
Sudah tiga jam berlalu namun para petugas medis yang menangani Freya belum juga keluar. Nyonya Daisy dan tuan Addi menunggu dengan perasaan yang campur aduk.
Tuan Addi mengepalkan kedua tangannya erat siapa orang yang telah berani melukai putrinya disaat mereka sedang mengadakan acara besar yang dijaga banyak pengawal dan anak buah tuan Addi.
" Dokter bagaimana keadaan putriku? " ucap nyonya Daisy dengan cemas.
" Pasien kehilangan banyak darah. Kami membutuhkan persediaan kantung darah sebanyak dua hingga tiga kantung " ucap suster dengan tergesa-gesa.
" Jika begitu darah ku saja aku ibunya " ucap nyonya Daisy dan perawat itu mengangguk lalu meminta nyonya Daisy untuk mengikuti dirinya kesebuah ruangan lain untuk diperiksa lebih lanjut.
Tuan Addi terduduk dengan pandangan kosong. Golongan darah Freya tidak sama dengan dirinya melainkan dengan sang istri namun pikiran tuan Addi begitu melayang kala perawat itu mengatakan Freya membutuhkan dua hingga tiga jantung darah.
Tuan Addi yakin jika perawat itu tak bisa mengambil darah sebanyak itu paling tidak satu kantung dari darah Daisy istrinya. Lalu jika kurang dirinya harus bagaimana
Satu jam berlalu nyonya Daisy keluar dengan menggunakan kursi roda yang di dampingi oleh seorang lelaki yang bertugas. Ternyata benar dugaannya darah yang Freya butuhkan masih kurang dan hal itu membuat tuan Addi dan nyonya Daisy merasa frustasi.
" Bagaimana ini ? " lirih nyonya Daisy merasa frustasi karena memikirkan putri semata wayangnya. Namun tiba-tiba nyonya Daisy dan tuan Addi terkejut karena kehadiran rombongan yang tak disangka-sangka.
Pakaian mereka terlihat mewah dan khas. Nyonya Daisy menatap satu persatu orang yang berkunjung di waktu tak tepat. Hingga maniknya berakhir pada sesosok lelaki berumur yang berjalan dengan wibawa.
" Ambil saja darahku! " ucap lelaki tua itu dengan tegas menatap nyonya Daisy dan tuan Addi dengan sikap yang tenang.
" Apa maksud mu? " ucap tuan Addi dingin.
__ADS_1
" Darah ku dan darah cucuku sama, itu artinya aku bisa memberikan darah ku pada Freya tapi dengan satu syarat.'' ucap seorang lelaki berkuasa dengan sorot mata yang tajam menatap nyonya Daisy dan tuan Addi lekat. " beri tahu identitas ku pada Freya. Cucu ku yang cantik itu harus tau jika aku adalah kakek nya '' ucap tegas tuan agung jerrick yang merupakan ayah kandung dari nyonya Daisy.
" Kenapa ? " lirih nyonya Daisy lagi.
" Karena itu kenyataan nya " saut tuan agung jerrick menjawab singkat apa yang dikatakan oleh putri bungsunya.
" Baik. Hanya memberi tahu bukan ? tak masalah namun aku menolak tegas jika kau melakukan hal lebih dari ini! " ucap nyonya Daisy tak kalah tegas. Tuan agung jerrick tersenyum kecut saat melihat putrinya yang bersikap berani terhadap dirinya. Dulu nyonya Daisy adalah seorang putri yang manis dan penurut namun semua itu hilang saat cinta nya di tentang habis-habisan oleh sang ayah.
Tanpa menunggu lebih lama lagi tuan agung jerrick dan seorang lelaki kepercayaan nya Karim berjalan menuju ruang dimana Daisy sebelum nya berada. Nyonya Daisy menunduk dengan air mata uang mengalir dari pelupuk matanya.
" Tenanglah sayang. Aku yakin ayahmu tidak akan menempatkan Freya di dalam bahaya saat putri kita mengenal kakek nya hingga yang lain " ucap tuan Addi namun nyonya Daisy hanya menggeleng kecil.
.
seorang gadis masih saja terus memejamkan matanya tanpa sadar jika sudah banyak orang disekelilingnya yang menunggu kesadarannya. Ya Freya setelah mendapatkan transfusi darah dari ibu dan juga kakek nya belum juga kunjung membuka matanya dan hal itu membuat semua orang merasa cemas bukan main.
tuan agung jerrick masih setia menunggu Freya dengan duduk di kursi yang tersedia yang ditemani oleh Karim. Kehadiran mereka tentu saja membuat ketiga tuan muda Derlene penuh tanda tanya.
Namun saat melihat sebuah kode yang dilayangkan oleh ayahnya akhirnya mereka mengangguk tanda mengerti dan membiarkan kedua lelaki asing itu tetap berada di ruangan Freya berada.
" Jarinya bergerak! " seru Karim melihat jemari lentik Freya bergerak secara perlahan dan hal itu sontak mengejutkan mereka yang berada disana. Bahkan tuan Addi menekan tombol khusus dimana dokter yang bertugas menangani Freya akan segera datang.
Lenguhan Freya terdengar secara perlahan walaupun kelopak matanya belum juga terbuka. Nyonya Daisy mengelus lembut rambut putrinya wajah sembab nya menunjukkan jika nyonya Daisy menangis terlalu lama.
__ADS_1
Tak lama dokter datang dan langsung menangani Freya dengan keseluruhannya bahkan mereka menyuntikan cairan yang berupa antibiotik untuk meredakan rasa nyeri akibat pasca pengambilan peluru yang di jalaninya.
" Haus " hanya itu yang dapat Freya katakan dan tuan Addi segera memberikan air mineral dan menaikkan ranjang rawat Freya agar putrinya bisa segera meminum air putih. " Dad " ucap Freya tapi tuan Addi tak menjawab dan hanya tersenyum " Mom " ucap Freya lagi.
" Mommy disini sayang. Apa kau merasakan sesuatu ? " tanya nyonya Daisy hati-hati dan Freya mengangguk dengan cepat. '' sabarlah sayang semuanya akan baik-baik saja '' ucap nyonya Daisy lagi.
" mom aku merasakan nyeri di punggung ku. " ucap Freya dan nyonya Daisy hanya menatap sendu putrinya. " Aku juga merasakan tubuhku lelah tak bertenaga mom '' ucap Freya lagi dengan lirih tanpa dirinya sadari jika beberapa orang mulai menatap nya dengan pandangan yang berbeda-beda.
" Mommy tau sayang. Sabarlah " ucap nyonya Daisy yang tak kuasa menahan air matanya agar tak turun. Sedangkan tuan agung jerrick hanya diam menatap anak dan cucunya dengan tatapan sendu.
Daisy persis seperti istrinya yang sudah tiada lembut dan penuh perasaan. Namun saat melihat Freya dirinya merasa jika gadis bermanik perak itu sangatlah rentan.
Freya menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan hingga manik nya menatap dua orang lelaki yang sangat asing dimatanya. Tuan agung jerrick tersenyum lembut saat manik Freya yang menatap nya dengan lekat.
" Freya dia... '' ucapan nyonya Daisy terhenti karena merasa tak sanggup untuk memberitahukan nya " siapa mom ? " lirih Freya menatap bingung ibu dan ayah nya.
" Tidak perlu kau pikirkan siapa aku. Kau baru saja sadar Freya. Nanti jika kesehatan mu sudah lebih baik kau akan tau siapa aku '' ucap tuan agung jerrick dengan lembut menatap Freya dengan tatapan hangatnya. Sedangkan Freya hanya mengangguk kecil walaupun rasa penasarannya sangatlah besar terlebih orang yang baru saja berbicara padanya memiliki warna manik yang sama dengan dirinya.
Adriano berjalan pelan kearah Freya dan mengelusnya sebentar lalu tersenyum lembut. Freya yang melihat itu hanya balas tersenyum dan mulai memejamkan kedua matanya secara perlahan.
Adriano menatap sendu pada gadis bermanik perak yang sedang terbaring dengan sangat lemah, biasanya Freya akan berontak jika berada di rumah sakit. Namun kali ini berbeda Freya tampan tidak berontak dan hanya meringis kesakitan.
" Biarkan Freya beristirahat. Daddy rasa pengaruh obat bius nya masih ada. '' ucap tuan Addi dan Adriano mengangguk patuh lalu mengecup lembut dahi Freya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
" I'm sorry Freya " lirih Adriano lagi.