Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Pengakuan Amel


__ADS_3

"Kamu tau Maria sakit?" tanya ku, dia mengangguk.


"berulang kali aku ingin mengatakan ini padamu tapi kamu tidak mau mendengarkan aku. bahkan tidak sudi untuk melihatku" ucapnya sambil menunduk.


"Sejak kapan kamu tau?!." tanyaku


"Sudah lama Dimas. itupun aku tidak sengaja mendengarkan percakapan istrimu dan mama mu!" ucapku lembut.


kesempatan untuk ku mengambil kembali hati Dimas, aku tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini, aku besorak dalam hati.


"Maafkan aku mel, aku harus menjaga perasaan istriku, lagi pula aku dan kamu hanyalah masa lalu!"


"Iya, aku tau itu Dimas. maafkan aku yang dulu meninggalkan mu! andaikan saja aku tidak egois mungkin pernikahan kita saat ini sudah bahagia dan sudah memiliki anak--"


"Tidak usah membahas masa lalu!" potong Dimas cepat.


laki-laki ini susah untuk di lumpuhkan. aku harus mencari cara bagaimana bisa dekat dengannya kembali seperti dulu. mungkin dengan cara mengambil hatinya? apapun akan aku lakukan.

__ADS_1


"Maaf dim! harusnya aku tidak lagi membahas itu!"


"Sejak kapan kamu tau kalau istriku sakit?" tanya Dimas lagi.


"Sejak setahun yang lalu. itu juga aku tidak sengaja mendengarkan percakapan istrimu dan mamamu. pada saat itu aku sedang menemani mama ku yang melakukan pengobatan di rumah sakit ini juga. pada saat mama harus dirawat aku tidak sengaja melihat mama mu dan istrimu sedang duduk bersama dan menangis. aku tidak ingin tau dan memilih pergi aku pikir mungkin mereka sedang menjenguk kolega atau teman mungkin. pada saat aku hendak melangkah aku mendengar istrimu meminta mama mu untuk berjanji!


tadinya Tante menolaknya, tapi istrimu memaksa dan pada akhirnya Tante menerima permintaan istrimu. aku yang mendengarnya pun ikut syok ketika iya mengatakan bahwa istrimu terserang penyakit itu. dan kemungkinan besar juga susah punya anak! Maaf!" ucap Amel. setelah menjelaskan.


aku hanya diam tidak menjawab sepatah kata pun, bahkan yang orang lain tahu tentang Maria.


kemudian ku lihat iya tersenyum ramah, tangannya masih menggantung di udara. dengan terpaksa aku menyambut tangan Amel.


"Kita berteman?" tanya lagi dengan senyum manisnya.


"Berteman!" jawabku "Tapi hanya sebatas teman ya, tidak lebih dari itu!" tekan ku padanya. Amel tersenyum.


setelah menenangkan pikiran akhirnya aku kembali kedalam rumah sakit, ditemani Amel. wanita ini tidak lagi seperti dulu.

__ADS_1


kami menyusuri lorong bersama "Dim, masih ingat tidak? kamu yang dulu pernah janjikan aku hadiah?" tanyanya aku termangu.


"Hadiah" gumam ku.


"Iya, hadiah! dulu kamu sempat menjanjikan itu untukku. tapi karena pertengkaran itu kamu tidak jadi memberikan hadiah itu untuk ku!" ucap Amel sedih.


iya, aku ingat aku menjanjikan dia sebuah vila kecil di daerah Bogor dekat dengan perkebunan teh. tapi vila itu sudah aku berikan untuk Maria.


bagaimana bisa Amel masih mengingat itu, aku saja sudah lupa.


"Laki-laki memang seperti itu ya, mudah untuk berjanji. mudah juga melupakan!" celetuknya asal.


aku hanya tersenyum kecut mendengar sindiran Amel.


"Sudah lupakan saja, aku keruangan mama ya dim!" ucap Amel di saat kami berada di tengah persimpangan jalan.


aku harus mengambil jalan kanan, dan Amel kejalan kiri. kami sama-sama terdiam dan saling menatap satu sama lain dan tersenyum. aneh bukan? rasanya seperti baru kenal saja.

__ADS_1


__ADS_2