
setelah selesai berbicara dengan dokter aku segera keruangan Maria yang sedang melakukan kuret.
dengan langkah lebar aku langsung bergegas kesana, tidak perduli beberapa kali aku menabrak seseorang tanpa aku sengaja.
aku seperti orang hilang yang sedang mencari ibunya, bo**h memang aku ini. laki-laki tidak berguna.
istri sakit keras seperti ini aku tidak tau sama sekali. aku benar-benar merasa gagal jadi pemimpin keluarga.
"Dimas, apa yang terjadi? dimana Maria?!." panggilan mama membuat ku tersadar.
"Mama!" aku menatapnya dengan kosong lalu mama memelukku erat.
tanpa aku sadari aku menangis tersedu-sedu di pelukan mama. mama sekuat tenaga menenangkan aku sampai aku merasa puas dan lega.
setelah meresa baikan aku melepaskan pelukan mama dan menunduk dalam hening.
aku tidak ingin mama ikut syok mendengar berita ini. kehilangan calon cucu kenyataan lainya Maria sakit keras.
"Dimas! apa yang terjadi nak?" tanya mama .
aku masih setia membisu, rasanya bibirku kelu untuk menjawab semua pertanyaan mama.
"Dimas! liat mama nak, tolong jangan begini. apa yang terjadi sebenarnya?" ujar mama yang menuntut penjelasan dariku.
__ADS_1
aku menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan, ku lakukan hingga beberapa kali sampai aku benar-benar siap untuk menatap dan menjelaskan semua pada mama.
"Lihat mama Dimas!" mama memutarkan tubuhku agar menghadap kearahnya.
"Ada apa? mama tidak akan tahu kalau kamu diam begini!"
"Maria ma, Maria sakit!" ucapku terbata.
kulihat mama diam tanpa kata tidak terkejut sama sekali. aneh! apa mama sudah tau hal ini?
"Mama tau Maria sakit?" tuding ku langsung. mama tersendat air liurnya sendiri.
aneh ini mencurigakan! aku menatap mama dalam, namun mama menghindar dari tatapan ku.
"Inilah yang mama takutkan, mama sudah pernah ingin mengatakan hal ini Dimas, tapi Maria melarang mama. Maria juga meminta mama untuk berhaji untuk tidak memberi tahukan kamu! maafkan mama Dimas!" ucapnya penuh sesal.
lagi-lagi aku dikejutkan dengan kenyataan ini. yang tidak aku mengerti mereka seolah telah merencanakan ini dan menghianatiku, aku kecewa pada mereka.
"Dimas tolong dengarkan, mama akan menceritakan semua dari awal ya. tapi tolong dengarkan mama!" memohon mama.
aku tidak bisa berkata, aku benar-benar merasa telah ditipu oleh mereka aku memilih pergi keluar.
"Tolong jaga Maria!" ucapku sebelum berlalu.
__ADS_1
"Dimas! dengarkan mama nak!" mama memanggilku. tapi tidak aku perdulikan.
rasanya sakit di khianati oleh orang yang kita sayangi, aku berjalan menuju taman aku butuh ketengan saat ini.
☘️☘️☘️
"Dimas!" panggil seorang wanita yang berdiri tepat di depanku.
aku memilih diam aku butuh sendiri saat ini, tapi wanita ini seolah tidak perduli dan memilih duduk di sampingku.
"Maaf!" ucapnya "Apa kamu sudah tau kalau istrimu sedang sakit saat ini?"
pertanyaan yang berhasil membuat aku menatap kearahnya lalu dia tersenyum kearah ku.
"Kamu tau Maria sakit?" tanya ku, dia mengangguk.
"berulang kali aku ingin mengatakan ini padamu tapi kamu tidak mau mendengarkan aku. bahkan tidak sudi untuk melihatku" ucapnya sambil menunduk.
"Sejak kapan kamu tau?!." tanyaku
"Sudah lama Dimas. itupun aku tidak sengaja mendengarkan percakapan istrimu dan mama mu!" ucapku lembut.
kesempatan untuk ku mengambil kembali hati Dimas, aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini, aku besorak dalam hati.
__ADS_1