
kami pun sampai di rumah sakit mba Maria langsung disambut oleh para dokter dan beberapa perawat. mba Maria segera di baringkan di atas brankar pasien dan dibawa masuk kedalam UGD.
setelah melakukan pemeriksaan mbak Maria segera dipindahkan di rungan perawatan pasien. mas Dimas sengaja mengambil ruangan VIP agar mbak Maria merasa lebih nyaman dan tenang.
aku tidak ingin jauh-jauh darinya, ku genggam tangannya erat. tangan yang selalu memanjakan diriku dikala aku membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu.
"Mbak, cepat sembuh ya" bisik ku tepat disamping telinganya.
mbak Maria tertidur pulas dengan wajah yang sangat pucat. "Maafkan aku mbak, selama ini aku sering merepotkan mu, menyusahkan mu dan menyulitkan mu" lagi-lagi aku meneteskan air mata.
dadaku rasanya sesak melihat orang yang aku sayangi tidak berdaya seperti. aku terisak-isak dengan bibir yang bergetar hebat.
"Sudah Maya, jangan menangis terus" seru mas Dimas yang sudah berdiri tepat dibelakang ku.
aku hanya diam membisu rasanya masih malas untuk bicara dengan Mas Dimas.
.
.
__ADS_1
.
aku tidak tega melihat Mayang seperti ini, sepertinya Mayang sangat terpukul atas terpuruknya Maria. sebenarnya ini bukan salahnya namun Mayang merasa iya penyebabnya Maria jatuh sakit.
aku juga tidak ingin sampai kehilangan Maria wanita yang selalu mengisi hidupku selama ini. jantungku serasa berhenti berdetak kala Maria kritis, dilain sisi Mayang mulai menguasai hati ini entah sejak kapan aku tidak tahu.
yang aku tahu, jika berdekatan dengannya jantung ku serasa berdebar lebih cepat seperti habis berlari sejauh mungkin.
"Entah perasaan apa ini?" ucapku dalam hati. lalu aku menghela nafas berat.
tak lama dokter Arif datang untuk memeriksa keadaan Maria yang diikuti 2 suster dibelakangnya.
"Selamat sore, pak Dimas" jawab dokter Arif tak kalah ramah.
lalu iya berjalan kearah Maria untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Pasien kurang banyak darah sus, apakah stok darah A+ ada di bank darah?" tanya dokter Arif lembut kepada seorang suster wanita yang mendampinginya
"Darah A+, stok jarang tersedia dok di bank darah. mengingat golongan darah ini lumayan sulit didapat" jawab suster.
__ADS_1
"Dok, boleh ambil darah saya! saya yakin golongan darah kami pasti sama. memang selama ini saya tidak tau golongan darah saya, tapi saya yakin pasti sama sebab kami bersaudara" ucap Mayang.
"Boleh, nanti di cek dulu ya mbak?" jawab dokter itu. lalu mereka menatapku lekat.
aku yang merasa risih diperhatikan seperti itu merasa tak nyaman, aku memilih bersembunyi dibalik punggung mas Dimas.
"Maaf, mbak ini yang lagi viral itu kan?!." celetuk suster salah satunya.
"Sepertinya iya, wajahnya sama kok" timpal suster yang satunya lagi
"Wah ... mbak nya hebat ya, jadi rebutan dua lelaki tampan" seru yang satunya
"Ekhemm.."
dokter Arif hanya berdehem entah kode apa itu. aku hanya bisa menundukkan wajah. rasanya wajahku sudah seperti kepiting rebus yang sangat merah.
tanpa aku sadari aku memeluk erat mas Dimas dari belakang. ku eratkan pelukanku dan ku benamkan wajah ku tepat di punggungnya.
"Masih mau pelukan may?" terdengar suara mas Dimas mengejutkan ku. dan tangannya menggenggam erat tangan ku.
__ADS_1
Segera ku tepis dan menarik diri darinya. "Ini memalukan Mayang" ucapku dalam hati. aku mengutuk kebodohan ku. mengapa aku selalu mempermalukan diriku sendiri. "Oh ... ibu peri bantu aku menghilang" aku memejamkan mata.