Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Mimpi buruk menjadi nyata


__ADS_3

"Jadi, besok Mayang, belum boleh pulang ya Paman?" tanya ku ragu.


"Boleh, tapi sore ya Mayang." jawabnya "Pagi kamu urut dulu kakinya dan sore sebelum pulang, di urut lagi. setelah itu kalau mau pulang, pulang lah.. mungkin Mba mu, sudah menunggu kalian dirumah."


mendengar perkataan Paman aku jadi takut akan mimpi yang aku alami tadi jadi kenyataan.


Paman meminta Ratih, agar membantu aku pindah kedalam kamar. tak lama Ratih pergi lagi keluar.


lalu Ratih datang kembali membawa mangkuk yang lumayan besar berisikan air hangat.


"Untuk apa itu Rat?" tanyaku aku keheranan saja apa yang hendak iya lalukan dengan air di dalam mangkuk itu.


kemudian Ratih, meletakan mangkuk itu di atas nakas di samping tempat tidur.


lalu Ratih berjalan dan membuka almari dan mengambil sesuatu disana.


Ratih datang dan membawa sapu tangan ditangannya.


"Ini, untuk apa Rat?" tanya ku.


"Sudah, Mba diam saja!"


kemudian Ratih mengompres diri ini dengan telatennya.


aku terharu, rasa rindu kembali berkelebat kepada Mba Maria.


aku sangat rindu dengannya, sudah dua Minggu lebih aku tidak bertemu Mba Maria.


Duh .. kan jadi baper deh.


setelah dirasa selesai Ratih juga membatu aku Menganti baju. baju yang aku pakai tadi sangat kotor, akibat ulahku yang kurang hati-hati dalam bersepeda.


☘️☘️☘️


pagi pun tiba aku segera berkemas memasukan semua baju yang aku bawa kedalam tas.


"Beneran Ratih gak mau ikut aku ke kota?" tanya ku memastikan.


"Iya mb, Kata bapak nanti saja Ratih kesana mau di belikan rumah jadi tidak usah menginap dirumah Mba." jawabnya polos.


"Iya sudah, nanti kalau sudah sampai di Jakarta kabarin ya" aku mengingatkan.


kulihat Ratih mengulas senyum simpul,Ratih cantik hanya saja dia belum bisa merawat diri padahal umurnya hanya berbeda 5 bulan lebih muda dari ku.


☘️☘️☘️

__ADS_1


setelah kami berpamitan dengan keluarga Paman aku, dan Mas Dimas segera masuk kedalam mobilnya.


Mas Dimas melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. mungkin besok pagi kami akan sampai di Jakarta mengingat perjalanan yang kami tempuh tidak lah dekat.


"Tumben May diem aja?" tanya mas Dimas aku memejamkan mata.


aku sedang berperang dengan pikiran ku sendiri. bagaimana aku akan menjelaskan kepada Adit tentang perjodohan ku yang sudah kakak ku siapkan.


aku bahkan tidak mengikuti acara hari perpisahan di sekolah. dan ... ijazah ku pun belum diambil.


aku membuang nafas panjang merasakan nyeri di sebagian tubuh akibat ulahku sendiri.


hingga aku terlelap, dan tidak sadar berapa lama aku tertidur. Mas Dimas membangunkan aku ketika kami sudah berada di dalam di dalam kapal.


"May, mas mau turun gak papa kamu mas tinggal sendirian" ucapnya sambil membuka sabuk pengaman.


"Mayang ikut ya mas?" jawabku.


walau aku jalan sedikit kesusahan aku paksakan, aku lapar aku ingin mencari makan.


"Kalau susah jalan disini aja may!"


"Mayang lapar mas, Mayang ingin cari makan" terang ku menjelaskan.


"Iya sudah, Mayang tunggu disini ya nanti mas belikan Mayang makan malam"


ternyata aku tertidur terlalu lama. rasanya kami berangkat dari rumah bibi pukul 16:00 tadi.


tak lama Mas Dimas datang dengan seorang pelayan yang membawakan kami makanan malam.


"Mau makan di mobil atau disana?" tanya mas Dimas dan menunjuk sebuah tempat yang sangat indah.


"Aku, mau disana Mas, boleh?" tanya ku Mas Diman mengangguk setuju.


Lantas seorang pelayan segera menuju tempat yang tunjuk oleh Mas Dimas.


walau aku kesusahan aku paksakan untuk berjalan. aku tidak ingin merepotkan Mas Dimas lagi, semenjak kejadian mimpi buruk itu aku harus menjaga jarak darinya.


"Ayo may, sini Mas bantu saja" ucapnya namun segera ku tepis tangan Mas Dimas.


"Mayang, bisa sendiri kok Mas. jadi tidak usah terlalu memperlakukan Mayang bak seperti anak kecil!" tegas ku


lantas aku hanya terdiam, menikmati keindahan laut malam. angin yang sepoi-sepoi meniup-niup rambut ini.


sungguh indah sekali pemandangan malam ini, ingin rasanya aku terbang ke langit sana bertemu papa dan mama. aku rindu pa, ma.

__ADS_1


mata ini mulai mengembun sejak aku bermimpi buruk itu hati ku jadi tidak menentu. takut jika nanti Mba ku akan menuduh ku seperti itu.


ku usap di ujung mata yang mulai basah, aku berdoa semoga Mba Maria percaya bahwa kau sudah punya kekasih yang bernama kan Adit.


Ah... iya, aku sampai lupa padanya. aku bahkan tidak pernah menghubunginya, ponselku aku merogoh kantong celana ku tapi ... aku tidak mendapatkan ponsel milik ku.


mungkin aku simpan di dalam tas, "Aish ... mayang, bukankah ponsel milik ku terjatuh saat aku berada di hutan beberapa hari yang lalu." aku berdialog sendiri.


lantas aku segera memakan makanan yang sudah di pesankan Mas Dimas tadi.


aku benar-benar menikmati suasana sunyi ini, sejuk dan tenang. akankan masa remaja ku akan terampas seketika, aku bahkan belum merasakan indahnya menjalani kehidupan ini.


masa depan ku berada di ujung tanduk sebentar lagi aku akan bergelar isteri dari lelaki yang tidak aku ketahui. aku kembali menitikkan air mata ini.


tak lama kapal kami mulai menepi, langit sudah mulai menerangi bumi aku masih menikmati pemandangan indah ini.


"Ayo may, siap-siap" ucap Mas Dimas mengingatkan. entah dari mana datangnya.


aku pun berjalan dengan pelan dan sedikit pincang. aku tidak ingin merepotkan orang-orang di sekeliling ku.


kulihat Mas Dimas membukakan pintu mobil untuk aku pun segera masuk dan duduk.


kini kami sudah keluar dari merak, Mas Dimas mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


aku tau dia lelah, tapi apa boleh buat aku tidak bisa membantunya mengingat kaki ku yang mengalami cidera walau tidak parah.


☘️☘️☘️


"Alhamdulillah... sampai juga" Mas Dimas mengucap Hamdallah sebagai bentuk syukur, kami sampai dirumah dengan selamat.


aku pun segera turun dan berjalan pelan menuju kedalam rumah.


tapi kok. pintunya kenapa bisa dibuka ya, perasaan sudah aku kunci aku segera mengambil kunci dari dalam ranselku dan benar saja kunci rumah ada padaku.


aku, Mba Maria, dan Mas Dimas. kami sama-sama mempunyai kunci masing-masing.


apa itu artinya Mba Maria sudah kembali. aku segera mendorong pintu untuk segara aku masuk kedalam rumah.


aku mencari keberadaannya, terdengar suara tepukkan tangan yang aku dengar di dalam mimpiku. bedanya aku masuk kedalam rumah sendiri.


aku memutar badan, dan "Mba Maria." cicit ku.


Mba ku menatapku ku sendu, aku mengucek kedua mataku memastikan apa ini hanya lah mimpi.


"Kamu penghianat Mayang, kamu merebut suami kakak mu sendiri"

__ADS_1


aku menggeleng kepala cepat menepis tuduhan kakak ku Maria. dia berdiri tepat di tempat dimana aku melihatnya di dalam mimpi buruk ku


__ADS_2