Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Ada apa dengan Maria


__ADS_3

Aku mengapit kedua pipi Maria dengan kedua tangan ku, namun iya tepis. dan memilih pergi menyusul Mayang adiknya yang berada didalam kamar.


aku menunggu Maria di dalam kamar, aku sengaja duduk di tepian ranjang hanya sekedar ingin bertanya padanya. kemana saja dia selama dua pekan ini.


apa yang terjadi dengannya? mengapa dia tidak memberikan kabar kepada kami.


bermacam pertanyaan yang ingin aku tanyakan, sayangnya istriku memilih tidak kembali dikamar kami.


hingga aku terlelap menunggu kedatangannya.


aku tersadar, terdengar suara ketukan pintu kamar ku. aku pun segera bangkit dan membukakan pintu kamar ku.


"Tuan, makan siang sudah siap." bik Ning memberi tahu.


setelahnya Bik Ning segera pergi, sayangnya kenapa aku tidak bertanya tentang kemana mereka pergi.


aku segera membersikan diri, tak butuh waktu lama aku sudah selesai mandi dan lengkap dengan pakaian santai rumahan.


aku segera turun, setelah aku tiba di meja makan aku menarik kursi dan menjatuhkan bokong ini.


kulihat istriku datang menghampiri diri ini dan mengisi piring dengan nasi dan juga lauk pauk.


Maria tidak pernah membiarkan aku mengambil nasi sendiri.


katanya ini adalah bentuk pengabdian seorang istri kepada suami.


itu memang benar, menurut ajar agama perkataan Maria di benarkan. tapi aku masih bisa sendiri.


namun istriku ini tidak bisa dibantah, katanya pekerjaannya hanya dirumah tidak akan membuatnya lelah karna melayani suami.


aku laki-laki yang sangat beruntung selama ini, aku bangga memiliki istri sepertinya.


pada saat aku hendak memasukan nasi kedalam mulut terdengar suara.


Bruk!


"Maria" pekik ku terkejut.


aku segera berlari menghampiri istriku yang sudah terkulai lemah. "Sayang, sayang ada apa dengan mu?"


aku segera mengangkatnya dan membaringkan di atas sofa, datang Mayang membawakan minyak angin segera ku raih dan ku gosokan di bagian hidungnya.


"Maria, bangun sayang!" panggil ku. kemudian ku angkat kepalanya dan ku letakan di atas pangkuan ku.


"Sayang, bangun sayang"


aku mencoba membangunkannya dan menepuk-nepuk pelan pipinya tapi iya terlelap.


"May, telpon dokter May, tolong" ucap ku,


Mayang mengangguk setuju.

__ADS_1


aku begitu panik, Maria tidak pernah seperti ini. ku genggam kedua tangannya dan ku kecup keningnya.


"Non, biar bibi saja yang telepon dokternya" ucap bik Ning. kulihat baik Ning segera berlari.


aku menemani Mas Dimas membawa Mba Maria kedalam kamar mereka. Mba ku terlihat sangat pucat, apakah dia sakit? mengapa Mba Maria tidak pernah bercerita.


aku merasa gagal menjadi seorang adik. aku hanya sibuk dengan urusan ku sendiri, sampai-sampai aku tidak memperhatikan keadaan kakak ku sendiri.


aku terus mengekor Mas Dimas membawa Mba ku menaiki anak tangga, dan aku segera membukakan pintu kamar mereka.


setelah Mba Maria dibaringkan tak lama dokter datang yang di hantarkan bibi kedalam kamar.


"Tuan, ini dokter fannya. dokter langganan ibu." ucap bik Ning.


dokter itu tersenyum ramah dan langsung memeriksa keadaan Mba Maria. tapi sebelum itu dia meminta kami keluar dari kamar saat pemeriksaan di lakukan.


kami semua hanya menurut, mungkin memang seperti itu peraturannya.


cukup lama dokter fannya berada di dalam sana. aku tidak tau pemeriksaan apa yang dia lakukan hingga selama ini.


kulihat Mas Dimas menjadi sangat gelisah, berjalan bolak-balik bak seperti gosokan.


aku hanya bisa berdoa, semoga keadaan Mba ku baik-baik saja.


tidak ada hal yang serius terjadi padanya.


terdengar suara pintu di buka itu artinya dokter fannya telah selesai melakukan pemeriksaan.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? apa yang terjadi padanya"


jelas dokter fannya, setelah itu iya kembali pulang yang di hantarkan bibi kelantai bawah.


"Baik Dok, terimakasih banyak" ucap Dimas setelah itu iya masuk kedalam kamar.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Dimas setelah melihat istrinya tersadar di atas ranjang yang sedang memijat pelipisnya sendiri.


"ini yang sakit'" tanyanya lagi dan memijat kepala Maria lembut.


dengan telaten Dimas merawat Maria saat ini. bisa di bilang ini pertama kali Dimas melihat istrinya sakit.


biasanya Maria jika tidak enak badan tidak Sampai seperti ini.


"Mulai sekarang, kamu gak boleh lagi mengerjakan pekerjaan rumah ya! hemm.."


"Dan satu lagi, tidak perlu repot-repot menyiapkan pakaian ku. aku bisa mengambilnya sendiri di almari"


kulihat sang istri hanya mengangguk dan tersenyum simpul.


"Aku, seperti sudah sakit parah saja Mas." ucapnya "tidak boleh ini dan itu" lanjutnya lagi.


"Ini semua demi kebaikan kamu sayang."

__ADS_1


"Mayang dimana Mas?"


"Mayang ada di luar, dia begitu khawatir sampai iya harus bersedih" Dimas memberi tau.


"Dan bukan hanya Mayang, aku juga" ucap Dimas dengan memandang wajah sang istri.


tok! tok! tok!


terdengar suara ketukan pintu beberapa kali.


"Masuk!" ucapku.


kulihat Mayang menyembul di balik pintu.


"Masuk May" ucap Maria sedikit lemas.


"Mba, ini Mayang buatkan bubur. Mba makan dulu ya"


aku duduk di tepian ranjang setelah Mas Dimas berpindah duduk ke Sofa. aku mulai menyuapi Mba ku.


walau dari awal iya menolak, katanya dia masih bisa sendiri.


namun aku memaksanya, aku sebagai Adik sudah saatnya memperhatikan kakak ku saat ini bukan?.


dia lah ayah dan ibuku, jika Mba tidak merawat ku mungkin aku tidak akan seperti ini.


mungkin aku sudah berada dijalankan sana.


tidak terasa aku menitikkan air mata, menatap kakak ku yang terbaring lemah.


"Sudah, jangan menangis'. besok Mba pasti sembuh" ucapnya menyakinkan ku.


aku tersenyum senang, ternyata Mba masih seperti Mba Maria yang dulu.


☘️☘️☘️


"May, aku pamit ya. aku harus meneruskan pendidikan ku ke negara tetangga." ucap Adit sedikit lesu dan tertunduk.


"Hati-hati disana ya Dit, aku harap kamu bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita mu."


kulihat Adit meraih kedua tangan ku dan menggenggamnya erat sesaat pandangan kami bertemu lalu aku segera mengalikan pandangan ku.


aku menunduk malu, "May, janji ya. jaga hati dan perasaan mu untuk! tunggu kepulangan ku"


aku mengangguk, walau sejujurnya aku harus memenuhi permintaan kakak ku.


ingin rasanya aku memberitahu tapi aku takut Adit akan sangat kecewa dan gagal melanjutkan keberangkatannya.


"Ingat ya, Mayang ku hati mu hanya milik ku!" ucapnya lagi dan mengecup kedua tangan ini.


pada saat Adit mengecup tagan ku "Mayang!" terdengar suara seseorang memanggil namaku.

__ADS_1


segera ku tarik tangan ini dan melihat siapa yang memanggil nama ku. iya menatap ku sinis apa salah ku.


ketidak kesukaannya terlihat jelas dia seolah membenciku.


__ADS_2