
" ada apa nak ? " tanya nyonya Daisy bingung ditambah melihat wajah sendu putra sulungnya Adriano yang melihat ibunya bertanya hanya mendesah pelan
" tidak ada mom, aku hanya lelah saja " ucap Adriano lembut lalu mengecup pipi nyonya Daisy " baiklah aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu setelah itu kita makan malam bersama " ucap Adriano dan nyonya Daisy tersenyum lembut
nyonya Daisy tidak dengan mudah percaya pasti ada sesuatu hal yang terjadi di antara mereka
waktu sudah menunjukan saat nya makan malam nyonya Daisy dan tuan Addi sudah duduk di meja makan disusul Adriano dan Alexader dan tak berselang lama Alfino turun dan ikut bergabung
" dimana Freya " ucap tuan Addi
" mungkin sebentar lagi Freya akan turun " ucap lembut nyonya Daisy dan tuan Addi hanya mengangguk sedangkan Adriano hanya diam memikirkan perkataan Freya tadi, sudah hampir lima menit tapi Freya belum juga turun
baru saja nyonya Daisy akan menuju kamar putrinya, Freya sudah muncul dan kini sedang berjalan di setiap anak tangganya
semuanya tertegun karena Freya masih menggunakan pakaian tadi siang bahkan matanya terlihat sembab dan rambutnya sedikit acak-acakan tapi itu semua tak menghilangkan kecantikan Freya
Freya menarik kursi nya tepat disamping nyonya Daisy bahkan kini ia bisa melihat wajah ketiga lelaki tampan nya tapi Freya hanya diam dan terlihat tak memperdulikan mereka
" Freya ? kau baik baik saja ? '' tanya tuan Addi
" aku baik baik saja dad tidak usah khawatir " jelas Freya memberikan senyuman manisnya bahkan Adriano hanya menatap wajah Freya dengan sendu, Alexader dan Alfino menjadi bingung seketika
seperti biasa tidak ada pembicaraan saat mereka makan hanya ada dentingan sendok yang terkadang beradu menjadi satu
entah mengapa baru kali ni Freya berekspresi datar bagaikan tak ada kehidupan didalamnya semua itu tak luput dari pandangan tuan Addi ia hanya diam dan melihat reaksi anak anak nya
Freya menambah porsi makannya lagi begitupun dengan lauk pauknya ia hanya tersenyum saat tatapan pasang mata menuju ke arahnya
" ini sangat enak mom, maaf aku menambah karena aku harus kuat " ucap Freya dengan nada terkekeh dan nyonya Daisy hanya tersenyum tapi tidak dengan ketiga tuan muda itu perkataan Freya seperti mengandung suatu arti
setelah selesai Freya memilih untuk ke kamar pribadinya untuk membersihkan tubuhnya karena ia merasa tidak nyaman
" ada apa dengan Freya ? aku rasa sesuatu hal terjadi padanya " gumam Alexader yang kini duduk di hadapan Adriano Alfino serta tuan Addi ayahnya
" entahlah, bukankah kau yang terakhir kali bersama dengan nya ? " selidik Alfino menatap Adriano dan tuan Addi hanya diam mendengarkan
__ADS_1
Adriano merebahkan kepalanya dan bersandar di sandaran sofa serta memejamkan matanya dan mengembuskan nafas kasarnya perkataan Freya terakhir kali membuat hatinya tertegun sekaligus terkejut
" tidak ada yang serius hanya Freya ingin belajar bela diri " ucap pelan Adriano tuan Addi yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak
" Uhukk.. " tuan Addi terkejut mendengar perkataan Adriano tentang Freya " bela diri ? " ulang tuan Addi " tapi untuk apa ? " lanjutnya lagi
Alfino yang sudah tau keinginan Freya hanya diam saja dan Alexader yang belum tau pun hanya diam dan menatap lurus ke depan Adriano pun menceritakan perkataan Freya kepada ayah dan dua saudara nya itu tuan Addi nampak tenang dalam menanggapi nya walupun dalam hatinya ia tertegun seketika
tiba tiba
KLEK...
lampu rumah. keluarga Derlene mati seketika membuat keempat lelaki itu yang sedang berbincang terdiam tak lama suara teriakan Freya terdengar dengan cepat Alexader berlari menuju kamar Freya dengan senter ponsel miliknya sedangkan Adriano melihat apa yang terjadi di luar sana, Alfino dan tuan Addi hanya diam dan menunggu
Freya menangis tat kala lampu kamarnya padam dan menampilkan keadaan gelap gulita tubuhnya bergetar kala mengingat kejadian masa lalu disaat usianya yang remaja
CEKLEK
Alexader membuka pintu kamar Freya dengan sedikit kasar ia lalu mencari keberadaan Freya tapi tidak ditemukan sampai akhirnya Alexader menemukan Freya yang sedang menangis di pojok ranjangnya
DORRR
Freya menjerit kala mendengar suara tembakan itu dan Alexader tentu saja jantungnya berpacu cepat apa yang terjadi di bawah sana ?
tuan Addi dan Alfino yang mendengar suara tembakan itu dengan cepat mengambil senjata dan melihat apa yang terjadi sedangkan nyonya Daisy dan beberapa pelayan lainnya berhamburan keluar dan berkumpul jadi satu
sekumpulan orang tak di kenal memasuki mansion keluarga Derlene dengan mudah Adriano sedang bertarung dengan lihai bahkan Alfino dan tuan Addi ikut membantu
jangan remehkan kemampuan seorang Addi Derlene walaupun usia nya tak lagi muda tapi keahlian dan fisiknya sangat kuat,
nyonya Daisy segera berlari menuju kamar putrinya dengan langkah tergesa
" Freya " ucap panik nyonya Daisy
" mom " Freya segera memeluk ibunya dengan gemetar
__ADS_1
" kalian harus masuk ke ruang rahasia ayo " ucap panik Alexader dan ibunya menurut segera menuntun Freya
lagi lagi suara tembakan terdengar di halaman luar membuat langkah nyonya Daisy dan Freya dipercepat bahkan para pelayan pun ikut masuk karena perintah Alexader setelah memastikan semuanya aman Alexader segera mengambil beberapa senjatanya dan ikut menyusul untuk membantu
tuan Addi bertarung keahlian dengan seorang lelaki yang cukup berumur seperti dirinya dan Adriano maupun Alfino bertarung melawan sisanya di susul Alexader yang tiba tiba di hadang oleh dua orang tak di kenal mau tidak mau Alexader menghajar mereka habis habisan sampai terkapar tak berdaya
salah besar jika mereka ingin membunuh anggota keluarga Derlene, keempat lelaki anggota Derlene itu tak bisa di remehkan bahkan tak bisa disamakan dengan sampah keahlian bela diri mereka diatas rata rata
Alexander bosan bertarung dengan cepat ia membidik sasaran dengan tepat dan cepat
DORR
DORRRR
dua orang tumbang seketika tepat dibagian jantung dan kepalanya Adriano yang masih semangat bermain dengan cepat mematahkan tangan dan kaki mereka
KRAKKKK
AGHHH
tiga orang yang menghajarnya secara bersama mengalami patah tulang di tangan dan kakinya Adriano melakukan gerakan cepat dan gesit
sedangkan Alfino dan tuan Addi dengan cepat melumpuhkan lawan dengan mengajar titik pusat nya yang membuat lawan tak bisa bergerak dan
DORRR
tuan Addi melepaskan senjatanya dan menebak orang yang ingin menembaknya tepat berada di samping kirinya sungguh kewaspadaan seorang Addi Derlene sangat peka dan tajam
" bawa sisanya yang masih hidup " ucap dingin tuan Addi dan ketiga putranya dengan cepat membawa sisanya yang masih hidup
" siapa yang menyuruh mu ! " ucap tuan Addi kepada seorang lelaki yang sedang merintih karena tulang tangannya patah
" tuan Rahmono yang menyuruh kami " ucap pria itu dan tuan Addi langsung terkejut mendengarnya Rahmono ? sahabatnya di dalam kartel ? bagaimana bisa ? walaupun ia selalu berselisih tapi tidak mungkin ia nekat menyerang sesama anggotanya
tuan Addi berfikir sejenak apa karena kejadian masa lalu membuat Rahmono dendam pada dirinya dan berniat menghabisi keluarganya ?
__ADS_1