
"Mas, sepertinya bukan orang sini ya?" tanya Ibu itu.
"Iya," jawabku.
disaat Ibu itu ingin bertanya lagi, pembeli berdatangan begitu ramai. ada yang makan di tempat, ada juga yg di bawa pulang.
lantas, Ibu itu terlihat keteteran, dia memanggil entah siapa. mungkin anaknya? namun yang dipanggil tidak juga datang, lagi Ibu itu memanggil seseorang tapi ... tidak kunjung datang.
kulihat ada laki-laki yang datang membantu Ibu tersebut dan si Ibu menanyakan anaknya yang tak kunjung datang.
entahlah ... aku tidak mendengar jawaban dari si lelaki tersebut, mungkin itu suaminya. aku tidak ingin mendengar pembicaraan mereka.
setelah selesai, aku segera membayar sarapan Yang aku makan tadi.
"Berapa Bu?" tanyaku
"Delapan belas ribu. Mas,"
aku merogoh dompet dari saku celana ku, dan membayar kepada Ibu itu, setelah ibu itu menyodorkan kembalian aku hendak melangkah pergi.
belum juga aku berbalik, ada seseorang keluar dari rumah dan dia datang menghampiri si Ibu penjual sarapan itu. aku terpaku sejenak mata tidak dapat berkedip-kedip, tidak mungkin. itu bukan Ma....yang
mengapa gadis itu mirip sekali dengan Mayang. bedanya Mayang memiliki kulit yang bersih, gadis ini memiliki kulit yang gelap.
Mayang, memiliki lesung di pipi, gadis ini tidak. mengapa jadi Mayang, yg berkelebat dalam pikiran ini. aku segera menepisnya jauh-jauh lantas aku segera memasuki mobil dan duduk dibelakang kemudi.
aku kembali dengan tujuan semula, iya ... lah menyambangi rumah Paman.
aku telah sampai dihalaman rumah Paman, susana masih sangat sepi seperti kemarin.
aku mencoba duduk di bagian teras depan rumah, ada seseorang yang lewat.
"Cari siapa ya, Mas," seseorang bertanya pada diri ini.
aku pun segera bangkit, menghampiri bapak tersebut.
"Maaf Pak, kalau boleh tau Paman Husein, dimana ya. sejak kemarin rumah ini terlihat kosong"
"Ouh ... pak Husein, ya. beliau sedang berkunjung kerumah saudaranya. katanya anak saudaranya akan melakukan resepsi pernikahan."
"Kira-kira kapan ya pulangnya?" tanyaku lagi.
"Wah ... kurang tau saya Mas, maaf ya, kalau boleh tau. Mas, ini siapanya pak Husein ya?!."
__ADS_1
"Saya suaminya Maria, keponakannya Pak, dari Jakarta." jelas ku padanya, dia mengangguk.
"Oalah ... ini suaminya Maria to." ucapannya antusias, aku tersenyum kikuk.
lantas si bapak itu pun undur diri, aku mulai berpikir kembali. apa mungkin Maria juga kesana? ketempat saudaranya yang akan melakukan resepsi pernikahan.
selama aku menikah dengan Maria, dia tidak pernah mengajak aku berkunjung kesana. sangat disayangkan aku bahkan tidak tau rumah saudara mereka.
aku kembali duduk di teras rumah Paman, mengingat ini adalah hari Minggu. mungkin mereka akan pulang sore ini, aku lebih baik menunggu dari pulang dengan tangan kosong.
☘️☘️☘️
"Tega sekali kamu Mas," maki ku di sebrang telpon "Apa begitu sulit bagimu berdamai dengan ku satu hari saja. mengapa tidak mengajak aku pulang kesana?, aku juga rindu kampung halaman ku" lalu ku matikan ponsel ku tanpa izin darinya.
aku pun langsung berkemas, bersiap pergi ke kampung halaman. terserahlah ... aku pusing saat ini, pikiran ku benar-benar kacau. sekolah ku pun tidak fokus.
setelah selesai berkemas, aku segera memesan taksi online menuju bandara Soekarno-Hatta.
lebih baik aku naik pesawat, jika aku naik angkutan/Bis umum takutnya aku akan tiba larut malam. aku takut nanti sulit mencari tumpangan kerumah Paman.
walau tidak terlalu jauh, tapi horor rasanya bagi perawan berkeliaran malam-malam.
taksi yang aku pesan pun tiba, aku segera duduk di bangku penumpang. beruntungnya aku memiliki uang tabungan yang aku sisihkan dari sisa uang jajan yang selama ini Mas Dimas, dan Mba Maria berikan.
☘️☘️☘️
akhirnya pesawat yang aku tumpangi take off juga, aku lebih suka melihat awan-awan dari celah jendela, sangat indah menurut ku.
tidak lama lagi aku akan sampai di bandara Radin inten yang berada di Lampung.
bahagia rasanya bisa bertandang di tanah kelahiran ku.
aku memejam mata, sambil menunggu pesawat yang aku tumpangi mendarat sempurna.
aku sudah sampai di bandara Radin inten. aku beristirahat sejenak di ruang tunggu, lebih baik aku kerumah Paman menggunakan jasa ojek saja.
setelah selesai meneguk minumanku, aku langsung keluar dari tempat ini. dan mencari tukang ojek.
"Ojek,ya Bang?" tanyaku pada seorang bapak-bapak yang duduk diatas sepada motornya.
"Iya, mau kemana Mba?" tanya si tukang ojek tersebut. aku pun memberitahukan tujuan ku. lalu si bapak ojek langsung gass keun wkwk.
ya Tuhan sudah lama sekali aku tidak berkunjung ketempat ini, tidak melewati jalanan ini. begitu banyak kenangan ditempat ini.
__ADS_1
aku pun tidak melewatkan momen ini, mengambil gambar hamparan sawah yang kehijauan dan luas.
menghirup udara yang bersih dan segar, sangat berbeda dari kota Jakarta. rasanya sangat nyaman sekali.
"Adek, ini dari mana memangnya?" tanya si bapak ojek ini.
"Saya, dari Jakarta Pak" ucapku sebagai jawaban
"Ouh, terus ini mau ketempat siapa?" tanyanya lagi, ternyata bapak ini sangat ramah sekali.
"Saya, ingin berkunjung kerumah Paman, saya Pak" jawab ku jujur, memang tujuan ku kemari kerumah Paman.
"Kita masih lama ya, Pak," tanyaku, sebab aku sudah lupa jalanan menuju rumah Paman.
"Iya lumayan sih, dek. kita harus melewati beberapa kampung lagi soalnya" terang bapak itu.
"Pak rumah penduduk disini bagus-bagus ya pak,?" tanya ku. aku kagum walau ini di desa tapi rumah mereka bagus-bagus.
"Iya dek, rumah disini mah, bagus-bagus memang, gak kalah sama rumah di kota."
benar kata bapa ojek ini, rumah disini bagus-bagus.
"Kita, sudah mau sampai Dek"
"Ouh.. udah mau sampai ya" dan si pak ojek berhenti tepat didepan rumah.
aku pun segera turun, "Berapa Pak?" tanyaku.
"50 ribu dek!" aku pun merogoh kantong bajuku dan mengambil selembar uang berwarna biru lalu ku serahkan kepada bapak ojek.
"Terimakasih ya Pak," ucapku padanya
"Sama-sama Dek" katanya. aku berbalik dan berjalan
"Ngapain kamu disini?!."
aku langsung berbalik dan melihat sosok lelaki yg terlihat jutek padaku.
Hooh....
aku terkejut...
"Kenapa nggak suka?" ucapku kesal. dan aku pun menjulurkan lidah ku sebagai bentuk mengejeknya, biar dia tau rasa dia.
__ADS_1