
aku sangat terkejut ketika melihat Maria terbaring dilantai bawah. semua alat-alat yang terpasang pada tubuhnya terlepas begitu saja.
aku rasa iya sangat tertekan saat ini, sampai-sampai Maria berbuat senekat itu.
tak lama bala bantuan datang dokter dan juga suster.
aku berusaha memangku Maria di pangkuan ku. aku sangat menyayanginya. aku menangis sejadi-jadinya, hatiku sakit saat melihat Maria begini.
"Apa yang terjadi Bu?" tanya dokter Arif tatkala iya terkejut sama seperti aku.
"Saya tidak tau dok. baru saya tinggal sebentar untuk menelpon anak saya pada saat saya masuk kedalam ruangan, Maria, sudah berada dilantai!" ucapku menjelaskan.
lalu mereka mengangkat Maria dan menidurkannya di atas ranjang cairan infus bertaburan. darah segar mengalir begitu saja.
sus, stok darah A+ apakah masih ada?" tanya dokter Arif pada salah seorang perawat yang membantunya.
"Sepertinya sedang kosong dok!" tutur perawat itu.
"Ibu, bisa ikut saya sebentar?" tanya dokter Arif. aku mengangguk setuju.
kami pun berjalan keluar ruangan rawat! Maria, ditemani oleh seorang suster. dokter Arif meminta suster itu untuk tetap berada di ruangan maria.
"Bu, tolong beri pasien semangat ya, jangan buat dia terbebani pikiran. apalagi jika itu bisa membuat dia merasa bersalah. mereka akan merasa lebih baik mengakhiri hidupnya lebih cepat! seperti tadi contohnya!." ucap dokter mengingatkan.
setelah itu dokter pergi dan aku hanya bisa berharap agar Mayang segera ditemukan.
__ADS_1
mungkin dengan kehadiran Mayang, Maria bisa lebih membaik keadaannya.
☘️☘️☘️
setelah makan, aku mengantarkan Amel pulang kerumahnya. baru juga duduk, Amel pergi ke dapur untuk membuat aku secangkir kopi hitam. mama tiba-tiba menelpon, dengan terpaksa aku mengangkat telpon dari mama.
"halo ... ma."
[Dimas, kesini sekarang! Maria makin para keadaanya." setelah mama langsung mematikan panggilannya.
aku tersadar, bukanya aku menjaga Maria. aku malah berada dirumah Amel. "Astaghfirullah" ucapku beristighfar.
aku langsung melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah Amel. lagi pula tidak baik aku berada disini jam sudah menunjukan pukul 2 malam.
apa nanti kata para warga jika sampai melihat aku berada disini.
"Maaf Mel, aku harus kerumah sakit. maaf, tidak baik juga aku berada disini apa nanti kata orang kalau melihat kita hanya berduaan."
"Tapi kopinya!" ucap Amel sambil menunjukan secangkir kopi ditangannya.
"Lain kali saja!" ucapku dan langsung memasuki mobil.
segera ku nyalakan mesin mobil dan kulihat Amel sepertinya kecewa atas penolakan ku. harusnya aku sadar, aku tidak ingin membuat hidupku menjadi makin rumit.
pada saat aku mengemudikan mobil pikiran tentang Maria berkelebatan. apa terjadi sesuatu dengannya. yaa allah mengapa aku begitu ceroboh meninggalkan mereka disana.
__ADS_1
kalau papa sampai tau, pasti papa akan murka padaku.
aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. beruntung jalanan sangat lenggang mengingat ini sudah lewat tengah malam jadi wajar pengendara mulai sepi.
30 menit akhirnya aku sampai, segera aku turun dari mobil dan berlari menuju kamar rawat Maria.
dengan langkah lebar aku menghampiri. kulihat mama menangis menatap Maria yang terbaring lemah, wajahnya makin pucat.
"Ma!" panggil ku pada saat mama sedang termenung.
Plak.
mama mendapat wajahku, aku hanya bisa terpaku. wajar jika mama marah, ini salahku.
"Kemana saja kamu Dimas? dimana perasaan kamu ha...! istrimu sedang memperjuangkan hidupnya kamu malah pergi dengan ****** itu?" maki mama.
tak sampai disitu mama juga menudingku. wanita yang selama ini begitu menyayangi ku kini begitu marah padaku. ini salah ku.
"Ma, maafkan Dimas. Dimas hanya butuh ketenangan" ucapku sebagai pembelaan diriku.
kulihat mama makin murka, lebih baik aku diam! mungkin dengan cara ini mama bisa mengendalikan emosinya sesaat.
aku melangkah menghampiri Maria. wanita yang selama ini tidak pernah marah, tidak pernah mengeluh, dan tidak pernah merepotkan aku kini terbaring lemah.
"Yas Allah maafkan aku, harunya aku berada di sampingnya disaat dia membutuhkan dukungan dariku, disaat dia membutuhkan support dari suaminya. tapi aku malah pergi meninggalkannya. maafkan aku yaa Allah" ucapku dalam hati.
__ADS_1
Maria yang aku kenal adalah wanita pemberani. tapi mengapa dia berubah menjadi begitu lemah.
ku genggam tangannya, dan ku cium penuh sayang. rasa bersalah memenuhi hatiku. ternyata aku tidak sehebat Maria istriku.