Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
selanjutnya


__ADS_3

aku serius memperhatikan tulisan-tulisan yang tertulis di atas kertas-kertas putih ini.


tapi disini seperti ada yang janggal. ini bukan pekerjaan ku? ini pekerjaan orang lain. jadi mengapa aku yang harus bertanggung jawab?.


aku bertanya-tanya dalam hati, ingin bertanya kepada pak Heru, aku takut salah dan dimarahi. aku lebih memilih diam dan mengerjakan tugas yang pak Heru berikan.


"Sari, sudah waktunya istirahat! kamu boleh keluar!" ucap pak Heru dengan suara khasnya. aku pun mengiyakan saja.


dan bangkit dari dudukku memilih segera keluar, tidak ingin berlama-lama dalam satu ruangan dengan pria kaku sepertinya.


"Sari! kalau sudah selesai harap kembali kerjakan tugas kamu!" serunya. tanpa ba-bi-bu aku langsung membuka pintu.


setelah aku menutup pintu aku menarik napas lega. ku hembuskan nafas beberapa kali dan melangkah pergi. pada saat aku sedang melangkah, Rian mengagetkan ku.


"Ngapain kamu di dalam?" tanyanya. reflek aku mencubit bahunya, rasa tegang ku belum juga hilang tiba-tiba dia datang membuat ku berang.


kesempatan, Rian bisa ku jadikan pelampiasan.


"Kamu mau bikin aku jantungan, iya?" tanyaku kesal sambil mengelus dada beberapa kali.

__ADS_1


"Sakit, sar! sakit'" ucap Rian sambil mengelus bahunya yang aku cubit barusan.


aku hanya bisa cengengesan dan menarik tangannya jauh-jauh dari ruangan pak Heru.


"Ayok, aku lapar" anjak ku masih setia menarik tangan pria itu.


"Oh.. aku pikir mau diajak ke kamar gitu?" ucap Rian. ku gempalkan tinju kearah wajahnya. dia tersenyum manis.


"Jangan halu deh Lo!" sungut ku dan berjalan mendahului nya.


"Gak apalah kalau sudah halal" seruku mengejar langkah sari yang lebih cepat, lebih tepatnya dia berlari kecil.


"Lah,,, semua laki-laki kali sar, mesum. kalo gak mesum mah gak normal donk? wkwk" ucap Rian cengengesan. aku membulatkan mata.


"Aish." aku menggeleng kepala melihat tingkah lelaki satu ini.


"Sar, boleh tidak? hmm.. maksud aku kamu udah punya cowok belum?" tanya Rian yang berhasil membuat ku teringat akan kembali pada mas Dimas.


dengan susah payah aku untuk melupakannya, tapi kini aku teringat dia kembali. apa kabar mereka? mungkin tidak lama lagi kebahagiaan mereka akan lengkap dengan hadirnya seorang bayi.

__ADS_1


aku menunduk lesu. entah mengapa aku jadi sangat rindu dengan mbak ku Maria. apa kabarnya disana? mungkinkan mereka sudah melupakan aku,. tes. aku meneteskan air mata.


"Maaf, sar. atas pertanyaan ku barusan, jika sampai harus membuat mu menangis!" terlihat jelas Rian merasa tidak enak hati dan bersalah.


"Tidak masalah, aku hanya ingat seseorang saja." aku tersenyum. berusaha menutupi perasaan aneh ini.


"Ya sudah kita makan ya!" setelah makanan yang Rian pesan datang mereka menyantap makanan itu.


di tengah lahapnya mereka menyantap makanan. terdengar suara berat seseorang yang berdiri bergabung diantara kami.


"Boleh gabung?" ucap pak Heru. aku memilih diam dan menunduk selera makan ku mendadak hilang setelah kedatangan laki-laki ini.


"Boleh gabung?" tanyanya lagi, hingga aku tersadar dari lamunanku. kulihat Rian langsung mempersilakan pak Heru untuk duduk disampingnya dan tentu di hadapan ku.


dengan susah payah aku menelan sisa nasi yang ada didalam mulutku. tenggorokan ku rasanya sempit, mengapa lelaki kaku ini harus disini.


"Maaf pak, biasanya bapak tidak pernah makan di kantin?!." tanyaku reflek. setelah itu aku menutup mulutku dengan kedua tangan ku.


lalu pak Heru menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan. "Habislah hidupku" ucapku dalam hati. lalu aku menyenggol kaki Rian. tapi Rian biasa saja tidak merespon aku sedikitpun. kebalikan malah pak Heru yang menatapku penuh tanya.

__ADS_1


aku pun hanya bisa cengengesan saja dan menggaruk kepala yang tidak gatal. ku tendang lagi kaki Rian lebih kuat tapi pak Heru malah melotot kearah ku solah merasakan sakit', aneh sekali lelaki es batu ini.


__ADS_2