
akhirnya aku bisa memiliki Dimas seutuhnya malam ini, tidak akan aku sia-siakan kesempatan emas ini. aku yang lebih agresif darinya dan memulainya lagi. hingga akhirnya aku terkulai lemas.
kamar ini menjadi saksi bisu penyatuan kami. aku kembali memeluk Dimas, dengan mata yang masih terpejam.
☘️☘️☘️
"aa...." teriakku ketika aku tersadar dari tidurku.
"Kamu? kamu ngapain disini? ngapain kamu dikamar ku?."
aku memukulnya dengan kedua tanganku dengan semua kemampuan yang aku punya, sekuat tenagaku.
"Bukankah, kau yang memintaku untuk membantumu? setelah aku membantumu kau bertanya padaku? hebat sandiwara mu! tidak masalah permainan mu semalam sangat membuatku puas!" ucapnya dengan jumawa.
kulihat kami memang sama-sama tidak memakai pakaian, bahkan kami berada satu ranjang dan satu selimut.
aku menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.
"Tidak perlu malu, aku sudah melihat semuanya tadi malam." cibir damar mengejekku.
aku membuang muka tidak suka, bodohnya aku. aku mengutuk kecerobohan ku, bukan ini yang aku mau.
"Sayang, aku ingin mengulanginya!" ucap damar dan langsung menyerang ku begitu saja.
apakah ini yang dinamakan senjata makan tuannya. kini damar yang menguasai aku. sebab kartuku sudah berada ditangannya.
☘️☘️☘️
kulihat jam sudah ada di angka 10 pagi. setelah aku terbangun dari tidurku aku mengantikan mama untuk mengurus Maria dan di bantu oleh suster untuk membersihkan tubuhnya.
mama aku suruh untuk pulang, aku tidak ingin dia kelelahan akibat menjaga Maria disini. sebenarnya mama menolak tapi aku memaksa.
"Sayang, makan dulu ya?" pintaku dan menyodorkan satu sendok yang sudah berisikan bubur dari pihak rumah sakit.
__ADS_1
namun Maria menggeleng dan malah menangis. jujur hatiku sakit melihatnya seperti ini, keadaanya kian memburuk. aku menyesal telah meninggalkan kemarin.
"Kamu mau apa?" tanyaku ketika iya menatap lekat kearah ku.
"Ma-yang, ma-s." ucapnya terbata.
segera kupeluk dirinya, mungkinkah iya ingin aku melanjutkan untuk mencari Mayang.
"Mas, akan mencari Mayang untuk mu! mas janji" ucapku ketika iya berada dalam pelukanku.
air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang mulai tirus dan berkeriput sangking kurusnya.
ku usap berulangkali air bening itu yang membasahi pipinya.
"sudah jangan menangis!" ucapku menenangkannya. "makanya ya, demi Mayang." lanjut ku lagi.
kulihat Maria membuka mulutnya, walau hanya sedikit terbuka. ternyata Mayang sangat berpengaruh untuk semangat hidupnya.
aku harus segera menemukan Mayang, bagai manapun caranya. "harus!" ucapku dalam hati.
sudah tiga bulan Mayang menghilang, dan tanpa jejak sedikitpun. aku kesulitan untuk menemukan keberadaanya.
entah dimana dia saat ini. apakah dia baik-baik saja diluar sana tanpa adanya kamu bersamanya.
setelah selesai menyuapi Maria aku ingin mencari makan di kantin rumah sakit.
☘️☘️☘️
pada saat aku membaringkan Maria di sandaran ranjang tiba-tiba Amel datang dan langsung memelukku dari belakang.
aku terkejut atas perbuatanya aku segera menepis tangannya, aku tidak ingin membuat Maria makin terluka.
"Kamu apa-apaan Mel?" berang ku kesal. aku tidak ingin memperburuk keadaan Maria dengan hadirnya Amel disini.
__ADS_1
kulihat Amel menangis, aku tidak tau apa penyebabnya. yang jelas wanita itu menangis pilu.
aku tidak menghiraukannya, terserah aku lebih mementingkan Maria. kulihat Maria menatap Amel dengan tatapan tidak suka.
"Mel, lebih baik kamu pergi dari sini!" usir ku, aku tidak mau Maria berpikiran buruk tentang ku.
"Tidak mau,!" ucapnya disela Isak tangisnya yang aku tidak tau apa penyebabnya.
"Mel, istriku sedang sakit. jangan membuat keributan disini!" tegas ku padanya. tapi Amel tetap pada pendiriannya.
aku menghela nafas panjang kemudian aku hembuskan perlahan. aku duduk disamping Maria dengan kursi yang ada disamping ranjangnya.
"Dimas, ini semua olah mu!" ucap Amel terbata akibat ulah tangisnya.
"Apa maksudmu?" tanyaku tidak suka. sebab aku tidak melakukan apapun padanya.
"Kamu harus bertanggung jawab!" ucapnya dengan suara sedikit purau akibat tangisnya.
"Jangan ngaco kamu!" cibirku jengah, datang-datang nangis main peluk orang seenak jidatnya. memangnya dia pikir dia siapa.
ku tatap Maria, Maria menatapku penuh tanya. seolah meminta penjelasan dariku. apa yang harus aku jelaskan? masalahnya aku tidak melakukan kesalahan apapun.
"Mas!" ucap Maria.
segera ku sambangi istriku. aku tidak ingin dia salah faham padaku.
"Iya sayang!" ucapku ketika aku sudah berada disampingnya.
"Dimas, kamu harus bertanggung jawab! ini semua salahmu!" tudingnya padaku.
lama-lama aku juga menjadi kesal dibuatnya aku segera bangkit dari dudukku. dan ku seret Amel keluar dari ruangan maria.
"Apa mau, hemm" tanya ku dengan gigi yang rapat. "Ingat! jangan mentang-mentang aku sudah mau memaafkan mu kamu mau mulai menuduhku yang tidak-tidak! siapa kamu?" gertak ku. aku menjadi sangat geram padanya.
__ADS_1
"Tanggung jawab padaku! semalam kamu sudah meniduri ku!" pekiknya dengan suara sedikit tinggi.
"Jangan gila kamu."ucapku dan memilih pergi meninggalkan Amel sendiri.