Freya

Freya
seperti ulat bulu


__ADS_3

" ana aku ingin belajar beladiri " ucap Freya pelan sontak membuat Juliana melebarkan matanya terkejut, beladiri? seorang Freya yang lemah gemulai ingin menjadi seorang wanita petarung ?


" kau jangan bercanda Freya " ucap Juliana dan Freya hanya mendengus kesal " apa kau yakin ? tapi untuk apa " ucap juliana lagi


" tentu saja untuk diriku, aku pun ingin melindungi diri jika suatu saat nanti aku sendiri tanpa ada seseorang disampingku " ucap Freya dengan nada pelan nya agar Ken dan Kai tidak mendengar ucapan Freya karena jarak mereka cukup jauh


" lalu dimana kau akan belajar itu " tanya Juliana lagi dan Freya hanya mengedikkan bahunya tak tau


kedua gadis itu larut dalam pemikirannya masing-masing seolah sedang memikirkan satu sama lain, tapi waktu kedua gadis itu terganggu dengan kehadiran Dion disana


" haii " sapa Dion kepada kedua gadis itu yang tak lain Freya dan Juliana


" Marcell " ucap Freya dan Juliana serempak dan Dion hanya tersenyum menganggapinya, bahkan gerak gerik Dion tak luput dari perhatian Ken dan Kai


" boleh aku duduk ? " tanya Dion


" silahkan " ucap Juliana dan Freya hanya mengangguk kecil saja


" kalian sedang apa ? " tanya Dion lagi sekedar basa basi


" tentu saja kami sedang duduk dan menikmati coffea ini " ucap Juliana dan Dion hanya mengangguk saja lalu ia pun memesan salah satu coffea terbaik untuk menemani waktunya Freya dan Juliana tampak menatap satu sama lain,


dari meja yang lumayan jauh pun anak buah tuan agung Jerrick pun ikut memantau Freya karena titah sang tuan agung, yang ingin selalu melihat keadaan cucunya itu


****


nyonya Daisy saat ini sedang berbelanja di sebuah swalayan yang cukup besar dengan ditemani ketua pelayan di mansion utama Derlene, nyonya Daisy sibuk memilih stok bahan makanan mulai dari sayur hingga ikan dan daging.


keadaan swalayan itu cukup ramai pengunjung


tidak sedikit dari mereka yang berbelanja,


" tuan putri Daisy " ucap seseorang yang membuat nyonya Daisy terkejut dan menegang seketika karena perkataan tuan putri, nyonya Daisy menoleh dan membalikan tubuhnya seketika sontak ia tambah terkejut dengan siapa yang berada dihadapannya saat ini, orang itu tersenyum ramah dan mengangguk sopan tanda ia masih menghormati


" Karim " ucap nyonya Daisy lirih bahkan ketua pelayan ikut bingung dengan kejadian tersebut


nyonya Daisy masih terpaku dan diam pada tempatnya

__ADS_1


" apa kabar, putri Daisy " ucap Karim mengangguk sopan


" jangan panggil aku dengan sebutan itu Karim " ucap datar nyonya Daisy dan Karim hanya diam saja


" baiklah nyonya Daisy " ucap Karim lagi dan nyonya Daisy langsung menatap tajam Karim dan ia lalu berjalan pergi meninggalkannya tapi Karim justru mengikuti langkahnya


nyonya Daisy merasa jengah karena Karim mengekor dibelakangnya, bahkan ketua pelayan ikut bingung dengan orang yang sedang mengikutinya


" mau apa kau mengikutiku ! " tajam nyonya Daisy menatap Karim


" aku ingin berbicara kepada anda nyonya " ucap Karim sopan


" hanya sebentar " ucap nyonya Daisy dan Karim mengangguk patuh


***


Adriano kini sedang berhadapan dengan seorang wanita cantik dan seksi yang menjadi rekan bisnis nya wanita itu terlihat ingin menggoda Adriano dengan pakaian ketat nya tapi Adriano tak bergeming ia tetap fokus pada Masalah pekerjaan


" baiklah proposal anda sungguh mengagumkan " ucap Adriano datar dan wanita itu tersenyum manis " senang bisa bekerja sama dengan anda " ucap Adriano lagi


" senang juga bisa bekerja sama dengan anda tuan Adriano " ucap wanita itu yang bernama Karina dan Adriano hanya mengangguk tanpa tersenyum bahkan wajah datarnya menjadi daya tarik tersendiri


Adriano segera menghabiskan coffea yang ia pesan tadi, karena ia merasa jengah dengan sikap kurang sopan dari Karina jika saja ia tidak mengingat tentang pekerjaan sudah dipastikan Adriano akan melempar Karina saat ini juga


" baiklah, jika begitu aku permisi karena aku masih banyak urusan " ucap Adriano dengan tegas


" bisakah aku menyimpan nomor ponsel mu " tanya Karina dengan suara sensual nya dan Adriano tersenyum kecut


" kau bisa menghubungi sekretaris ku saja, maaf " ucap Adriano lagi dan langsung beranjak lalu meninggalkan Karina yang sedang tampak begitu kesal


Karina yang melihat itu mengumpat segala kata-kata dalam hatinya, rasa kesal itu tergantikan kala Karina masih mengingat betapa rupawan nya seorang Adriano


"Aku pastikan kau akan menjadi milikku. Tidak ada seorang pria pun yang mampu menolak pesona dari Seorang Karina '' gumam Karina dengan penuh percaya diri


Adriano kini sedang duduk di kursi kebesarannya setumpuk dokumen sedang menunggu untuk ditandatangani Adriano menghembuskan nafas kasarnya lalu ia segera meraih bolpoin dan mulai menyoret kertas-kertas itu


perusahaan Adriano selalu mendapat predikat terbaik di kalangan pembisnis lainnya Adriano pun masuk ke daftar jajaran pembisnis muda pada peringkat 4 yang patut diperhitungkan

__ADS_1


otak cerdasnya serta ide-ide cemerlangnya mampu membawa perusahaan itu terbang tinggi ke angkasa


ponsel Adriano tiba-tiba saja berbunyi dan Adriano segera mengangkatnya tanpa melihat


" Hallo " ucap datar Adriano


" Hallo tuan, saya mau memberi kabar jika ada seorang pria yang mendekati nona Freya " ucap seorang pria di sebrang sana


" awasi dia, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Freya " ucap tegas Adriano dan langsung meneruskan sambungan itu secret sepihak


seorang pria ? siapa ? Adriano mulai resah kala Freya didekati orang asing apalagi seorang pria kali ini ia sendiri yang akan menjaga Freya dari kejauhan, kejadian masa lalu yang hampir saja melecehkan Freya tidak akan pernah terulang lagi


*****


mansion keluarga Derlene seperti biasa selalu saja terlihat damai, keharmonisan keluarga mereka dapat dirasakan oleh para pelayan dan para penjaga


kini mereka sedang melakukan makan malam seperti biasa, mereka akan makan dengan sangat tenang masakan nyonya Daisy memang tidak ada duanya apapun yang dihidangkan selalu habis tak tersisa


nyonya Daisy dulu tidak pandai memasak bahkan menyentuh dapur pun tidak pernah tapi saat ia memilih serta menentukan hidupnya bersama tuan Addi semua kemewahan yang ayahnya berikan hilang begitu saja


tapi nyonya Daisy beruntung karena ada tuan Addi yang selalu setia mendampinginya bahkan mereka sama-sama berjuang untuk sampai ke titik puncak seperti sekarang dimana tuan Addi dan nyonya Daisy pemilik dari perusahaan berlian tersohor di sana serta namanya masuk dalam pembisnis hebat


" Freya bagaimana dengan kuliah mu ? " tanya tuan Addi tiba-tiba dan Freya langsung menatap ayahnya


" baik-baik saja dad, tidak ada masalah " ucap Freya lembut dan tuan Addi tersenyum manis kepada putri kecilnya itu


" jika terjadi sesuatu bilang pada dad " ucap tuan Addi dan Freya mengangguk patuh


" oh ya kita ada undangan dari perusahan TRAIL sahabat lama dad, karena anaknya akan mengganti kan kursi Presdir ayahnya " ucap tuan Addi dan ketiga tuan muda Derlene itu langsung menatap ayahnya


" kapan acaranya dad ? " tanya Alexader


" besok malam ! " ucap nyonya Daisy menimpali " Freya kau akan ikut bersama kami " lanjut nyonya Daisy dan Freya hanya menurut patuh


tapi untuk ketiga tuan muda Derlene menjadi waspada pasalnya Freya untuk pertama kalinya mau menghadiri acara perusahaan ditambah itu merupakan acara besar dimana para pengusaha akan berdatangan untuk memberi ucapan selamat disana


Alexander bahkan terus memandang wajah Freya, dari sisi pun terlihat sempurna hidung, mata serta bibirnya sungguh indah rupawan

__ADS_1


cara ia memandang seseorang, cara ia berbicara dengan seseorang mampu membuat lawan bicaranya terkesima


lalu bagiamana tanggapan orang-orang di pesta sana mengigat tuan Addi tidak pernah mau membawa putri perempuan nya itu ?


__ADS_2