Freya

Freya
pertemuan kambali


__ADS_3

Freya terbaring dan masih tak sadarkan diri, dokter bilang Freya hanya syok dan merasa tertekan sehingga Freya jatuh pingsan dengan tubuh yang gemetar.


Ken dan Kai kini ditugaskan untuk menjaga mansion dengan ditemani beberapa anak buah Adriano dan juga Alfino.


" Freya " sendu Alexander saat melihat Freya nya terbaring lemas dengan pipi yang lebam dan luka di sudut bibirnya karena sebuah tamparan.


Adriano dan Alfino yang berada di samping Freya hanya bisa menghela nafasnya dan merasa menyesal karena tak bisa melindungi Freya dari ancaman yang mengintainya.


harus diakui jika Freya sangat berbeda dari gadis pada umunya, dirinya terlihat sangat mencolok dengan rambut dan juga bola matanya yang tak biasa, menjadikan Freya sasaran empuk para musuh dan juga penjahat di luar sana.


" benar apa yang diucapkan oleh dad, jika para musuh kini lebih memilih Freya sebagai alat untuk mencapai tujuannya " geram Alfino lagi.


" Tidak ! .. Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi. " geram Adriano dengan wajah memerah menahan amarah dan kini sorot matanya sangat tajam.


satu jam berlalu para ketiga tuan muda masih setia menunggu akan sadarnya Freya, Alexander yang lebih cerewet membuat dokter hanya bisa menghela nafasnya perlahan. Freya baik-baik saja hanya membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar segera pulih kembali.


Alfino menyuruh seseorang untuk membawakan pakaian, serta beberapa makanan dan cemilan untuk mengisi perut mereka yang kini terasa sangat lapar.


" Mom " lirih Freya dengan gumaman kecil.


" Freya " ucap Adriano dengan mata berbinar kala melihat Freya sudah sadar. Freya menatap sekelilingnya dengan pandangan terkejut lalu melihat kearah tangan nya yang kini mulai terasa berdenyut " tidak apa-apa Freya semuanya akan baik-baik saja. " ucap Adriano lagi seakan ia tau jika Freya sangat tak suka dengan hal yang berbau rumah sakit.


" Kak... ayo suruh suster untuk melepaskan benda ini dari tangan ku " rengek Freya dengan mata memohon nya.


" Freya tenanglah ini tidak akan lama " lembut Alexander lagi tapi Freya menggeleng tak mau. " kami ada disini. Dan tidak akan meninggalkan mu " ucap Alexander lagi lalu Freya tiba-tiba mengingat akan kejadian beberapa jam yang lalu hingga dirinya melihat Adriano menusuk lelaki itu dengan brutal dan pada akhirnya Freya jatuh tak sadarkan diri.


" kak Adriano kenapa kau harus menusuknya ? " cicit Freya dengan pandangan tertunduk dan Adriano mengeryitkan dahinya seketika, lalu Alexander mendekat dan tersenyum lembut.


'' jangan terlalu difikirkan Freya, sekarang lebih baik kau istirahat. " ucap Alexander dan Freya hanya meringis saja.

__ADS_1


" Kak, cabut saja ini. Aku mohon " ucap Freya sembari mengarahkan tangannya yang ditusuk jarum infusan.


" Freya " ucap Alexander lagi. Lalu Freya memberenggut kesal dan pada akhirnya memilih untuk diam dan memejamkan matanya seketika.


ketiga tuan muda itu akhirnya memilih untuk mengalah dan Alfino segera memanggil salah satu suster untuk menuruti apa yang diinginkan oleh Freya nya.


Freya masih tetap saja memejamkan matanya saat suster itu masuk, Alfino mendekat dan mengelus pipi Freya dengan lembut tapi Freya masih diam tak bergeming.


" nona " sapa ramah sang suster dan pada akhirnya Freya tersenyum tipis dan menatap sang suster seketika.


" Sus tolong lepaskan ini, aku baik-baik saja " ucap Freya dan suster itu hanya mengangguk kecil lalu ia segera memulai tugasnya, Freya tampak meringis ngilu saat jarum itu perlahan-lahan terlepas dari kulitnya. Adriano dengan sigap langsung mendekap tubuh Freya dan Freya hanya bisa diam saja.


" selesai " ucap suster itu.


" terimakasih " lirih Freya dan suster itu mengangguk kecil lalu pamit undur diri.


Adriano masih mendekap tubuh Freya sedangkan Alexander dan juga Alfino memilih untuk duduk di kursi panjang yang tak jauh di dekat Freya.


" Aku ingin pulang " cicit Freya dan Adriano hanya tersenyum.


Kali ini ketiga tuan muda Derlene akan memperketat keamanan dengan para pengawal yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata.


bahkan Alexander memesan sistem canggih untuk memantau keadaan mansion utama demi keselamatan keluarganya termasuk Freya.


" Kak jangan katakan hal ini pada mommy dan juga Daddy " pinta Freya lagi dengan wajah memelas nya.


Freya tak ingin jika kedua orangtuanya merasa cemas apalagi khawatir, Adriano hanya bisa mengangguk kecil lalu tersenyum. Tapi ia pun butuh berunding dengan Alfino, Alexander dan juga Daddy nya nanti.


" istirahat lah " ucap Adriano lagi dan Freya langsung mengangguk lalu memejamkan matanya dengan keadaan memeluk tubuh Adriano dengan sangat erat.

__ADS_1


Adriano mengelus dan membelai rambut serta punggung Freya dengan gerakan lembut sedangkan kedua lelaki yang sekarang menjadi penonton hanya bisa memberenggut kesal.


*****


tuan Addi dan juga nyonya Daisy rupanya tidak pergi untuk mengurus bisnisnya tetapi akan pergi menuju tempat dimana kelahiran sang istri berada untuk menemui tuan agung Jerrick.


Kini nyonya Daisy dan juga tuan Addi sudah berada di lingkungan yang ketat akan pengawasan dan penjagaan. Sebelumya tuan Addi sudah bertemu dengan Shafira untuk memberitahukan maksud kedatangan nya bersama dengan sang Istri nyonya Daisy.


Kedatangan tuan putri Daisy disambut baik dan meriah oleh seluruh kawasan mansion yang mirip dengan istana. Tuan Addi dan nyonya Daisy hanya menampilkan wajah datarnya saja.


" tuan putri '' sapa seseorang yang sangat ia kenal. Karim ya itulah lelaki yang pernah ia temui beberapa waktu lalu.


" katakan pada tuan agung aku menunggu. '' ucap nyonya Daisy tanpa mau melihat ke arah Karim.


Karim hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar lalu ia membawa putri bungsu tuan agung ke sebuah ruangan pertemuan.


tuan Addi hanya bisa menatap diam sang istri yang hanya menampilkan wajah datar sekaligus dingin nya. Tidak ada senyum lembut nan ramah yang selalu ditampilkan oleh nyonya Daisy.


suasana di mansion itu tampak tidak berubah, sebelum kepergian nyonya Daisy dari kediaman tuan agung yang lebih memilih hidup bersama dengan tuan Addi yang tidak direstui oleh ayahnya itu.


Mata nyonya Daisy berkaca-kaca saat ia melihat sebuah photo berukuran besar yang diletakan di dinding teratas.


Ya itu adalah mendiang ibunya, hati nyonya Daisy seketika kalut dan sendu lalu ia melihat salah atau photo dirinya yang terpampang di sudut ruangan. Tiba-tiba senyum tipisnya terbit begitu saja.


Tak lama suara decitan pintu terbuka lebar dan muncullah beberapa sosok lelaki tegap yang sedang mendampingi seorang yang sangat dihormati.


jantung nyonya Daisy berdetak lebih cepat saat sudut matanya menangkap sosok ayah yang dulu tega memutuskan hubungan diantara mereka karena sebuah pernikahan yang tak direstui.


tuan Addi mengelus lembut punggung tangan sang istri dan nyonya Daisy hanya bisa tersenyum dengan lembut.

__ADS_1


tuan agung menatap dalam sang putri yang sudah lama tak pernah ia lihat dan temui bertahun-tahun lamanya bahkan tuan Addi bisa melihat tatapan penuh penyesalan yang berada di sorot mata itu.


" Daisy " lirih tuan agung Jerrick.


__ADS_2