Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
68


__ADS_3

"Ngapain Lo kesini?" tanya Adit ketus pada Heru.


"Apa perlu saya, ijin sama kamu? tapi, kamu siapanya sari?" jawab Heru santai dengan senyum manisnya.


"Gue, pacarnya!" jawab Adit sengit.


"Baru pacar aja belagu" ujar Heru tak kalah sengit.


"Iya, jadi Lo harus jauh-jauh dari pacar gue!" pungkas Adit cepat.


"Selama janur kuning belum melengkung tidak ada larangan untuk siapapun untuk tidak boleh dekat-dekat dengan sari, faham? dan itu termasuk kamu!" tekan Heru.


setelah itu Heru menghampiri Dimas yg tak jauh dari mereka.


"Maaf, boleh kita bicara sebentar?" tanya Heru pada Dimas.


Dimas hanya terpaku menatap Heru yang meninta jawaban darinya. lalu Dimas mengangguk.


"Duduk di situ!" ajak Dimas.


lantas Heru dan Dimas berjala dan duduk di kursi tunggu diluar kamar rawat Maria.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? saya tidak punya banyak waktu." ujar Dimas dingin.


"Saya ingin melamar Sari, anda kakaknya bukan?!." ucap Heru dengan lembut.


Dimas terbatuk-batuk, iya tersedak air liurnya sendiri.


"Maaf, saya tau mungkin ini tidak tepat bagi kalian. untuk mengutarakan isi hati saya. tapi saya bukan tipe orang yang suka bertele-tele, saya bukan lagi anak ingusan yang harus bermain-main. saya mencari istri bukan mencari pacar. bagi saya nanti setelah menikah baru boleh pacaran" ujar Heru lembut. sambil melirik Adit yang ikut melongo atas penuturannya.


Dimas hanya terdiam mendengarkan perkataan Heru. iya terlihat murung pada saat Heru mengungkapkan niatnya meminang Mayang.


"Saya tidak bisa memberikan keputusan. sebab, yang akan menjalaninya adalah Mayang, jadi saya tidak berhak atas hal itu. semua itu terserah dengan Mayang" tukas Dimas lalu iya memilih masuk kedalam ruangan Maria.


"Enak aja lo, main ribut cewek gua. lo pikir lo siapa?" Adit mencengkram kerah baju Heru.


Namun Heru tidak menanggapi perkataan Adit, Heru hanya tersenyum menatap Adit yang mulai berapi-api.


"Gue minta, lo jauh-jauh dari cewek gue! gue nggak mau lu deket-deket sama dia!" ancam Adit.


Dengan pelan Heru melepaskan tangan Adit dari lehernya, lalu Heru membersihkan kerah bajunya yang habis di pegang oleh Adit. seolah ada kotoran yang menempel di bagian lehernya Heru menepuk-nepuk pelan dibagikan itu.


"Ingat, tidak ada larangan bagi siapapun sebelum janur kuning melengkung" ucap Heru jumawa.


"Songong lo, lihat aja gue buktiin nanti siapa yang menang" balas Adit sengit.


Heru hanya tersenyum melihat tingkah Adit. benar-benar seperti bocah kecil yang masih ingusan. tidak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


"Kalau saya jadi sari, tentu dia akan memilih saya. selain matang, aku juga mapan. dibanding kamu yang masih ingusan, mau kamu kasih makan apa anak orang? kerja aja belum? sekolah aja masih dibiayain orang tua" ujar Heru sambil menggeleng kepala.


Adit yang mulai terpancing emosi berlari mengejar langkah Heru yg masuk kedalam ruangan rawat Maria.


Dengan membabi buta Adit memukul Heru dari belakang.


Mayang sangat terkejut atas perlakuan Adit yang tiba-tiba memukul Heru.


"Adit, kamu apa-apaan sih? tolong jangan bikin keributan! kamu nggak lihat Mbak Maria sedang sakit?" ujar Mayang.


Sambil menatap Adit tidak percaya atas perlakuan Adit yang tiba-tiba berbuat kasar.


Adit hanya terdiam, mayang langsung membantu Heru yang kesakitan akibat dipukul oleh Adit.


dengan kuat tadi Adit memukul di bagian punggung Heru hingga membuat Heru tersungkur ke lantai.


"Bapak tidak apa-apa? sebaiknya saya panggilkan dokter" ujar Mayang.


namun dengan cepat Heru menahan pergelangan tangan Mayang, agar Mayang tidak beranjak dari duduknya.


"Tidak perlu sari, saya baik-baik saja. ini hanya sedikit sakit" ujar Heru pelan.


Lalu mayang kembali duduk tepat di hadapan Heru.


"Sari, Boleh saya bicara sebentar?" ujar Heru.


"Sari, apakah kamu mau menjadi istriku?" ujar Heru. "Dan ... ya, aku sedang tidak bercanda seperti yang kamu katakan malam itu" lanjutnya lagi.


aku tidak langsung menjawab pertanyaan Pak Heru. sebaliknya aku malah menatap Mas Dimas yang hanya menatap wajahku dengan sayup.


aku ingin Mas Dimas mengakui bahwa aku sekarang adalah istrinya. tapi Mas Dimas hanya diam, seolah tidak ingin mengakui bahwa sebenarnya kami tidak memiliki hubungan apa-apa.


Aku merasa sangat sedih ketika aku mengharapkan pengakuan dari Mas Dimas. namun dia malah tidak mau mengakuinya.


"Mayang, gue mohon tolong jangan diterima! lo masih ingat kan janji kita?" ujar Adit.


kulihat Mas Dimas malah memilih pergi. lagi-lagi aku harus merasakan sakit hati atas sikap dingin Mas Dimas.


"Sari, aku beri kamu waktu satu minggu untuk berpikir. setelah itu tolong beri aku jawaban" tutur pak Heru lembut.


setelah itu Pak Heru beranjak dari duduknya dan memilih pergi.


"please may, tolong ingat janji kita may? sayang aku nggak bisa hidup tanpa kamu!" ujar Adit dengan menatap wajahku.


aku hanya bisa menunduk pasalnya aku tidak memikirkan baik Adit, maupun Pak Heru.


Aku sedang memikirkan Mas Dimas, kemana perginya Mas Dimas? bukankah dia pernah bilang bahwa dia tidak ingin melepaskan aku.

__ADS_1


lalu kenapa Mas hanya diam pada saat Pak Heru melamarku.


Adit mengguncang bahuku hingga aku tersadar dari lamunanku.


"Sayang, kamu dengar aku kan?" tanya Adit.


"Maaf Dit, untuk saat ini aku butuh sendiri! aku sedang tidak ingin diganggu" tutur ku pelan.


"Tapi saya--" ucapan Adit terputus.


"tolong hargai aku" ucap Mayang.


Dan pada akhirnya Adit memilih pergi meninggalkan Mayang sendiri.


.


.


.


pada saat aku sedang duduk di taman Heru menghampiriku.


"tolong ikhlaskan sari, untuk saya" ujar Heru yang mengagetkan ku.


"tolong restui kami, saya harap anda bisa menjadi walinya?"


"saya yakin itukah anda? apakah anda yakin bahwa Mayang akan menerima anda?" sarkas Dimas.


"Saya yakin, sari pasti akan menerima saya! saya harap anda bisa menjadi wali untuk sari"


Dimas hanya tersenyum getir, ternyata selama ini Dimas diam-diam mulai menyukai Mayang, adik iparnya.


"Saya permisi tuan" ujar Heru undur diri dari hadapan Dimas.


jika memang Mayang tidak menyukai saya, maka saya akan melepaskan Mayang dengan ikhlas. walau berat, jujur walau awalnya saya menyayangi Mayang sebagai adik ipar tapi. sekarang saya menyayanginya sebagai seorang istri.


hatiku perih ketika melihat ada laki-laki lain yang menatapnya dengan tatapan penuh damba.


aku harus belajar ikhlas, atau mungkin kami memang tidak berjodoh.


aku menghela nafas berat, lalu ku hembuskan dengan pelan.


ternyata keberuntungan tidak berpihak denganku. mungkin aku memang tidak adil dengan Mayang, lebih tepatnya menyia-nyiakannya.


aku selalu memikirkan Maria, Maria, Maria, dan Maria. sebab itulah main kecewa padaku.


Besok aku akan mengajukan surat ke pengadilan agama.

__ADS_1


ternyata Cinta tidak harus memiliki. aku berharap Maria bisa sembuh dan kembali seperti semula.


__ADS_2