Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Banyak pertanyaan


__ADS_3

"Kamu darimana saja Dimas?" tanya mama berang pada diri ini.


aku memilih diam menatap Maria yang masih terlelap di atas ranjang akibat pengaruh obat mungkin? aku memilih duduk di sofa dan memejam mata.


"Dimas! bisa jawab pertanyaan mama?" tanya penuh kesal akibat aku abaikan.


"Dari bawah ma, ngobrol sama Amel" jawab ku jujur. sebab aku tidak pernah berbohong pada mama dari dulu.


"Istri kamu sakit disini! kamu malah asik-asikan berduaan dengan perempuan ular itu?!." sarkas mama.


"Ma--"


"Ingat ya Dimas, Maria istri mu! mayang juga belum ditemukan. jauhi wanita ular itu! Mama tidak suka." tekannya


otakku rasanya buntu tidak bisa berpikir dengan baik. aku sudah berusaha mencari Mayang tapi tidak bisa aku temukan.


"Ma, tolong hargai usaha Dimas! Dimas juga tertekan saat ini. tolong ma, kepala Dimas rasanya mau pecah. ini semua ulah kalian yang tidak samasekali menghargai ku. bahkan aku tau Maria sakit dari mulut orang lain.


"aku lelah ma, aku juga punya batas kesabaran. mama seolah menyalahkan ku! disini siapa yang salah? entahlah ku tak tau?" aku bangkit dari dudukku rasanya aku mulai tidak tahan dengan semua ini.


aku memilih pergi, mencari udara segar. baru juga masuk sudah dimarahi lebih baik aku keluar saja.


niat hati ingin istirahat, tapi mama malah di marah-marahi tidak jelas


harusnya disini yang marah itu aku bukan mereka. aku merasa telah dibohongi disini.


disaat aku keluar dari ruangan Maria aku segera menuju ke lift orang-orang menatap ku aneh. biarkan saja aku tidak perduli.

__ADS_1


malam kian larut, aku tiba di lantai bawah. kulihat ada Amel disana sedang berjalan kearah luar. mau kemana dia malam-malam begini?.


aku segera mempercepat langkahku hingga aku berlari kecil untuk mengejarnya.


"Amel!" panggil ku. kulihat Amel berhenti dan menoleh kebelakang.


"Dimas?" ucapnya


"Iya, mau kemana sudah malam begini?" tanyaku ingin tahu. sebab ini sudah larut malam


"Emm,, anu,,"


"Kemana?" tanya ku lagi menunggu jawaban darinya.


"Mau pulang dim, kebetulan mama di temani bibi" ucapku memberi tau.


"Boleh aku antar?" ucap Dimas. dengan binar mata Amel menatap Dimas.


"Boleh." ucapku tersipu malu.


lalu kami berjalan keluar tidak akan aku sia-siakan kesempatan ini. akan ku manfaatkan dengan baik agar Dimas masuk kedalam pelukanku. aku tidak ingin kehilangan dia lagi.


seorang Dimas Anggara pradipta seorang putra dari Pradipta yang kekayaannya tujuh turunan tidak akan habis hartanya.


"Mel, aku lapar kita makan dulu ya!" ajak ku. aku memang sangat lapar dari pagi perut belum terisi.


"Aku masakin dirumah, kamu mau gak dim?" tanya Amel penuh semangat.

__ADS_1


"Tentu aku mau mel, tapi apa aku tidak akan merepotkan mu? dan setahuku kamu...kan tidak bisa masak! maaf." ucapku. aku tidak ingin menyinggung perasaannya tapi aku tidak ingin merepotkan dia.


Amel tersenyum seraya berkata "Aku bukan lagi Amel yang dulu Dimas, aku sudah berubah. aku sudah bisa masak, tentu untuk persiapan jika punya suami nanti. aku tidak lagi sibuk untuk belajar memasak." ucapnya dengan senyum termanisnya.


"Lain kali saja mel, kita cari makan di luar saja ya!" tutur Dimas lembut takut Amel kecewa atas penolakannya.


"Baiklah jika itu mau mu, tidak masalah!" jawabnya.


kemudian Dimas mulai menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari halaman rumah sakit. Dimas mencari tempat makan dipinggir jalan teringat Mayang yang suka sekali makan makanan lesehan dipinggir jalan seperti ini. berharap bisa bertemu Mayang Dimas penuh semangat.


sampai ditempat yang Dimas tuju iya langsung memarkirkan mobil dipinggir jalan dan segera turun dari mobilnya.


"Kita makan disini?" tanya Amel. Dimas mengangguk. Dimas terkejut tatkala Amel mengapit lengannya dan menempelkan tubuhnya begitu intim.


mengingat Dimas harus bisa menjaga jarak. tapi Amel malah semakin dekat, Dimas terjebak situasi.


Dimas berusaha untuk melepaskan diri tapi Amel malah dengan kuat memegang lengannya.


tanpa mereka sadari sepasang mata sejak tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. ada emosi yang meluap-luap yang ingin iya luapkan saat itu juga, tapi iya tahan dan memilih pergi dari sana.


akhirnya Dimas dan Mayang masuk kedalam tenda untuk memesan makanan yang ingin mereka makan.


"Pak, nasi bebek goreng satu!" ucap Dimas dengan seorang penjual itu.


"Aku samain aja dim!" sambung Amel kemudian.


"Sejak kapan kamu doyan bebek goreng?" tanya Dimas. Amel tersenyum seraya berkata.

__ADS_1


"Sejak kamu ninggalin aku. itu sebagai bentuk pengobat rinduku pada mu Dimas. maaf!" ucap Amel penuh sesal.


Dimas terdiam, benar-benar Amel sudah banyk berubah saat ini. tidak seperti Amel yang dulu yang egois dan sangat manja. Amel sekarang terlihat mandiri.


__ADS_2