Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Pulang


__ADS_3

"Hari ini. ibu, sudah boleh pulang ya pak!" tutur dokter berucap lembut.


setelah itu dokter berlalu pergi. aku pun masuk kedalam ruangan rawat maria yang di temani oleh bik Ning.


sudah sepekan maria dirawat di rumah sakit, sepakan pula mayang menghilang.


setelah maria pulang barulah aku bisa fokus untuk mencari Mayang nantinya.


"Sudah selesai bik?" tanyaku pada bik Ning yang tadi berkemas.


"Sudah pak." jawabnya sambil mengangguk.


"Kita pulang sekarang!" Maria mengangguk.


aku pun membantu Maria turun dari bankar dan mendudukkannya di kursi roda. setelahnya kami pun pulang dengan bik Ning yang membawa tas yang berisikan pakaian maria.


setelah tiba di parkiran, aku langsung membantu maria untuk duduk di samping kemudi.


membantu bik Ning menyimpan tas yang berisikan pakaian di dalam bagasi. setelahnya aku pun masuk dan duduk di belakang kemudi.


tidak lupa juga aku memakaikan sabuk pengaman untuk maria, lalu aku menyalakan mesin kendaran dan menjalankannya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


☘️☘️☘️


"Ingat kata dokter, kamu tidak boleh stres dan banyak beban pikiran!" ucapku sambil membantu Maria merebahkan diri di atas ranjang.


"Mas,!" panggilnya dan menggenggam tangan ku.


"Iya!" jawab ku.


"Tolong temukan Mayang ya, bawa dia pulang!" ucap Maria, ku lihat matanya sudah berkaca-kaca.


aku mengangguk dan mengelus pucuk kepalanya. ku dekap iya kedalam pelukan ku.


"Mas janji" jawab ku lembut.


"Mungkin, besok aku akan mulai melakukan pencarian. aku harap kamu jaga diri dengan baik! kalau terjadi sesuatu tolong segera hubungi aku!" ucapku. Maria menggangguk.


"Aku mau keluar dulu." lalu aku bangkit dari duduk ku.


☘️☘️☘️


dikamar Mayang, terlintas ketika iya sedang cemberut disana. aku pun duduk di tepian ranjang, bayangan Mayang nampak jelas ketika dia sedang tertidur pulas.

__ADS_1


aku bangkit, mungkinkah Mayang membawa semua baju-bajunya. segera ku buka pintu lemari.


dan ya, benar saja, satu pintu lemari terlihat kosong. dan di bagian satunya lagi tertinggal beberapa baju saja. hanya beberapa.


lalu ku buka laci lemari, semoga aku bisa menemukan petunjuk disana. aku menemukan selembar kertas.


kubuka selembar kertas itu yang di lipat dengan rapi.


"Mas, maaf. terimakasih atas semua kebaikan mas Dimas selama ini. atas tumpang rumah selama Mayang disini. Mayang sadar, Mayang mungkin akan menjadi beban kalian jika Mayang terus bertahan disini. Mayang tidak ingin menjadi orang ketiga dalam kebahagian kalian. tolong sampaikan selamat untuk mba Maria, dari ku Mayang.


dan satu lagi mas, aku tidak bisa bertahan dengan kalian, itu sangat sakit untuk ku! sakit ketika aku harus melihat kebahagian kalian di atas penderitaan ku. dari sini aku sadar, siapa aku? tidak perlu mencari ku. ah,,,,percaya diri sekali aku ini. mana mungkin mas Dimas mau mencari ku. aku bukan siapa-siapa dan tentu hanya mbak Maria yang ada di hati mas Dimas.


aku tidak tau ini apa, yang jelas, aku tidak suka melihat mas Dimas bermesraan didepan mataku. aku juga wanita, punya perasaan. mungkin ini konyol mas. sudahlah lupakan saja, Mayang!"


ku remas selembar surat itu, benar. selama ini aku sudah tidak bersikap adil padanya.aku sadar, bukan Mayang yang salah. tapi aku! aku sudah mengabaikannya.


aku sudah berbuat dzalim kepadanya, aku tidak bisa bersikap adil. ini yang aku takutkan, terjadi juga. aku tidak sadar saat ini Mayang bukan lagi adik ipar ku, tapi juga istriku.


harusnya aku bisa menjaga perasaannya, bukan malah menyakiti hatinya. aku mengusap wajahku kasar.


aku terlalu keras dalam mendidiknya. segera ku simpan surat itu kedalam dompetku.

__ADS_1


lalu aku terbaring di atas ranjang dimana Mayang selalu menghabiskan waktunya disana, hingga aku terlelap.


__ADS_2