
"Ma, mas Dimas mana, ma?." tanya Maria lesu.
mama Dina segera bangkit dan menghampiri Maria yang terbaring lemas.
"Mama juga tidak tau mar!" jawabnya lembut.
"Kamu mau apa? bilang sama mama ya!" ucap Bu Dina. Maria tersenyum dan meraih tangan mama mertuanya.
"Maria cuma ingin bertemu Mayang ma. maria takut jika waktunya tiba, Maria belum minta maaf dan memberikan penjelasan pada Mayang alasan Maria menikahkannya dengan mas Dimas." ucapnya penuh kecewa.
"Kamu yang sabar, mama yakin kamu pasti sembuh!"
"Tapi, Maria tidak yakin ma, dada Maria kian sesak dan sakit. untuk saat ini masih bisa Maria tahan!"
"Kamu jangan bicara begitu ya mar, mama yakin kamu pasti sembuh. kalau perlu kita keluar negeri saja untuk melakukan pengobatan. yang penting kamu sembuh!"
"Tidak perlu ma, cukup disini saja. tidak usah jauh-jauh, kalau memang Maria bisa sembuh disini juga Pasti bisa sembuh kan?. tidak perlu kemana-mana!" ucapnya dengan lesu.
kulihat Maria makin menurun kesehatannya. wajahnya kian layu tidak lagi terlihat segar.
"Mama yakin, Maria wanita hebat, wanita yang kuat. mama harap, Maria jangan putus asa ya."
__ADS_1
Maria tersenyum dan menitikkan air mata. air mata bahagia, bersyukur iya memiliki ibu mertua yang sangat sayang padanya.
"jangan menangis mar, kamu bisa melewati ini semua!" ucap mama menyakinkan aku.
jujur aku tidak sekuat yang mereka bayangkan. harus bertahan merasakan kesakitan ini sendiri. mengeluh juga tidak berguna. mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
jadi lebih baik aku pendam sendiri, dari pada membuat orang kepikiran tentang aku yang menyusahkan ini.
dada ku mulai sesak, nafasku rasanya amat berat, yaa Allah untuk memanggil mama saja tidak bisa.
aku berusaha memanggil mama, tapi tidak bisa. ku melambai-lambaikan tangan agar mama melihatku. namun ternyata mama sudah tertidur pulas di sofa.
aku harus mencari cara, nafas ku kian sempit rasanya. dan aku terpaksa menjatuhkan gelas di atas nakas, agar mama terbangun dari tidurnya. "maafkan aku ma!" jerit ku dalam hati.
kulihat Mama segera keluar untuk mencari bantuan dokter.
tak lama mama masuk dengan dokter dan beberapa perawat.
"Siapkan oksigen sus!" ucap dokter Arif. dan suster segera menyiapkan.
lalu dokter segera memasangkan oksigen itu padaku. dada ku sangat sakit rasanya. hanya Allah yang tau apa yang aku rasakan saat ini "Mayang!" lirihku.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan anak saya dok?!." tanya bu dina.
"Ini biasa terjadi Bu, ketika pasien sudah menjalani stadium akhir. biasanya terdapat cairan di bagian paru-paru pada pasien!" tutur dokter Arif lembut.
"Lantas apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Bu Dina lagi.
"Sebaiknya kita lakukan ronsen terlebih dahulu untuk memastikan! setelah hasilnya keluar baru kita lalukan tindakan. dan tinggal minta persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan tindakan selanjutnya!" ucap dokter Arif lagi.
yaa Allah mengapa harus begini, apa ini? Dimas. Dimas juga malah pergi.
aku menatap Maria iba, kasihan dia. tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. tanpa aku sadari aku meneteskan air mata. pasti saat ini dia sangat tersiksa, aku saja tidak tega melihatnya kesulitan untuk menarik nafas.
aku keluar dari ruangan guna untuk menelpon Dimas. Dimas dimana dia saat ini?
ku tekan tombol berwarna hijau dan terhubung.
"Dimas, kesini sekarang! Maria makin parah keadaannya" setelah itu aku matikan telepon ku secara sepihak.
tanpa menunggu jawaban dari Dimas anakku. aku tidak ingin berdebat dengannya, yang ada dia tidak akan datang kalau aku memarahinya.
setelah itu aku masuk kembali keruangan Maria. pada saat aku berjalan, kulihat Maria sudah tergeletak.
__ADS_1
"Maria...!" pekik ku lantang. aku segera memanggil dokter dan suster.