Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
kemarahan dimas


__ADS_3

tepat pada pukul 3 malam Dimas terbangun. Dimas sudah terbiasa bangun di jam tersebut.


segera Dimas melangkahkan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


setelahnya Dimas hendak melakukan sholat tahajud, pada saat Dimas selesai menunaikan sholat tahajud. Dimas kembali ke kamar Mayang.


mengingat Dimas lupa membawa ponselnya pada saat menghampiri Maria.


Dimas pun membukakan pintu kamar Mayang dengan pelan. niat hatinya ingin mengajak Maria, juga Mayang untuk melakukan sholat subuh bersama.


namun Dimas tidak menemukan keberadaan mayang disana, bahkan dikamar mandi pun sudah Dimas periksa.


"Astaghfirullah.." Dimas beristigfar.


lalu Dimas mengelus dadanya, dia telah melakukan kesalahan. Bagai mana mungkin iya begitu ceroboh akan perbuatannya.


lalu Dimas kembali ke kamar Maria, dengan sedikit menahan kesal terlihat jelas dari rahangnya yang mulai mengeras.


"Rupanya Mayang harus di perlakukan dengan lebih tegas." Dimas berucap pelan.


setelah sampai di kamar Maria, Dimas masih mendapati Maria yang masih terbaring di ranjang.


"Ternyata tidak mudah memiliki dua istri" ucapnya dalam hati.


"Mengapa kau memberiku ujian seberat ini yaa Allah" keluhnya di saat iya duduk di tepian ranjang.


"mengapa engkau begitu mempercayakan ini kepada hamba" lanjutnya lagi.

__ADS_1


Dimas mencoba menghubungi nomor Mayang, tapi nomor Mayang tidak dapat di hubungi.


Dimas menatap pada layar ponselnya, sudah pukul empat pagi Mayang belum juga pulang.


Dimas melepas peci juga sarungnya, Dimas hendak keluar mencari keberadaan mayang.


pada saat Dimas membukakan pintu hendak keluar untuk mencari Mayang. pada saat itu pula Mayang pulang di antar oleh seorang lelaki.


"Bay.." Mayang melambaikan tangan kepada pria yang sudah mengantar Mayang pulang.


pria itu pun melambaikan tangan dan segera pergi menunggangi roda duanya.


"Aww..." pekik Mayang


"Kamu ngapain disini?" tanya Mayang dengan gaya khas orang yang mabuk.


tanpa menjawab pertanyaan Mayang, Dimas segera menyeret Mayang masuk kedalam rumah.


namun Dimas tetap memilih diam. dan menatap Mayang dari atas sampai bawah.


dengan kasar Mayang menghempaskan pegangan Dimas. Dimas semakin geram atas perbuatan Mayang.


plak.


sebuah tamparan keras melayang di wajah Mayang. Mayang tersungkur dilantai.


mendengar keributan bik Ning, juga Maria menghampiri.

__ADS_1


"Ada apa mas?" teriak Maria melihat Mayang tersungkur di lantai dengan darah di ujung bibirnya.


Maria segera menghampiri Mayang, dan merengkuhnya kedalam pelukan. Mayang yang tidak memiliki kesadaran yang normal mendorong Maria dan merancau tidak jelas.


Maria menutup hidung, bau alkohol sangat menyengat penciumannya.


bik Ning tidak mampu berbuat apa-apa, bik Ning hanya menatap iba atas apa yang terjadi di rumah ini.


rumah yang sebelumnya sangat tenang dan damai, tapi sekarang berubah seperti neraka. hawanya panas.


Dimas hanya mampu menatapi tangannya, seumur hidup baru kali ini Dimas berbuat kekerasan.


Dimas membawa Mayang naik kelantai atas. lagi-lagi Mayang menepis tangan Dimas.


dengan sabar Dimas memapah tubuh Mayang. dan sampailah mereka di kamar dimana Mayang langsung di bawa ke kamar mandi.


Dimas mengguyur Mayang di bawah guyuran air shower yang mengalir deras.


setelahnya Dimas meninggalkan Mayang disana, Dimas meminta agar bik Ning mengurusi Mayang.


"Mas, harusnya kamu jangan terlalu kasar seperti itu?" ucap Maria ketika Dimas tiba di lantai bawah.


"Lantas, aku harus membiarkan dia seperti itu? begitu maksud mu?!." tukas Dimas lantang.


"Apa tidak bisa di bicarakan baik-baik? lagi pula, Mayang masih sangat labil!"


"Ini semua salah mu, salah mu Maria!" tekan Dimas tegas dengan suara sedikit tinggi.

__ADS_1


Maria hanya menunduk, dan Dimas memilih pergi.


"Benar kata mas Dimas, ini semua salahku!" lirihnya dan Maria memilih duduk di ruang tengah.


__ADS_2