Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
kemarahan mayang


__ADS_3

"Kalau begitu anggap saja pernikahan ini pernikahan bohongan. aku tidak mau menyakiti hati mbak Maria mas." ucapku penuh penyesalan.


sampai hati maria mempermainkan perasaan Mayang adiknya. aku hanya bisa terpaku melihat kepedihan Mayang.


ingin rasanya aku menenangkan, tapi aku tidak punya keberanian.


kulihat Mayang bangkit dari duduknya dan berjalan kearah ku.


"Ayo kita pulang mas!." ajaknya. aku pun membukakan pintu dan membiarkan Mayang berjalan lebih dulu.


kami berjala bersisian tujuan kami saat ini adalah menuju lantai dasar. kami berjalan menuju pintu lift, orang-orang menatap kami dengan tatapan heran.


bagai mana tidak kami yang masih mengenakan pakaian pengantin keluar dari kamar hotel.


setelah memasuki lift tidak hanya aku dan Mayang, orang-orang juga ada didalamnya mereka menatap kami bergantian dan tersenyum.


mungkin mereka bertanya-tanya harusnya pengantin baru itu menikmati malam pertamanya. bukanya berkeliaran seperti kami.


Mayang hanya menunduk, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


tak lama pintu lift pun terbuka kami segera menuju lobby Dimana mobil terparkir disana.

__ADS_1


aku segera membukakan pintu untuk Mayang, setelahnya aku mengitari mobil di bagian depan kubuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi.


segera ku nyalakan mesin mobil setelahnya ku injak pedal gas perlahan kami keluar dari halaman hotel.


segera ku tancap gas dengan kecepatan tinggi melihat jalanan yang sudah mulai sepi.


tidak butuh waktu lama kamu pun sampai di rumah. terlihat lampu-lampu sudah di padamkan itu menandakan para penghuni sudah terlelap tidur.


ku bunyikan klakson beberapa kali di depan gerbang. tak lama terlihat lampu di rumah menyala itu menandakan bahwa ada penghuni di dalamnya.


terlihat bik Ning berjalan tergopoh-gopoh menghampiri kami untuk membukakan pintu gerbang.


aku pun menjalankan menuju kedalam dan ku parkir kan mobil tepat didalam garasi.


aku hanya bisa mengikuti Mayang dari belakang, kulihat bik Ning menatap kami heran namun terdiam.


kami masuk bersamaan Mayang terus berjalan menaiki anak tangga dengan kesusahan.


terdengar suara Mayang menggedor-gedor pintu aku pun berlari menuju ke atas.


"Mba, buka mba!." gedor Mayang

__ADS_1


dapat kulihat jelas kemarahan di wajahnya. tak lama pintu kamar Maria terbuka.


"Mayang, kok kamu pulang" tanya Maria.


"Apa maksudnya semua ini mba?, apa. kenapa mba?" tanya Mayang menatap Maria yang masih berdiri di depan pintu kamar.


"Mayang, maafkan mba. ini yang terbaik untuk---" belum juga selesai Maria berkata sudah di potong oleh Mayang.


"Bagai mana mba bisa tau yang terbaik untuk ku atau tidaknya? sedangkan yang menjalaninya, itu aku, aku yang akan menjalani hidupku!" pungkasnya singkat


"Kenapa, apakah mas Dimas yang meminta Mba Maria untuk memintaku menikah dengannya?!." tanyaku lagi penuh emosi.


"Tidak may, bahkan mas Dimas tidak mau menikah dengan mu. ini murni kesalahan mba. mba yang memaksa mas Dimas mau menikahi kamu." ucap Mba Maria tanpa dosa.


"Apa tujuan mu mba? mba mau menjadikan aku sebagai pelakor begitu? merebut suami kakaknya sendiri. agar aku jelek Dimata orang-orang. agar aku jadi cemoohan orang?" tanya Mayang lantang.


Maria menggeleng kepala dan menatap Mayang adiknya. lalu Maria meraih tangan Mayang namun Mayang menepisnya dengan kasar.


"Mayang, dengarkan penjelasan mba dulu. mba hanya ingin yang terbaik untuk mu, mba tau, jika kamu dan mas Dimas menikah mas Dimas bisa membahagiakan kamu. bukankah kamu pernah bilang bahwa kamu mau mempunyai suami seperti mas Dimas.


mba, yakin kamu akan bahagia dengannya. dan satu lagi may, ini murni keinginan mba. mas Dimas tidak bersalah dalam hal ini. bahkan dia juga terpaksa karna mba mengancam akan bunuh diri jika iya tidak mau menikah dengan mu. jadi maafkan mba may" jelas Maria.

__ADS_1


namun Mayang terus menepis tangan Maria yang hendak meraih tangan Mayang dengan kasar.


"Jangan maya.... " teriak Maria.


__ADS_2