Gairah Adik Istriku

Gairah Adik Istriku
Malam pertama


__ADS_3

sejak kepergian Dimas dan Mayang masuk kedalam kamar Maria hanya terpaku di tempat.


Maria tidak bergerak tidak pula menangis, Maria hanya mampu meratapi yang telah ia perbuat terhadap suami dan juga adiknya Mayang.


"Bu, sebaiknya kita masuk kedalam kamar." ajak bin Ning namun maria seolah tidak mendengarkan panggilan Bik Ning.


"Ayo Bu." ajak bik Ning lagi. Maria tersadar dari lamunannya tatkala Bik Ning menyentuh bahunya.


Maria langsung menghambur kedalam pelukan bik Ning. Bik Ning memapah Maria untuk berjalan.


Maria yang di papah Bik Ning membawa Bik Ning turun kelantai bawah.


"Kita mau kemana Bu?." tanya bik Ning sedikit heran. mengingat kamar Maria bukan di lantai bawah.


Maria tidak menjawab pertanyaan Bik Ning, Bik Ning hanya manut saja.


air mata Maria mencolos begitu saja tanpa dikomando.


"Bu, kok kita ke kamar bibi?" tanya Bing keheranan dan menatap Maria.


"Bik, biarkan aku tidur di kamar bibi malam ini" ujar Maria dengan sesegukan.


wanita paruh baya itu pun mengangguk setuju. jujur hati Bik Ning juga tidak tega melihat Maria seolah sangat terluka tapi apa daya dia tidak mampu berbuat apa-apa.

__ADS_1


setelah sampai di dalam kamar bik ning Maria segera merebahkan diri menyadarkan kepalanya di pangkuan buk Ning. maria masih berderai air matanya.


Maria hanya diam di dalam keheningan malam, matanya tidak dapat untuk terpejam. Maria memandangi langit-langit kamar yang gelap.


"Bi, jika waktunya tiba. tolong jaga mas Dimas dan Mayang ya!" pinta Maria pada Bik Ning.


Bik Ning hanya mampu menangis haru dan mengelus rambut Maria dengan sayang. Bik Ning Sudah menganggap Maria seperti anak sendiri begitu juga dengan Maria.


"Tolong ya Bik, jangan biarkan Mayang bersedih suatu hari nanti. aku sudah sangat menyakitinya." ujar Mayang Bik Ning mengangguk kepala.


Bik Ning merasa sangat bersedih atas ucapan Maria, Bik Ning tidak bisa menahan lagi dirinya untuk tidak menangis. hingga tangis keduanya pecah dan saling berpelukan.


☘️☘️☘️


setelah tiba di dalam kamar, Mayang langsung menutup pintu dengan kasar. Mayang melewati Dimas begitu saja yang masih terpaku di tempatnya semula.


Mayang tidak lagi menangis, namun nafasnya masih naik turun belum teratur dengan normal.


Mayang yang kesusahan membuka kancing bajunya yang ada di belakang.


Dimas hanya menunduk, "Mas!" panggil Mayang. Dimas pun langsung menatap kearah Mayang.


"Bantuin." pinta Mayang yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Dimas.

__ADS_1


Mayang membalik badan agar punggungnya bisa menghadap Dimas.


tanpa rasa canggung Dimas pun mengangkat kedua tangannya. Dimas yang tidak fokus mulai menggerakkan tangganya.


"Stop!" pinta Mayang. dan membuat Dimas tersadar.


"Tutup matanya mas!." pinta mayang.


tanpa banyak membantah Dimas mulai melakukan membuka resleting baju Mayang. dengan tangan kanan di bagian atas dan tangan kiri di bagia bawah.


perlahan Dimas mulai menarik resleting baju Mayang dan, "Sudah. tidak perlu sampa dibawah." pinta mayang.


Mayang pun berlalu dan meraih handuk yang tergantung di jemuran handuk.


Dimas hanya mampu menatap punggung Mayang yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu.


Dimas masih larut dalam pikirannya sendiri. andai ini tidak terjadi mungkin tidak akan serumit ini.


jika Maria tidak bersih keras memintanya untuk berpoligami mungkin rumah tangganya tidak akan kacau seperti ini.


hingga Dimas tersadar dengan suara pintu yang di buka.


ceklek..

__ADS_1


Mayang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat sebatas dada dan panjang di atas lutut.


Dimas dan Mayang sama-sama terkejut hingga pandangan mereka bertemu untuk sesat.


__ADS_2