Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
positif


__ADS_3

aku meminta Mayang dan bik Ning mencari sarapan di kantin rumah sakit ini, tapi mereka menolak.


Maria belum sadarkan diri, iya masih terlelap dalam tidurnya.


aku segera merongoh kantong celana, dan segera menekan tombol power mencari nama mama disana.


segera ku tekan layar pipih itu untuk melakukan panggilan.


"Halo.. ma!"


[Iya, ada apa Dimas?] jawab mama di sebrang sana.


"Dimas ingin memberi tahu mama. maria dirawat di Rumah sakit"


"Kok bisa Dimas. Maria sakit apa?" tanya mama dari seberang sana.


lalu aku menceritakan kronologinya, dari awal Maria mual-mual dan setelah itu iya jatuh pingsan.


[Iya sudah, mama akan segera kesana.] tuturnya dan menutup panggilan telepon.


"Sus, apakah dokternya masih lama?" tanya ku ketika ada seorang perawat masuk dan memeriksa keadaan Maria.


"Kurang lebih satu jam lagi pak." jawabnya. aku mengangguk.


lalu kulihat mama datang dan disusul papa di belakang mama.


"Gimana, apa kata dokter?" tanya mama tidak sabaran.


"Belum di periksa ma." jawabku, "Dokternya belum datang" lanjut ku lagi.

__ADS_1


"Iya sudah kita tunggu saja!" ajak mama.


"Eh.. Mayang! sini sayang!" panggil mama ketika iya melihat Mayang sedang duduk di samping Maria.


lalu Mayang pun menghampiri mama mencium punggung tangan mama, dan papa bergantian dengan takzim.


"Mayang gak kuliah hari ini?" tanya mama. Mayang menggeleng kepala.


"Sini duduk Deket mama!" pintanya, Mayang pun menurut.


kami pun duduk di barisan kursi diluar kamar rawat Maria, Maria di temani oleh baik Ning.


mama dan mayang terlihat sangat akrab, entah membahas apa mereka aku tidak tau.


"Dimas, kapan-kapan ajak Mayang menginap di rumah mama ya." ucapnya.


"Bukan tidak ada waktu, tapi kamu yang tidak mau meluangkan waktu!" jawab papa ketus.


dasar lelaki tua itu, sengaja apa, mau jadi kompor.


"Sayang, gimana sepulang dari sini kamu ikut mama aja?" tanya mama Mayang hanya menunduk.


"Nanti Mayang ikut mama ya, kita perawatan hari ini. biar Mayang terlihat cantik!" ucap mama ramah dengan senyuman menghias wajahnya.


setelah melihat dokter dari kejauhan kami langsung berdiri.


"Selamat pagi dok," ucap kami bersamaan.


"Pagi, pak. buk!" jawabnya ramah sambil mengangguk kepala.

__ADS_1


dokter pun langsung masuk kedalam ruangan Maria, dan Alhamdulillah Maria sudah sadar.


"Maaf, bapak, bu. silakan tunggu diluar ya! kami akan melakukan pemeriksaan!." ucap dokter dan perawat.


kami pun menurut, kami duduk di barisan kursi yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit.


kulihat suster membukakan pintu ruangan rawat Maria. kamu pun di persilakan masuk.


"Suaminya mana?" tanya dokter.


"Saya dok." jawabku.


"Selamat ya pak, istri bapak positif hamil. dan usia kehamilannya sudah sembilan Minggu!" ucap dokter dengan menjabat tangan ku.


deg!


"Apa? mbak maria hamil??"


"Alhamdulillah.." ucap kami serempak.


"Dan satu lagi ya pak, tolong jadilah suami yang siaga. mengingat kandungan istri bapak sangat lemah. besar kemungkinan akan gagal jika tidak dijaga dengan baik." papar dokter menjelaskan.


aku langsung menghampiri Maria dan memeluknya, menghujaninya dengan kecupan di wajahnya berkali-kali.


sungguh aku sangat bahagia saat ini, Maria pun sampai menitikkan air mata kebahagiaan.


"Dimas minggir donk, mama juga pengen peluk mantu mama."


Papa langsung memeluk ku dan memberi ucapan selamat atas kabar bahagia ini. bik Ning ikut menangis, tangis haru mengisi ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2