
"May, tolong jangan pernah tinggalkan Mas Dimas!! ya" seru Maria dengan Lemah.
mbak Maria menggenggam tanganku erat dan menatap wajah ku lekat.
aku memilih diam, bingung harus menjawab apa. sebab, aku tidak tahu Mas Dimas mengharapkan aku atau tidak?.
seperti aku saat ini, hanya memikirkan dia? apakah dia juga sama sedang memikirkan aku?.
aku menggeleng cepat, aku menepis pikiran itu. tidak mungkin dia memikirkan aku. sedangkan yang ada dihatinya hanya ada mba Maria saja.
aku membantu mendorong kursi roda yang mbak Maria duduki, walau suster sudah melarang tapi aku tetap memaksa.
ketika Maria hendak dibawa ke dalam ruangan tindakan aku kembali meneteskan air mata.
hari ini Maria akan melakukan pengeboran di bagian belakang, guna mengeluarkan cairan yang tersimpan di paru-paru.
bayangkan, betapa sakitnya Maria. punggung kita yang kokoh dan mulus harus di bor untuk memasukkan selang.
membayangkannya saja aku tidak kuat. apa lagi mba Maria yang menjalaninya.
aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. mengapa takdir harus seperti ini? mengapa mbak Maria harus mengalami semua ini?. dada ku terasa sesak.
rasanya kepalaku sudah mulai berat. aku tidak kuat dengan semua ini aku tidak sanggup melihat kenyataan ini.
perlahan Mbak Maria menghilang dan pintu ruangan operasi mulai tertutup dengan rapat.
pandangan ku mulai gelap dan kepalaku terasa sangat pusing, tapi aku berusaha tetap berdiri tegak hingga akhirnya aku benar-benar tidak sanggup lagi untuk berdiri dan aku tersungkur setelah itu aku tidak tau apa yg terjadi padaku.
.
.
.
untungnya aku datang pada saat waktu yang tepat, dari kejauhan aku melihat Mayang sudah ingin terjatuh namun iya masih bisa berdiri dengan kuat. aku segera berlari menghampiri dan pada saat aku sampai tiba-tiba Mayang tersungkur dan segera ku tahan dengan kedua tangan ku.
"Mayang!"
aku berusaha untuk membangunkannya. ku angkat tubuhnya dan perawat membawa kami menuju keruangan perawatan Maria.
ku baringkan Mayang di atas tempat tidur yang Maria tempati beberapa hari terakhir ini.
"May, Mayang!" panggilku.
aku masih berusaha untuk membangunkannya.
"Pak, sebaiknya kita panggil dokter saja!" ujar suster dengan lembut, aku tidak ingin terlihat panik.
"Sari! ada apa dengannya?" tanya Heru padaku yang terlihat panik.
namun aku tidak menjawab pertanyaannya, aku memilih diam.
"Sebaiknya anda menemani istri anda, biar saya yang menjaga sari disini!"
__ADS_1
"Panggil saya Dimas!" ucapnya dan memilih pergi meninggalkan Heri dan Mayang didalam.
"Suster tolong panggilkan dokter!" suster pun mengangguk dan berlalu pergi meminta bantuan dari dokter.
Heru terlihat cemas pada saat melihat wajah Mayang yang terlihat pucat. dengan erat Heru menggenggam tangan Mayang.
"Sari, aku kesini ingin membawa mu menemui orang tua ku. mereka ingin bertemu dengan mu"
Heru berkata sendiri sambil menggenggam tangan Mayang.
tanpa Heru ketahui Dimas masih berdiri diluar, Dimas sengaja masih bertahan disana. iya berat untuk meninggalkan Mayang. tapi Dimas juga memikirkan Maria yg sendirian disana.
Dimas yg masih berdiri diluar pun mendengar apa yang Heru ucapkan. niat Dimas sudah bulat untuk melepaskan Mayang untuk Heru.
Dimas merasa Heru lebih pantas untuk membahagiakan Mayang dibanding dirinya yg mungkin sudah menyakiti hati Mayang.
dengan berat Dimas meninggalkan Heru dan Mayang. Dimas menyambangi Maria diruang operasi.
sampai disana Dimas terpaku di kursi tunggu. hatinya menginginkan Mayang, tapi Dimas rasa Mayang tidak ingin dengan-nya.
Dimas akan menceraikan Mayang diam-diam tanpa sepengetahuan Maria. dia tidak ingin Maria menjadi tambah sakit oleh kabar perceraian mereka.
mengingat, Maria lah yang sudah memaksanya untuk menikahi Mayang dan akhirnya Mayang menjadi sangat membenci dirinya.
Dimas kecewa pada dirinya sendiri andai dia tidak menuruti keinginan Maria mungkin hubungannya dengan Mayang masih seperti dulu hangat dan ceria.
sebelum dia menikahi Mayang rumah itu penuh dengan canda dan tawa. tapi sekarang rumah itu sudah seperti kuburan sepi seperti tidak ada penghuninya.
.
.
.
"Bapak, kok di sini?" tanyaku ketika aku melihat Pak Heru sudah duduk di sampingku.
lebih tepatnya duduk di samping ranjang dimana aku sedang tiduran.
aku segera bangkit dan sedikit menegang kening yang terasa pusing.
dengan cekatan pak Heru membantuku untuk duduk bersandar di dinding ranjang.
"Saya, kenapa ya pak?" tanya ku. ketika aku tersadar tiba-tiba aku sudah ada di ruangan ini, seingat ku tadi aku sedang menunggu mbak Maria diruang operasi.
namun kenapa aku berada disini? apa yang terjadi dengan ku?
"Saya, kenapa ya pak?" ku ulangi lagi pertanyaan yang sama.
aku meringis sambil memegang kepalaku yang sangat pusing.
"Kamu tadi pingsan sari"
tak lama dokter datang yang di susul seorang perawat dibelakangnya.
__ADS_1
"Di periksa dulu ya mba" ujar seorang dokter cantik dengan senyum ramahnya.
kemudian dokter itupun melakukan tugasnya. dimulai memeriksa denyut nadi dan juga cek tensi, dan yang lainya.
"Saya kenapa dok?" tanyaku ketika dokter wanita itu selesai melakukan pemeriksaan nya.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah. mbak jangan lupa makan ya, mbak butuh asupan gizi dan juga harus banyak beristirahat. jangan banyak pikiran! dan satu lagi mbak harus banyak minum air putih, mbak sedikit dehidrasi." papar dokter menjelaskan dengan lembut.
aku hanya bisa tersenyum mendengarkan nasihat dari dokter cantik itu.
"Bapak suaminya? tolong dijaga ya pak istrinya. jangan dibiarkan berkerja dulu untuk saat ini!" tutur dokter itu.
"Dan iya, istri bapak ini terlalu banyak pikiran yang mengakibatkan iya terlalu setres dan jatuh sakit"
Pak Heru menatapku dan mengulum senyum.
"Baik kalau begitu saya permisi ya Pak, Bu. nanti obatnya bisa bapak tembus di bank obat dan ini resep obatnya"
setelah menyerahkan resep obat dokter cantik itu pun pergi. aku hanya menunduk menahan malu.
harusnya yang menjaga aku disini adalah Mas Dimas, bukan orang lain.
mengingat ini hatiku kembali perih ternyata seperti ini ya rasanya menjadi seorang istri yang tak dianggap.
"kamu tunggu di sini ya! aku nggak lama" setelah itu pak Heru pun pergi.
aku hanya terdiam selama pak Heru pergi, katanya iya mau menebus obat untuk ku.
ternyata benar dia tidak lama, kulihat ditangannya ada 2 buah kantong. yg satu berisikan obat, dan satunya lagi aku tidak tau.
dengan pelan pak Heru membuka bungkusan itu. dan ternyata isinya adalah bubur.
"kamu makan dulu, baru setelah itu kamu minum obat" ujarnya.
dan pak Heru mulai mengisi sendok dengan bubur itu.
"Aa..."
Pak Heru mulai mau menyuapiku, Namun aku tidak membuka mulut.
"Aku, bisa sendiri kok pak! aku bukan anak kecil yang harus disuapi"
"Aku tidak mengatakan kamu seperti itu" ucapnya dengan tawa.
ternyata Pak Heru lucu juga ya, aku pikir dia laki-laki yang kaku dan dingin selama ini.
tapi dugaan ku salah. aku salah menilai orang lain.
"Begitu bahagianya kah may, kamu tanpa aku?" jujur aku merasa sedih melihat kemesraan mereka.
aku memilih pergi, aku yang awalnya hendak masuk terpaksa ku hentikan langkah ku.
Dada ku sakit bagai ditusuk sebuah belati yang sangat tajam. detak jantungku seakan berhenti. kuremas dadaku di bagian kiri, sakit. sangat sakit.
__ADS_1