobarkan semangat 98 demi perjuangan cinta kita!" seru Nisa menggebu-gebu. Kalimat yang sangat ambigu dan sulit diterjemahkan.
"Semangat 98? Bukan 45?"
"45 ketuaan, Yank. 98 aja kan era demo besar-besaran tuh."
Jino hanya menggelengkan kepala saja. Terserah Nisa mau bicara apa, ia hanya senang melihat gadis itu bahagia. Memang bucin abadi mau diapakan?
"Kalau ortumu keukuh nggak kasih restu nanti gimana?"
"Kawin lari aja kita."
"Mana bisa, Yank. Siapa mau jadi walimu?"
"Kak Nevan. Tenang dia itu pendukung gerakan ECSAP."
"Emansipasi cinta sejati anti perjodohan."
Geak tawa Jino membuyarkan kegetiran hatinya sejak tadi. Memang Nisa paling bisa membuatnya kembali bangkit dari keterpurukan. Sepatah dua patah kata saja gadis itu bicara kadang sudah menyergap hati Jino yang merana. Selama beberapa kali Jino berpacaran, baru kali ini ia menemukan seseorang setahan Nisa. Melewati masa sulit dana menerima dirinya apa adanya tanpa tuntutan. Walau hubungan mereka sempat renggang dan bermasalah. Toh akhirnya kedunya tetap saling menyayangi dan menguatkan satu sama lain.
"Pokoknya apapun yang terjadi, kita harus melewatinya dengan baik. Supaya kamu aku jadi kita selamanya." Nisa menggenggam tangan Jino. Nuansa keromantisan menyelimuti malam yang sedikit dingin. Menjalarkan perasaan hangat bagi dua insan dimabuk asmara.
"Btw, tabunganku udah lumayan sih. Cukup aja buat DP rumah." Nisa memberitahu.
"Janganlah. Itu tanggung jawabku."
"Kan nanti bisa diganti. Lagipula kalau sudah nikah nanti, uang kita ya buat sama-sama."
"Tetep aja aku harus-"
__ADS_1
"Stop deh. Aku mau bantu kamu. Titik. Kalau nggak mau yaudah nggak usah nikah aja sekalian kita. Kamu nggak menghargai bantuanku juga kan?!"
Jino langsung mengalah mendengar ancaman Nisa. Ia tak mau kehilangan Nisa lagi. Kesepakatan pun mulai dibuat. Menikah dengan sederhana di KUA. Ambil rumah KPR murah. Sementara ikut tinggal di rumah Nevan. Keduanya kembali adu argumen hingga jam menunjuk pukul satu malam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari di kamar Nisa, gadis itu terbangun malas mencari ponsel yang sejak tadi berdering nyaring. Suara lagu milik Wanna One nyaring hampir memenuhi ruangan. Dengan malas sembari menguap lebar Nisa mengangkat setelah melihat nama penelepon di layar. Rupanya dari Nevan.
"Halo, Kak?"
"Kamu di mana? Masih di hotel?"
"He'em."
"Mamah semalem telepon Kakak. Marah-marah."
"Biarin aja Kak."
"Kakak udah diskusi sama Alena. Kita berdua punya ide bagus buat kalian supaya dapat restu."
Spontan Nisa langsung membelalak sempurna. Mata kantuknya berubah sejernih embun pagi siap menyejukkan hari.
"Gimana? Gimana?"
"Dengerin arahan Kakak baik-baik ya?"
"Siap, bosku!"
\=\=\=\=\=\=\=🌹🌹\=\=\=\=\=\=\=
Rencana apakah yg tengah disusun Nevan dan Alena? Hmm.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=