
tok tok tok
"Masuk!" jawab seseorang dari dalam.
"Oh,, mba rupanya, mari silakan" ucap dokter Arif mempersilahkan aku untuk duduk.
ku jatuhkan bobot ku tepat berhadapan dengan dokter yg bernamakan Arif itu.
"Kita mulai?" ucapnya sambil menatap wajahku.
"Sakit tidak ya dok?" tanyaku langsung.
"Sedikit" jawabnya "Seperti digigit semut" lanjutnya lagi.
aku hanya ber-oh-ria saja.
setelahnya aku langsung menyetujui pemeriksaan ini.
"Tahan ya mbak, sebentar saja kok" ujarnya lembut.
lalu kulihat seorang perawat membawakan alat suntikan dan secepat kilat aku menutup mata. aku paling tidak suka melihat alat suntikan itu.
"Sudah mbak" ucap dokter ramah dan menyunggingkan senyum manisnya.
"Gitu aja?" tanya ku keheranan. setelah membuka mata.
'Iya, menangnya mba maunya gimana?" tanya dokter Arif sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Oh,, tidak, maaf" sahutku
bukanya tadi ada seorang perawat yang menyerahkan alat suntikan.
"Mba, boleh tunggu sebentar ya!" ucap dokter. aku mengangguk.
.
.
.
__ADS_1
setelah beberapa waktu aku menunggu lalu datanglah dokter Arif, aku menarik nafas lega.
"Ekhemm"
dokter Arif berdehem lalu iya menjatuhkan bobot dan duduk dengan mantap. terlihat dari raut wajahnya begitu banyak pertanyaan.
sambil menunggu hasil pemeriksaan aku merasa sangat deg deg-degan. detak jantung ku Rasanya berdetak tidak normal. aku begitu gugup saat ini.
"Gimana dok hasilnya,?" tanyaku.
aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Jadi begini, maaf sebelumnya. apakan mbak bersaudara kandung dengan, Bu Maria?" tanya dokter Arif.
"Pertanyaan apa ini dok" tanya ku jengah.
"Maaf sebelumnya, dari hasil yang saya dapatkan golongan dari mbak. maaf mbak siapa namanya?" tanya dokter Arif.
"Mayang dok, nama saya Mayang" jawabku.
"Maaf mbak. disini tidak ada kecocokan darah mbak Mayang dan Bu Maria"
bagaimana mungkin? kalau memang benar lalu siapa aku? anak dari siapa aku?
aku berusaha melambai-lambai kan tangan didepan mbak Mayang yang terlihat bengong.
"Mbak, mbak Mayang!"panggilku berulangkali.
"Sa-ya dok" jawabnya terbata.
"Masih mau dilanjutkan?" ucap dokter Arif aku mengangguk.
"Disini. saya menemukan hasil dari tes darah tadi ya mbak. mbak memiliki darah B positif jadi tidak bisa melakukan donor darah ke darah A+ yang bisa melakukan donor darah iyalah orang yang memiliki darah A+ atau darah A- bisa juga yg memiliki golongan dara O.
apa mba Mayang ikut salah satu gen dari orang tua?"
aku menggeleng cepat. aku tidak tau apa-apa tentang hal ini.
siapa aku? apakah aku adalah anak angkat, atau anak yang di buang orang tuanya.
__ADS_1
"Maaf dok, saya kurang tahu tentang itu. emm kalau boleh tau dok, kebanyakan anak itu ikut dari siapa ya?!." tanyaku penasaran.
"Anak paling kuat ikut gen ayahnya, bisa juga ikut gen ibunya. atau mungkin bisa berbeda, dan hal ini banyak yang terjadi" papar dokter menjelaskan.
setelah itu aku memilih keluar dari ruangan dokter Arif.
aku berjalan gontai bagaimana caran ku membantu mbak Maria?
"Aww.." ringisku.
"Heh,, kalo jalan lihat-lihat donk" pekiknya lantang.
tanpa sengaja aku menabrak seseorang, aku yang sedang berjalan sambil melamun tidak melihat kedepan.
"Maaf-maaf" ucapku dengan tulus.
"Kamu?" ucap Mba Amel jengah."Ngapain kamu disini?" tanyanya sinis.
"Anda bertanya? Anda bertanya-tanya?" jawabku singkat.
"Terserah saya, mau saya dimana itu bukan urus mbak!" cetus ku kesal atas sikapnya yang sok di depanku.
"Heh.. kalau bicara itu yang sopan" tekannya.
"Memangnya Anda sopan sama saya?!." jawabku tak mau kalah.
"Berani kamu sama saya?" lanjutnya lagi.
"Kenapa tidak? memangnya Anda siap?" celetukku lagi.
tanpa sadar aku ditarik seseorang untuk meninggalkan wanita g**a ini sendiri.
"Tidak usah di ladeni!" ucapnya.
aku menolehkan wajah melihat siapa yang membawaku pergi dari sana.
"Dok-ter?" ucap ku terbata. lalu iya tersenyum manis padaku.
OMG manis sekali senyumnya aku jadi gemas ingin mencubit pipinya.
__ADS_1