
"Apa yang terjadi dengan bayi kami dok?!." tanya ku ingin tau.
kulihat dokter terus memutar-mutarkan alat itu di bagian perut Maria. lantas dokter kembali duduk ke tempatnya semula.
"Jadi begini ya pak, banyak masalah yang menyebabkan janin ibu Maria tidak berkembang dengan baik. salah satunya adalah bu Maria terlalu stres dan terjadinya infeksi kehamilan--" dokter tidak melanjutkan ucapannya dan malah menatap Maria yang tidak bisa ku artikan.
"Sebaiknya, Bu Maria segera melalukan kuret ya pak!" ucap dokter Rima.
DUAR..
aku masih tidak mengerti, dunia ku seolah runtuh seketika. bagai tersambar petir disiang hari. kebahagian yang aku mimpikan hanyalah mimpi.
seorang anak yang aku dambakan selama ini hilang sudah, ini adalah harapan terakhir ku setelah melakukan berbagai cara agar aku bisa memberikan anak untuk mas Dimas.
air mata yang membasahi pipi mengalir begitu saja. apakah ini ada pengaruh dari penyakit yang menggerogoti tubuh ku selama ini.
aku pikir setelah aku memberikan mas Dimas seorang anak, aku akan tenang disaat aku pergi nanti.
"Mas, maafkan aku!" aku bersujud di depan kaki mas Dimas yang masih terlihat bengong seperti patung tidak bernyawa.
aku mengerti perasaannya. aku mulai tidak bisa lagi mengendalikan diriku sendiri, aku meraung seperti tidak memiliki semangat hidup.
kenyataan pahit akhirnya harus ku telan kembali.
"Bu yang sabar!" ucap dokter Rima dan membatu diri ini bangkit.
__ADS_1
kulihat mas Dimas hanya terdiam dengan mata yang memerah. aku yakin dia juga pasti kecewa, atau lebih tepatnya yang paling kecewa.
kemudian mas Dimas menatap diri ini dan menyentuh kedua bahuku dan berkata. "Sudah ikhlaskan! mungkin ini yang terbaik." ucapnya dengan mata merahnya.
lalu iya membenamkan aku kedalam pelukannya. aku tersedu-sedu meratapi nasib ku.
"Sebaiknya Bu Maria langsung masuk ruangan saja ya, nanti di antar oleh perawat!" ucap dokter Rima.
kami pun menyetujui permintaan dokter Rima. setelahnya aku langsung mengantar Maria masuk keruangan untuk melakukan proses kuret. lebih cepat lebih baik!.
setelah sampai di ruang rawat Maria sudah siap dan lengkap dengan pakaian khas rumah sakit.
"Mas, maafkan aku!" kembali aku meminta maaf kepada suamiku.
kulihat Maria menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. bahu mulai bergetar hebat. aku tau ini amat sakit, tapi bukan dia saja aku pun sama. sebisa mungkin aku mengendalikan diriku agar tidak terlihat lemah.
aku segera menghubungi mama, aku tidak ingin mama marah kalau aku tidak memberi tahukan hal ini padanya.
"Halo ma!"
[Iya, Dimas, ada apa?] tanya mama.
"Ma, aku dan Maria ada dirumah sakit permata hati. tolong kemari!"
[Ada pa Dimas? apa terjadi sesuatu dengan Maria? jawab Dimas?!.] tanya mama dari seberang telpon.
__ADS_1
aku tidak menjawab pertanyaan mama, dan langsung ku matikan sepihak. tenggorokan ku rasanya tercekat untuk memberitahukan hal ini pada mama. dadaku rasanya sesak! sangat sesak!
berulang kali aku menarik nafas panjang dan ku hembuskan perlahan.
kulihat ada beberapa perawat masuk kedalam ruangan Maria, dan keluar membawa Maria yang duduk di kursi roda.
Maria menatapku. aku hanya bisa melihatnya dan terduduk lesu, apakah ini adalah sebuah hukuman untukku yaa Allah.
"Pak Dimas, di tunggu dokter Rima di ruangannya." ucap seorang perawat yang membangunkan aku dari lamunanku.
"Baik sus, saya segera kesana." jawabku cepat.
setelah itu aku langsung melangkah keruangan dokter Rima.
tok. tok. tok.
aku mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk kedalam ruangan dokter Rima.
"Masuk!" jawabnya dari dalam.
"Apa ada hal penting dok?!." tanya ku langsung.
"Begini pak, ibu Maria sudah memasuki stadium akhir!." ucap dokter Rima yang tidak aku mengerti sama sekali.
"Maksud dokter? saya tidak mengerti?" ucapku tidak mengerti dengan perkataannya.
__ADS_1