
"Mayang tidak mau tau, apa syaratnya??!." tanya Dimas gemas melihat tingkah Mayang.
Mayang hanya mengernyitkan dahinya, menatap Dimas dengan lekat. Dimas yang gemas sejak tadi melihat tingkah Mayang pun mengacak rambutnya.
"Ihh.. mas Dimas!" pekik Mayang. Dimas terkekeh, Mayang yang melihat tingkah Dimas jadi geli sendiri.
kini Dimas sedikit merasa lega melihat Mayang mulai tersenyum lagi.
"Kamu beneran gak mau tau, apa syaratnya?!." tanya Dimas lagi.
"Apa?" tanya Mayang berbinar
"Mayang harus jawab yang jujur, ya!" pinta Dimas, Mayang kembali murung.
"Syaratnya nggak sulit koq, may, mas cuma tanya Mayang tinggal jawab." ucapnya "nggak sulit kan?" lanjut nya lagi.
"Apa syaratnya, mas?" tanya Mayang dengan gaya sok imutnya.
"Kenapa? Mayang tidak mau satu kampus dengan mas?" tanya Dimas santai.
"Mayang gak mau, mas."
__ADS_1
"Alasannya??" tanya Dimas, dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mayang nggak mau temen-temen Mayang tau kalau Mayang sudah menikah" ucap mayang dengan suara sedikit pelan.
"Cuma itu?!." tanya Dimas lagi.
"Mayang, nggak mau di bilang pelakor mas. Mayang gak mau orang-orang tau status Mayang sekarang. Mayang juga pengen banget supaya nikah kontrak kita cepet selesai!"
"Siapa yang bilangin kamu pelakor? nggak ada kan? mas jamin nggak ada yang tau soal hubungan kita, mas jamin itu may!"
"Mayang, lanjut kuliah di kampus lain aja ya mas? " ucapnya dengan wajah yang memelas.
ku rengkuh dia, dan ku peluk Mayang dengan erat. tak sampai hati aku menyakitinya.
"Gimana mas, apa boleh?" tanyanya masih dalam pelukan ku.
"Boleh, tapi dengan satu syarat! Mayang harus patuh dengan apa yang mas katakan! tidak boleh membantah! dan tidak keluyuran malam-malam! pulang pergi mas yang antar jemput! faham??!."
"Katanya cuma satu syaratnya, ini banyak." protesnya tak terima.
"Iya, terserah. kalau tidak setuju tidak masalah!" tegas ku sebagai bentuk gertakan.
__ADS_1
Mayang terdiam sesat, mungkin iya sedang berpikir untuk mempertimbangkan ucapan ku barusan.
"Gimana??" tanya ku lagi memastikan.
Mayang tidak langsung menjawab, Dimas pun bangkit dari tempat tidur dan menutup pintu. lantas Dimas kembali ke ranjang dan merebahkan diri di samping Mayang yang masih duduk.
"Jangan lama-lama. nanti mas berubah pikiran!" ucapnya dengan senyum jahilnya.
dan, Mayang langsung menatap tidak suka kearah Dimas. Dimas menepuk bahunya meminta Mayang merebahkan diri di samping.
namun Mayang enggan. dan Dimas memaksa Mayang agar ikut terbaring disampingnya.
☘️☘️☘️
diluar sana ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. dia menangis dan menyeka air disudut matanya.
tidak tau sebab apa alasan dari tangisnya, Maria memilih beranjak pergi setelah Dimas menutup pintu kamar Mayang.
entah perasaan apa ini yaa Allah. di satu sisi aku bahagia melihat adikku bahagia. disisi lain ada rasa cemburu di hati hamba, ternyata aku benar-benar belum ikhlas. ternyata untuk mengikhlaskan itu sangat sulit.
setelahnya Mayang segera beranjak pergi. rasa sesak yang menyerang di dada kian parah. Maria segera berlari kedalam kamarnya mencari obat pereda.
__ADS_1
setelah meminum obatnya, Maria membaringkan diri di kamar. dan mulai terlelap, nafas juga sudah mulai teratur normal.