
"Maaf pak, biasanya bapak tidak pernah makan di kantin?!." tanyaku reflek. setelah itu aku menutup mulutku dengan kedua tangan ku.
lalu pak Heru menatapku dengan tatapan yang tidak bisaku artikan. "Habislah hidupku!" ucapku dalam hati. lalu aku menyenggol kaki Rian. tapi Rian biasa saja tidak merespon aku sedikitpun. kebalikan malah pak Heru yang menatapku penuh tanya.
aku pun hanya bisa cengengesan saja dan menggaruk kepala yang tidak gatal. ku tendang lagi kaki Rian lebih kuat lagi, tapi pak Heru malah melotot kearah ku solah merasakan sakit', aneh sekali lelaki es batu ini.
☘️☘️☘️
setelah aku kembali keruangan pak Heru dengan cepat aku mengerjakan pekerjaan dari pak Heru.
beruntungnya pak Heru tidak ada di ruangan yang sama dengan ku, kalau tidak jantungku tidak bisa berdetak dengan baik setiap ada lelaki itu aku merasa sport jantung. aku menarik nafas lega, akhirnya aku bisa pulang dan meninggalkan ruangan ini.
cepat-cepatku bereskan dan segera keluar dari ruangan pak Heru, aku berjalan lebih cepat agar tidak terlihat olehnya.
pada saat aku hendak melangkah masuk kedalam life tiba-tiba tangan ku ditahan seseorang.
"Ikut aku!" ucapnya. dan menarik tanganku dengan erat. aku hanya bisa mengikuti langkahnya.
"Pak, bapak mau bawa saya kemana?" tanya ku. sebab aku ingin pulang dan beristirahat saat ini tubuh ku rasanya sangat lelah otakku juga terkuras habis untuk berpikir tadi.
"Bisa diam?" ucapnya. tanpa banyak berkata aku hanya bisa patuh dengannya.
"Masuk!" ucap pak Heru. dengan suara beratnya aku pun masuk kedalam mobil tanpa lagi membantah.
dengan sedikit takut dan gemetaran tapi aku berusaha kuat untuk tidak memperlihat dan aku berusaha baik-baik saja.
ini kali pertama aku yang sebagai OB duduk satu mobil dengan atasanku, Jujur aku merasa insecure berada dekat dengannya. sebab pak heru tidak pernah terlihat baik untuk semua orang yang ada di kantor.
pak Heru mengendalikan mobil dengan kecepatan tinggi "aku mau dibawa kemana ya tuhan" ucapku dalam hati. ingin sekali rasanya aku minta tolong pada mas Dimas tapi aku tidak lagi memiliki nomor teleponnya. mas Dimas tidak pernah bersikap kasar padaku dia selalu memperlakukan aku dengan baik.
lagi-lagi aku teringat padanya, bayangan mas Dimas yang tersenyum manis kala dia sedang menggoda ku ketika kami sedang bertengkar mulut. mungkinkah aku salah sudah lari dari rumah? ternyata benar kata orang hidup jauh dari keluarga yang menyayangi kita itu adalah kesalahan terbesar kita.
"Pak, sebenarnya saya mau dibawa kemana?" aku memberanikan diri untuk bertanya. pak Heru tidak menjawab pertanyaan ku.
"Ya Tuhan, lindungi aku. selamatkan aku. mas Dimas aku mau pulang tolong aku." aku membatin sambil menatap kosong di depan sana.
"Aku masih ingin hidup, dan aku belum punya anak" cicit ku, setelah aku tersadar aku menutup mulut dengan kedua tangan ku.
__ADS_1
reflek pak Heru menatapku penuh tanya segera iya menepikan mobilnya di pinggiran jalan.
"kamu bicara apa barusan?!." tanyanya. sambil menatapku lekat.
"Bapak mau bunuh saya, saya belum punya anak pak! bahkan malam pengantin pun saya belum rasakan walau pun saya sudah punya suami pak." terang ku. dan langsung menutup mulutku karna malu.
"Wah,,, kecil-kecil sudah menikah rupanya? baik saya hantarkan kamu pulang! saya tidak mau dituduh membawa kabur istri orang!."
setelah itu pak Heru menyalakan mesin mobilnya dan bertanya "Dimana rumahmu?"
"Saya turun disini saja pak." pintaku.
"Biar saya hantarkan kamu pulang! lagi pula, ini sudah sangat jauh. tadinya saya mau bawa kamu untuk bertemu seseorang, tapi karna kamu sudah punya suami ya gak jadi. saya tidak mau dibilang bawa kabur istri orang!"
"Memangnya mau bertemu siapa pak?!."
"Ada teman saya. ya sudah dimana rumah mu?" tanyanya lagi.
"em,,, anu pak,,, anu,,,"
"sa-saya ngekos pak!" ucapku terbata.
"Kamu sama suami kamu ngekos?" aku menggeleng kepala.
"Saya ngekos sendiri pak" ucap ku pelan dan mungkin hampir tidak terdengar sangking pelannya.
"Kenapa? maaf!" ucapnya merasa tidak enak hati.
"Selama kerja di tempat bapak. saya kabur dari rumah suami saya pak"
"Saya tidak salah dengar ini?" tanya pak Heru langsung menghentikan mobilnya kembali. aku mengangguk.
"Boleh saya tau alasannya? kalau begitu kamu bantu saya sekarang. nanti saya akan bayar kamu dengan imbalan yang besar oke? saya hampir terlambat dan nanti kita bahas masalah kamu!" setelah itu pak Heru melanjutkan kendaraan yang tentu aku tidak tau mau dibawa kemana.
☘️☘️☘️
kami tiba di suatu tempat, sepertinya? tempat ini tempat kecantikan wanita kalangan atas. sebab aku tidak pernah ke salon mana pun untuk melakukan perawatan.
__ADS_1
pak Heru langsung menggenggam tangan ku dan membawaku masuk kedalam. aku hanya bisa mengikutinya, kemungkinan pak Heru akan bertemu temannya ditempat ini mungkin? itu hanya dugaan ku saja.
setelah kami sampai didalam tanpa ba-bi-bu pak Heru memanggil satu orang wanita yang pasti wanita itu adalah pekerja ditempat ini.
"Buat dia secantik mungkin!" ucap pak Heru "Pakaiannya juga! cari yang bagus untuknya!" lanjutnya lagi.
"Tapi pak? kata bapak kan kita mau bertemu teman bapak?"
"Jangan banyak membantah!' ucapnya dan pergi dari hadapanku.
aneh sekali laki-laki es batu itu. jarang ngomong sekalinya ngomong harus dipatuhi. padahal ini bukan lagi jam kerja egois.
"Mari mba!" ajak mereka.
setelah selesai aku dibawa keruangan ganti entah apa yang mereka lakukan padaku aku tidak tau. wajah ku terasa berat, sebab aku tidak pernah memakai make-up kecuali pada saat aku menikah kemarin itu saja.
setelah selesai aku dibawa keluar dari ruangan dan aku dibawa ke depan kaca besar. "Ya tuhan cantik sekali!" ucap salah satu wanita perawat kecantikan disini.
"Iya, imut! sangat manis!"
aku merasa ini bukan diriku, wajahku disulap sedemikian rupa. hingga aku tidak bisa mengenali diriku sendiri aku menepuk-nepuk wajah ku pelan serasa aku ada didalam mimpi.
"Sudah selesai?!." suara berat pak Heru mengagetkan ku dari lamunanku.
"Ayo!" ajaknya dengan senyum tipis. aku hanya bisa mengikuti langkah kakinya
setelah sampai didalam mobil pak Heru sesat memandang wajah ku dan berkata.
"Ternyata gadis jelek sepertimu bisa cantik juga ya?" ucapnya dengan jumawa. sombong sekali dia.
"Jangan mengejek saya pak! nanti kalau bapak jatuh cinta pada saya kan repot nantinya." ucapku tak mau kalah.
☘️☘️☘️
sampai kami di sebuah restoran ternama, ini bukan kali pertama aku masuk ke restoran berbintang lima begini. aku sudah terbiasa makan ditempat begini.
"Ma-yang!" panggil seseorang yang langsung memegang tangan ku. tertegun menatap pria itu.
__ADS_1