
pada saat aku keluar dari ruangan pak Heru semua mata menatapku ku tajam.
"Nggak nyangka ya, seorang OB jadi incarannya bos" cibir mba Puput staf dikantor sini.
"Iya, kelihatan lugu dan polos. ternyata pintar menggaet bos dingin itu" aku hanya mampu menundukkan wajah.
"Ehh,,, ada sari rupanya, gimana calon istri bos besar. hebat ternyata sari?" ejek mereka dengan gelak tawa.
"Apa ini tugas kalian berkerja dikantor saya?" suara berat pak Heru datang dari arah belakang ku.
"Iya, dia calon istriku! lantas kalian mau apa?" lalu pak Heru merangkul ku dari samping. tamatlah riwayatku mengapa jadi begini sih?.
Setelah itu pak Heru kembali membawaku masuk kedalam ruangannya.
"Ikut aku!" ajaknya dan menarik tanganku dengan kuat. aku hanya bisa mengikuti langkahnya.
"Maafkan aku sari, aku tidak punya pilihan. kalau aku bilang kamu adalah pacar bayaran ku. itu tentu akan sangat mempengaruhi nama baikku. jadi,, tolong maafkan aku" aku hanya diam membisu mendengarkan ucapan pak Heru.
"Kamu mau menikah dengan ku?!." tanyanya
seketika mata ku membulat dan mulutku menganga. bisa-bisanya dia meminta ku menjadi istrinya.
"Apaan,, sih pak. gak lucu tau nggak" jawabku. ternyata lelaki dingin ini suka bercanda juga.
"Aku tidak bercanda atau sedang bergurau kalau memang kamu tidak bahagia dengan suamimu ceraikan dia. aku akan membantumu untuk lepas darinya! maaf sari, ini sudah terjadi mungkin ini juga sudah campur tangan dari tuhan"
"Tak perlu juga kita menikah pak" jawabku ketika aku tersadar dari keterkejutan ku.
"Tidak perlu dengarkan cemoohan orang-orang biarkan saja. nanti juga mereka akan berhenti dengan sendirinya." tutur ku pelan.
kenyataan hidup memang pahit baru terasa manis kalau kita mau berjuang.
"Maaf pak, saya pamit pulang saya butuh ketenangan." setelah itu aku beranjak dari dudukku.
"Sari, aku antar ya?"
"Tidak perlu pak" setelah itu aku benar-benar keluar dari dalam gedung.
tidak ku pedulikan tatapan orang-orang terhadapku, biarkan saja. terserah mau mereka apa.
pada saat aku keluar dari dalam gedung aku merasakan tiba-tiba ada seseorang yang memegang tangan ku.
"Adit, kamu kenapa bisa ada disini. dit?" tanyanya ku. aku terkejut mendapati Adit sudah berada di sampingku saat ini.
__ADS_1
"May, maaf. aku tadi sempat ikutin kamu." ucapnya sambil menarik sedikit sudut bibirnya.
"Dit, harusnya kamu tidak perlu repot-repot mengikuti aku. sekarang kita sudah jadi bahan perhatian semua orang. termasuk dikantor ini!" aku memberitahu.
"Ayo, ikut aku!" ajak Adit meraih tangan ku. Adit membawaku masuk kedalam mobilnya.
"Dit, maaf. aku harus pulang! aku mau pindah kosan." ucapku pelan. aku tidak ingin lagi tinggal disana.
"Iya sudah, kamu ikut aku saja ya. kita tinggal di Australia saja. kamu mau kan?," tanya Adit penuh binar dimatanya.
"Tapi,, aku akan kerja apa disana dit?"
"Kamu tidak perlu bekerja!"
setelah itu Adit menyalakan mesin mobilnya dan berjalan keluar dari halaman gedung.
"May, kita makan dulu ya. aku lapar" setelah itu Adit mencari tempat untuk kami makan.
kulihat Adit menuju kesebuah restoran yang lumayan besar, disana sangat ramai. aku tidak ingin menjadi pusat perhatian semua orang. mengingat kami sekarang menjadi sangat viral oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mencari keuntungan dari kehidupan orang lain dan itu sangat merugikan kami sat ini.
"Dit, sebaiknya kita cari tempat makan di pinggiran saja ya. aku tidak mau dilihat banyak orang." kulihat Adit mengangguk-angguk.
lalu Adit kembali melajukan mobil miliknya berjalan pelan.
beruntung sekali aku bisa bertemu Adit, dia tidak perduli dengan segala kekurangan ku.
"Mayang, di depan ada warung makan. kita disana saja ya?" kulihat Adit langsung menepikan mobilnya dipinggiran jalan.
setelah itu kami langsung turun dan memesan makanan.
"Ehh,,, mbak sama mas, kan ya,, yang lagi viral. boleh Poto bareng?" tanyanya ketika iya hendak mengeluarkan ponselnya Adit segera mencegahnya.
"Maaf, tidak bisa! kami kesini mau makan. bukan untuk ber-selfie" tekan Adit. lalu mas pemilik warung diam dan pergi.
"Dit--" belum juga selesai ngomong Adit sudah memotong ucapan ku.
"Katanya lapar? ayok dimakan!"
lantas dengan cepat kami melahap hidangan yang ada didepan kami. setelah itu kami langsung pulang ke kosan.
☘️☘️☘️
aku hanya bisa menatap kepergian sari dari balik kaca dengan lelaki yang ada dimalam itu kalau saja dia tidak hadir diantara kami mungkin ini tidak akan terjadi.
__ADS_1
aku tersenyum getir, mirisnya hidupku untuk mencari satu wanita saja sangat sulit. ketika aku menemukannya ternya sudah menjadi milik orang. "Nasib" aku menarik ujung bibirku menertawakan diri sendiri.
"Apakah lelaki itu suaminya Sari? tapi sepertinya bukan?" aku bermonolog sendiri.
ternyata aku masih punya harapan untuk mendapatkan sari. aku tersenyum girang "Yes saatnya berjuang" aku melompat girang seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiahnya.
sepertinya berita semalam akan membawa keberuntungan bagiku. aku tau sari itu gadis yang lugu, tidak mudah untuk mendapatkan hatinya. setelah selesai memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di atas meja aku segera ingin keluar.
tok tok tok
"Masuk," ucapku dari dalam
"Selamat siang pak, pak saya mau minta tanda tangan dari bapak untuk berkas ini!" Dini sekertaris ku menyerahkan sebuah map berwarna merah untuk aku segera menandatangani. sebuah berkas kontrak kerja dengan perusahaan lain.
segera ku raih dan ku baca sebelum menandatangani surat kontrak kerja itu.
"Jam berapa kita mengadakan rapat penting?"
"Jam dua siang pak" ucap Dini memberitahu.
"Baik, kamu boleh keluar" seruku. sambil menyerahkan sebuah map padanya.
dan Dini langsung keluar dari ruangan ku segera iya menutup pintu.
☘️☘️☘️
pada saat kami sedang asik menyantap hidangan banyak orang yang berdatangan di rumah makan ini. kulihat Mayang langsung menutupi wajahnya aku saat ini iya sedang tidak nyaman dipandang banyak orang.
Ehh,,, ternyata bener ya. mereka makan disini?" terdengar seseorang mengatakan hal itu. itu tandanya bapak tadi sudah mengambil gambar kami dan langsung di update di sosmed.
aku segera menarik Mayang dan meninggalkan uang berwarna merah di atas meja. kasian Mayang harus menahan malu didepan umum begini.
"Ehh,,, mau kemana? tunggu! kami cuma mau minta Poto bareng mbaknya aja kok. tunggu mas, mbak." panggil mereka dan langsung mengejar kami.
beruntungnya kami sudah berada didalam mobil dan aku bisa bernafas lega.
☘️☘️☘️
"Mas Dimas?"
"Mayang"
"Mayang, tolong tunggu Mayang. mas mau ngomong sebentar, Mayang kamu harus pulang! tolong mayang" mas Dimas mengejarku pada saat aku hendak kembali masuk kedalam mobil Adit. mas Dimas segera menarik tanganku dan segera ku tepis dengan kasar tangannya.
__ADS_1