Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Part 67


__ADS_3

kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 02:12 malam. kemana perginya mas Dimas?.


sejak tadi aku tidak bisa tidur ini kali pertamanya aku bersikap seperti ini. biasanya aku tidak pernah peduli, tapi kali ini hatiku tidak tenang memikirkan mas Dimas yang pergi entah kemana.


bayangan mas Dimas yang bermesraan dengan wanita lain memenuhi isi kepala.


aku menghela napas berat, duduk di ruang tamu sendirian dengan kegelapan dan tanpa aku sadari aku terlelap.


Namun tiba-tiba aku terbangun aku sudah berada di dalam kamar terbaring di atas ranjang lengkap dengan selimut yang membungkus badan sampai keatas dada.


"Siapa yang bawa aku kesini?!." gumam ku sendiri.


sembari menatap ke langit kamar yang gelap. aku mulai bangkit dan duduk di tepian ranjang aku ingin melihat apakah mas Dimas yang membawa aku ke kamar ini.


lantas aku pun bangkit dan melangkah keluar kamar menuju ke kamar mas Dimas.


.


.


.


setelah menemani maria dirumah sakit aku memilih pulang. sebab Maria terus memaksa agar aku menemani Mayang dirumah, katanya tidak tega membiarkan Mayang dirumah sendirian.


sebenarnya aku malas untuk bertemu dengan Mayang, yang ada aku akan kecewa nantinya atas penolakannya.


status punya istri dua tapi tidak satupun dari mereka yang bisa melayani suami.


dengan malas aku keluar dari rumah sakit aku melihat Amel sedang berkeliaran di jam seperti ini. aku segera menghindar, tidak ingin terlibat masalah dengannya seperti waktu itu.


aku memilih kerumah mama dan papa saat aku tiba disana aku tidak ada niatan untuk turun dari mobil. yang ada aku nanti kena omel olehnya.


aku kembali menyalakan mesin dan memilih pergi, dengan terpaksa aku pulang kerumah berharap Mayang sudah tidur dengan pulas agar aku tidak lagi melihat wajahnya.


setelah aku sampai dirumah segera ku parkir kan mobil di garasi aku memilih turun dengan pelan agar tidak menimbulkan kebisingan.


berharap agar Mayang tidak terganggu dengan kedatangan ku.


setelah membuka pintu, kembali ku tutup dengan rapat berjalan pelan mengendap-endap bak seperti pencuri yang takut ketahuan.


namun langkahku perlahan terhenti ketika melihat bayangan hitam di atas sofa, ku dekati dan ku perhatikan ternyata Mayang sudah tertidur pulas di atas sofa sambil bersandar duduk dengan kepala sedikit miring.


tidak sampai hati aku membiarkannya tertidur seperti itu, gegas ku angkat dan ku gendong ala bridal setelah sampai dikamar ku baringkan iya dengan pelan agar Mayang tetap merasa nyaman. ku pandangi wajahnya dan ku singkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya lalu ku kecup keningnya kalau tidak mencuri begini mana mungkin aku bisa berdekatan dengannya.


Mayang terlalu sulit untuk didekati, entahlah... haruskah aku bertahan dengannya? atau malah berakhir berpisah seperti keinginannya.


pada saat aku hendak terpejam terdengar nyaring gawai ku berdering, segera ku raih gawaiku dan kulihat siapa yang menelponku malam-malam begini.


"Bik Ning?" gumam ku.


segera ku geser tombol biru.


"Iya, halo bik"

__ADS_1


[.....]


"Baik, saya kesana sekarang"


tanpa ba-bi-bu aku langsung bangkit dan segera mengganti pakaian tidurku dengan pakaian harian.


setelah selesai aku langsung menyambar kunci mobil dan berlari keluar kamar.


langkah tergesa-gesa aku menutup pintu kamar.


"Mau ke mana Mas Dimas?!." pekik Mayang.


aku langsung menghentikan langkahku dan berbalik badan.


"Mau ke rumah sakit" jawabku.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu dengan Mbak Maria?!." tanyaku ketika mas Dimas ingin melanjutkan langkahnya.


"Barusan bi ning, nelpon" balasku.


"?pa terjadi sesuatu di sana? Aku ikut mas Tunggu Aku!"


setelah itu aku langsung berlari masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaianku, tidak lupa juga mengambil jaket mengingat cuaca sangat dingin.


setelah itu aku segera menghampiri Mas Dimas di ruang tamu.


"May, sebaiknya kamu di rumah saja! lebih baik kamu beristirahat dulu di rumah. Besok pagi kamu boleh ke rumah sakit" ujarku. aku tahu dia juga lelah.


Setelah itu kami keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil, Mas Dimas mengendalikan mobil cukup kencang mengingat jalanan sekarang sangat lenggang.


"Apa yang terjadi dengan Mbak Maria Mas?" tanyaku lagi untuk kesekian kali.


"Tadi bik ning nelpon, mengatakan bahwa nafas Maria saat ini sedang sesak" kelasku.


"Apa yang harus kita lakukan Mas?" tanya aku.


sengaja aku memutar tubuhku menghadap ke arah Mas Dimas dan meminta jawaban atas pertanyaan ku. aku takut-takut akan kehilangan Mbak Maria.


rasa sesal ku semakin dalam andai Aku tidak meninggalkannya mungkin aku tidak akan seperti ini. mengingat hal itu hatiku menjadi sangat perih, rasa bersalah semakin dalam memikirkan mbak Maria yg kesakitan sendirian.


"Kita tidak bisa melakukan apa-apa may, sekalipun dokter. hanya Allah yang bisa menolong Maria saat ini. lebih baik kita banyak-banyak berdoa" jawab ku.


Aku juga tidak ingin kehilangan Maria aku tidak sanggup, membayangkannya saja Aku sangat tidak sanggup.


akhirnya kami pun sampai di rumah sakit Mayang langsung menghambur dari dalam mobil dan masuk melewati lorong.


setelah memarkirkan mobil aku juga langsung berlari mengejar Mayang yang menghampiri Maria diruangkannya.


"Mbak Maria?" pekik mayang pada saat melihat Maria kesulitan bernapas.


Mayang langsung menghambur masuk dan meneteskan air mata.


"Apa yang terjadi, dok?" tanya Mayang dengan tangisnya.

__ADS_1


bibirnya yang bergetar, bahunya yang terguncang, dada yang naik turun menahan tangisnya.


"Hal seperti ini biasa terjadi, setiap orang yang mengidap kanker di stadium akhir. jadi, nanti akan saya jadwalkan untuk melakukan pengeboran di bagian belakang untuk mengeluarkan cairan yang tersimpan di bagian paru-paru Bu Maria ya pak. sebab cairan itu yang menyebabkan nafas Bu Maria menjadi sesak" tutur dokter Arif lembut.


setelah itu dokter Arif bergegas pergi. aku hanya bisa menangis melihat penderitaan mbak Maria.


bagai mana mungkin aku tertidur pulas sedangkan dia sangat tersiksa saat ini.


walau sudah dipasang oksigen tapi nafas Mbak Maria masih belum normal.


aku tidak tega melihatnya, iya begitu kesulitan untuk menarik nafas.


aku memilih pergi dan keluar dari ruangan, Aku tidak ingin Mbak maria melihat ku menangis dan menambah deritanya.


jika Mbak Maria ikut menangis aku yakin akan terasa sulit baginya untuk bernafas.


aku menangis sejadi-jadinya bersimpuh di luar ruangan aku tidak sanggup melihatnya menderita.


seseorang memegang bahuku, kutatap seseorang itu ternyata pak Heru atasanku.


"Jangan menangis Sari!" serunya dan memberikan bahunya untukku bersandar.


segera ku labuhkan wajahku di bahunya, aku tidak lagi peduli dengan siapa aku menangis saat ini.


laki-laki yang terkenal cuek, acuh, dan dingin. ternyata punya rasa simpati juga.


"banyak-banyak berdoa, hanya Allah yang bisa memberikan keajaibannya. Semoga Allah bisa menyembuhkan kakakmu, Sari" ujarku lembut.


entah mengapa melihat Sari manis begini hatiku rasanya sakit, aku ikut merasakan sesak.


mungkin saat ini kami sedang menjadi tontonan orang-orang, biarlah bukankah rumah sakit memang tempatnya masalah dan tangis, tidak aku hiraukan.


"Ekhemm.." seseorang berdehem.


"Adit? Mas Dimas?"


aku terkejut ketika melihat Adit dan Mas Dimas sudah berdiri dan menatap tidak suka kearah kami.


segera ku tarik diri agar menjauh dari pak Heru.


"Maaf, pak" ucapku pelan.


"No Problem" balas pak Heru dengan senyum kecil.


aku menjadi kikuk di tatap tiga lelaki sekaligus, tatapan yang berbeda dari mereka.


aku memilih pergi dan masuk keruangan mba Maria, biarkan saja mereka para lelaki bicara apa. aku menarik nafas lega ketika sudah sampai di dalam kamar rawat mbak Maria.


lalu kulihat Mbak maria sudah tertidur dengan pulas akibat obat yang dokter Arif suntikan tadi.


"Alhamdulillah.." aku mengucapkan syukur.


terdengar suara dari luar tapi tidak aku pedulikan, biarkan mereka bertiga bicara apa toh ... bukan urusan ku juga bukan??.

__ADS_1


__ADS_2